Grobogan, Kompas – Pertanian garam di kompleks obyek wisata Bleduk Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terancam punah. Hal itu karena jumlah petani garam kian berkurang. Padahal potensi, harga, dan permintaan garam di lokasi itu lebih bagus dibandingkan garam tambak.
Solikin (78), petani garam Bleduk Kuwu, Sabtu (5/4), mengatakan, dua tahun terakhir ini puluhan petani garam meninggalkan lokasi pertanian satu per satu. Mereka tidak mampu lagi bekerja karena sudah berusia senja.
Pada 2006, petani garam di obyek wisata Bleduk Kuwu berjumlah sekitar 10 orang. April 2008, petani garam yang bertahan tinggal tiga orang.
“Anak-anak kami tidak mau bekerja sebagai petani garam. Mereka lebih memilih bekerja di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang,” kata Solikhin yang bertani garam sejak 1947.
Warga Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan, itu juga berencana menutup lahan pertanian garam jika sudah tidak kuat lagi bekerja. Pasalnya, anak-anak dan saudara-saudaranya enggan bekerja sebagai petani garam.
Kondisi serupa juga dialami Ladiman (68), warga Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan. Sanak saudaranya lebih memilih bekerja di Jakarta dan Semarang ketimbang melanjutkan pekerjaannya. Ia sangat menyayangkan keadaan itu.
Menurut Ladiman, selama lumpur Bleduk Kuwu masih aktif, produksi garam akan terus berlanjut. Setiap minggu, produksi rata-rata petani garam Kuwu mencapai 50 kilogram.
“Harga satu kilogram garam Kuwu adalah Rp 2.000. Harga itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga garam tambak yang Rp 1.000 per kilogram,” kata dia.
Seminggu sekali, kata Ladiman, para pengepul garam membeli garam ke para petani. Kemudian, para pengepul itu memasarkannya ke sejumlah kota, seperti Semarang, Sragen, Blora, Cepu, dan Surabaya.
Sabtu siang, sejumlah petani garam mulai beraktivitas kembali setelah tiga bulan terakhir tidak bekerja karena sering hujan. Mereka mengalirkan air lumpur Kuwu ke kolam penampung lantas memasukkan air itu ke klakah, yaitu cetakan garam yang terbuat dari belahan bambu.
“Jumlah produksi garam masih belum maksimal karena proses pengeringan mengalami kendala. Hujan menyebabkan pengeringan lebih lama. Biasanya dalam satu minggu kami memperoleh 50 kilogram garam, sekarang hanya 20-30 kilogram,” kata Solikhin. (HEN)
(kompas.com Senin, 7 April 2008 | 15:40 WIB)





0 Tanggapan ke “Petani Garam Punah”