Mahesa dan “Amplifier” Gitar Rasa Indonesia
Kompas Senin, 7 Juli 2008 | 03:00 WIB - INGKI RINALDI
Di tengah perilaku konsumen yang mendewakan produk luar negeri, Mahesa seakan tak lelah menciptakan amplifier gitar rasa Indonesia. Ia membuat produk berkualitas dengan harga relatif terjangkau. Itu dimulai ketika ia menghadiri sebuah acara wisuda. Orang yang memberi sambutan waktu itu menyebutkan, jumlah sarjana sudah banyak. Oleh karena itu, diperlukan orang yang punya keunggulan.
Ketika itu Mahesa tengah menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir. Dia tinggalkan kuliah dan mulai mencoba membuat usaha sendiri. Ia tak pernah menyesali keputusan meninggalkan tahap akhir kuliahnya tersebut.
”Saya merasa banyak orang dicuci otaknya oleh sistem pendidikan yang sebenarnya hanya bisnis. Dulu, sebagian mahasiswa bikin skripsi sendiri, eh yang lulus malah mereka yang membeli skripsi. Kualitas seperti itu kok diluluskan,” katanya.
Jalan yang dipilihnya tersebut telah memberi dia dan keluarganya kehidupan yang relatif layak. Dari hasil membuat amplifier gitar, dia bisa membeli mobil dan punya beberapa usaha lain, seperti warnet.
Amplifier gitar bas merek Mahesa Khazmir Custom pertama lahir dari tangannya pada 2004. Produk itu dihargai Rp 600.000. ”Pembelinya tetangga saya dan sampai sekarang amplifier itu bunyinya masih bagus,” kata Mahesa, yang memberikan garansi satu tahun plus kemudahan akses untuk perbaikan dan penggantian suku cadang.
Dia membuat amplifier berdasarkan permintaan. Harganya meningkat seiring dengan kenaikan harga bahan baku, Rp 3 juta-Rp 4 juta. Dalam sebulan ia bisa mengerjakan sekitar 10 unit. Mahesa belum berani berproduksi massal dengan melibatkan banyak tenaga kerja. Kendalanya pada modal dan konsistensi kualitas produk.
Mahesa berani mengadu kualitas amplifier bikinannya dengan produk-produk sejenis ternama. Ia juga memberi jaminan layanan purnajual. Maka, sejumlah studio musik dan pemilik bisnis sewa peralatan musik di sekitar Kota Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, memilih produknya.
Meskipun kemampuan produksinya terbatas, Mahesa tetap berusaha mencari pasar lebih luas. Selain promosi dari mulut ke mulut, ia juga memakai jasa internet. Dia juga rajin menginformasikan agar orang menghargai produk dalam negeri yang sebenarnya mampu bersaing dengan merek asing.
Dia merasa percaya diri sebab selama bertahun-tahun punya pengalaman menjadi spesialis pendemo alat-alat musik. Tak jarang ia menemukan ”cacat” dan kekurangan pada produk impor tersebut.
”Sebagian produk impor itu menyimpan cacat. Itulah yang saya coba untuk tidak terjadi pada produk saya. Hal penting itu kualitas karena saya juga pemain gitar,” kata Mahesa.
Dia mencontohkan, amplifier bermerek dunia, saat dimasukkan jack ke lubang, ampli masih menimbulkan efek dengung yang sebenarnya tak perlu ada. ”Bagi telinga orang awam, dengung itu tidak kedengaran, tetapi untuk seorang musisi, hal tersebut mengganggu,” ujarnya tentang amplifier impor yang berharga relatif mahal.
Spesialis pendemo
Jalan hidup Mahesa, anak pertama dari dua bersaudara ini, berubah saat ia menghadiri acara wisuda istrinya di Universitas Dr Soetomo, Surabaya. Saat itu ia adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, angkatan 1993. Ia tengah menggarap skripsi. Ia terenyak mendengar pidato acara wisuda yang intinya menyebutkan, jumlah sarjana sudah banyak. Oleh karena itu, orang harus punya keunggulan dalam kehidupan ini.
Awal pertautan Mahesa dengan alat musik adalah saat ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler elektro semasa belajar di SMPN 1 Taman, Sidoarjo. Dia suka main gitar dan berkhayal punya gitar listrik yang bisa ”membius” orang.
Orangtua membelikannya gitar listrik. Namun, dia tak puas karena ”raungan” gitarnya tak punya efek suara seperti yang diinginkan. Mahesa lalu mencari ”guru” yang lebih mumpuni di kios-kios elektronik yang tersebar di Pasar Genteng, Surabaya. Di pasar itu dia sering menghabiskan waktu untuk memahami lebih jauh seluk-beluknya.
”Pertama kali saya bikin pre-amp untuk gitar bas tahun 1990, dan saya jual Rp 15.000. Sebagai perbandingan, waktu itu di pasaran Fender Jazz Bass Deluxe dijual Rp 2 juta per unit,” kenangnya.
Kecintaannya pada gitar terus berlanjut. Di Music Exhibition di Plasa Tunjungan tahun 1994, ia menjadi tenaga pemasaran untuk aplikasi efek dan informasi produk. Setelah itu dia keterusan menjadi tenaga spesialis pendemo berbagai alat musik.
Ketika amplifier gitar dan bas merek Laney masuk ke Surabaya, Mahesa pula yang menjadi pendemo produk itu. Begitu juga dengan merek lain, seperti amplifier Trace Elliot, gitar Washburn, dan jajaran efek gitar Rocktron, DigiTech, hingga Korg. Tahun 2000 ia juga terlibat pada acara demo produk bersama drummer Cendi Luntungan dan penyanyi Syaharani.
”Waktu itu saya mendemokan amplifier dan efek gitar Rocktron. Terakhir, saya melakukan demo produk di Solo tahun 2006,” ceritanya dengan penuh semangat.
Ketika banyak orang muda bersusah payah untuk masuk perguruan tinggi demi meraih gelar sarjana, Mahesa justru memilih meninggalkan bangku kuliah. Ia tak lagi ”silau” pada gelar. Dia memilih menjadi wiraswasta, tanpa gelar sarjana. Sejauh ini ia tetap konsisten dengan pilihan itu.
Hubungan ”Khusus”
Mahesa dan Led Zeppelin, kelompok musik rock legendaris asal Inggris itu, seperti ditakdirkan punya ”hubungan khusus” sejak awal. Tahun 1975 lagu berjudul Kashmir, yang termasuk dalam album bertitel Physical Graffiti, dirilis Led Zeppelin.
Pada tahun itu pula, tepatnya 14 November 1975, Mahesa dilahirkan di Sidoarjo sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Dan 23 tahun kemudian Mahesa mendengar lagu itu dinyanyikan lagi oleh rapper asal Amerika Serikat, Puff Daddy (atau P Diddy alias Sean John Combs) saat menonton film Godzilla yang dirilis pada 1998.
Itulah alasan Mahesa mengapa dia memutuskan memberi nama produknya dengan label Mahesa Khazmir Custom.
”Waktu itu saya dengar lagu tersebut dinyanyikan lagi oleh Puff Daddy, ternyata asyik juga. Selain itu, biar orang menjadi penasaran ha-ha-ha,” kata Mahesa tentang amplifier produknya yang awalnya diberi merek Mahesa by Khazmir Custom tersebut. (INK)
BIODATA
Nama: Mahesa
Lahir: Sidoarjo, Jawa Timur, 14 November 1975
Pendidikan:
- SD Negeri 1, Ketegan, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur
- SMP Negeri 1, Taman, Sidoarjo
- SMA St Louis 1, Surabaya, Jawa Timur
- Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, angkatan 1993, tidak selesai
Istri: Yenni Prasetyaningrum (30)
Nama Anak: Catherine Morgan (5)






0 Tanggapan ke ““Amplifier” Indonesia”