Mengoptimalkan Pendayagunaan Potensi Desa
Oleh : Abdurrachman Adimihardja
Sebagai suatu negara agraris yang besar, Indonesia memiliki lebih dari 70.000 ribu desa, yang semuanya memiliki tinggi dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi wilayah pertanian produktif. Potensi yang utama adalah sumberdaya lahan, air, iklim, manusia, dan sosial budaya.
Patut disyukuri bahwa Indonesia diberkahi dengan lahan yang sangat luas, sekitar 190 juta hektar, dan yang sesuai untuk budidaya pertanian mencapai luas 100,8 juta hektar. Selain itu, sumberdaya air melimpah ruah terutama di musim hujan, yang seyogyanya dapat digunakan untuk irigasi pertanian sepanjang tahun, apabila dikelola dengan efisien.
Namun, kenyataan membuktikan bahwa di Pulau Jawa maupun di pulau-pulau di luar Jawa, masih terdapat desa-desa miskin, yang potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya masih terpendam, belum didayagunakan secara optimal.
Mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani dan buruh tani, yang sangat berpengalaman dan mahir menghasilkan bahan pangan, hortikultura, bahan obat-obatan, hasil perkebunan, dan sebagainya. Namun sayang sekali, pada umumnya masyarakat tani tersebut kurang berkembang kesejahteraannya, karena terkendala oleh kondisi sosial ekonomi yang relatif rendah.
Dalam rangka mengatasi permasalahan rumit tersebut di atas, Departemen Pertanian meluncurkan program Prima Tani, yaitu suatu konsep baru pembangunan pertanian yang bersifat “bottom up”, yang pada saat ini masih berbentuk rintisan, guna mempercepat pemasyarakatan inovasi pertanian. Pendekatannya adalah mengoptimalkan pendayagunaan potensi desa secara partisipatif, bukan komando ataupun “top down”.
Program ini dirancang pada tahun 2004, kemudian pada tahun 2005/2006 diterapkan di 33 lokasi. Pada tahun 2007 mendatang, sesuai instruksi Menteri Pertanian, Prima Tani akan diimplementasikan di 200 kabupaten di 31 provinsi. Dibandingkan dengan total desa yang sangat banyak, seperti disebutkan di atas (>70.000 buah), maka lokasi Prima Tani sebanyak 201 desa di 200 kabupaten masih dianggap terlalu sedikit, kurang dari 0,003 persen. Namun ke depan, setelah model pembangunan pertanian ini berhasil dan dikenal oleh masyarakat luas, diharapkan desa/kabupaten lainpun akan tergugah untuk mengikuti percontohan ini.
Pada langkah awal, seluruh potensi (sumberdaya alam dan sumberdaya manusia) dari setiap desa calon lokasi Prima Tani diidentifikasi dan dipahami sebaik mungkin melalui suatu survei dengan menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal). Survei ini dilaksanakan oleh para peneliti dan penyuluh, yang bekerjasama dengan masyarakat setempat, aparat pemerintah (kabupaten dan desa), dan pelaku agribisnis pedesaan lainnya. Disamping itu, potensi sumberdaya lahan dan air secara khusus diidentifikasi dengan survey terpisah oleh para ahli tanah, ahli hidrologi dan ahli klimatologi. Pada langkah selanjutnmya, data/informasi hasil survei tersebut, ditambah dengan data dan informasi sekunder yang relevan, kemudian digunakan sebagai bahan dasar untuk penyusunan Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis atau dapat disebut juga calon
Desa Agroindustri. Dengan demikian, Rancang Bangun memuat berbagai rencana kegiatan untuk mendayagunakan potensi desa secara optimal, untuk meningkatkan pendapatan petani, serta melestarikan sistem pertanian dan lingkungan hidup. Rancang Bangun ini merupakan pedoman bagi para pelaksana Prima Tani, dan juga bagi pelaksana monitoring dan evaluasi.
Potensi desa tersebut akan terus digali dan didayagunakan secara bertahap untuk kemakmuran masyarakat. Pada akhir tahun 2009, diharapkan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) sudah dapat berjalan, didukung oleh Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID), yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.
Abdurrachman Adimihardja Penulis dari BBP2TP, Bogor Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 6 Desember 2006





0 Tanggapan ke “Mengoptimalkan Desa”