15
Jul
08

Desa Kelola Air

BANYAK sumber mata air di Kabupaten Kuningan, yang dikelola oleh Pemerintah Desa. Contohnya di Desa Seda dan Desa Trijaya Kecamatan Mandirancan, dua desa itu sama-sama memiliki sumber air yang dikenal mata air Cigorowong.Secara kebetulan lokasi mata air itu berada di lahan yang merupakan perbatasan dua desa tersebut. Sumber air Cigorowong manfaatnya bukan saja dirasakan masayarakat Desa Seda dan Trijaya, karena disalurkan ke desa lainnya seperti Desa Kertawinangun, Tajurbuntu dan Desa Pancalang Kecamatan Pancalang. Secara teknis, sumber air itu dikelola oleh masing-masing desa yang memanfaatkannya. Desa Seda dan Trijaya hanya mendapat kompensasi dari tiga desa itu sebesar Rp 1,5 juta per tahun. Dana sebesar itu dibagi dua. Artinya masing-masing medapat Rp 750 ribu per tahun. Kerjasama itu telah dilakukan sejak tahun 2002, yang telah melahirkan hubungan yang harmonis. Karena di sisi lain tiga desa yang memanfaatkan air itu memang sangat membutuhkan air bersih. Sedangkan Desa Trijaya dan Desa Seda merasa diuntungkan dengan adanya kompensasi air dari tiga desa tersebut. “Sayang sumber air ini bila tidak dimanfaatkan, sementara masyarakat lain kesulitan air,” kata Sekretaris Desa Seda, Wiharta. Seiring dengan adanya beberapa perubahan Peraturan Desa (Perdes) di Desa Seda, maka pihak Pemerintah Desa Seda dan Desa Trijaya sepakat untuk mengajukan permohonan kepada tiga desa itu agar konvensasi air bersih naik. Ketiga desa yang mendapat pasokan air bersih itu pun tidak merasa keberatan, sehingga pada tahun 2007 membuat kesepakatan bersama yang difasilitasi Camat Mandirancan. Menurut Wiharta, masyarakat Desa Seda pun ada diantaranya yang memanfaatkan air bersih dari mata air Cigorowong, yakni di Blok Agungsari 75 Kepala Keluarga (KK) dan Blok Puspasari 25 KK. Sementara masyarakat di blok lainnya seperti di Blok Dayeuh memanfaatkain air dari mata air Ciayakan yang lokasinya berdekatan dengan perkampungan penduduk Desa Seda. Air itu dialirkan melalui pipa plalstik (palaron) melalui bak penampung yang selanjutnya disalurkan dengan pipa kecil ke tiap rumah. Kendati belum dikelola oleh lembaga khusus yang menangani air bersih di desa itu, namun masyarakat membayar dana iuran sebesar Rp 1.000. Dan itu dikelola desa untuk dana operasional, rehabilitasi hutan termasuk bila terjadi kerusakan pada pipa air. “Bahkan masyarakat setempat pun membayar iuran secara khusus Rp 5.000 setiap KK untuk membeli mesin penyedot air yang memerlukan daya listrik 1.300 Watt,” imbuh Wiharta. Mesin tersebut biasanya digunakan ketika mengalami musim kemarau. Kini pemerintah Desa Seda telah merancang tentang tata cara pengeloaan air bersih dan sudah dituangkan dalam Perdes. Dengan adanya pengeloaan air khusus di Desa Seda, diharapkan bukan saja dapat menutupi biaya operasional, namun diharapkan pula membantu Pendapatan Asli Desa sehingga menunjang pembangunan di semua sektor.
Tata kelola air versi Desa Seda ini seharusnya menjadi pelajaran bagi Kota Cirebon dan Kuningan dalam menyelesaikan konflik air Cipaniis.(BC-33)
(sumberhttp://www.beritacerbon.com)

0 Tanggapan ke “Desa Kelola Air”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




Tamu Kami Sejak Juni 2008

  • 19,877 Saudara
Google Groups
Relawandesa
Kunjungi grup ini
Miliki website sendiri dengan web hosting dan domain gratis di IdeBagus

Arsip