04
Agu
08

Gamelan di Jepang

Di Jepang Gamelan Masuk Desa

Sepanjang perjalanan dari Osaka University sampai ke desa Tenki-Tenki wilayah Tango, 150 km arah pantai Barat Daya kota Osaka, mengalun suara gamelan dari rekaman komersial Lokananta, yaitu alunan empuk dari bu Supadmi dan kawan-kawan dalam Bedhayan Mijil Dempel, yang mampu menggiring penulis sampai pada suatu imaji penyajian srimpi nan lembut di pendapa kraton Kasunanan Surakarta. Apalagi ditambah dengan adanya hamparan sawah sepanjang jalan, terasa lengkap dalam

memporakporandakan dimensi alam sadar penulis, yang sekejap merasakannya justru sebagai seorang pemandu yang sedang mengantarkan wisatawan Jepang menuju suatu lokasi di daerah wisata budaya di pedesaan. Ini terjadi karena yang terdengar di dalam mobil itu pembicaraan ramai dalam bahasa Jepang bak peristiwa turunnya para pesilat dari gunung untuk melaksanakan darma atas nama perguruannya dalam cerita silat.

Namun suatu saat “wisatawan” inipun menghentak dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar; malah di antaranya mengakui bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa kedua mereka. Di antaranya adalah Keiko-san, Kanei-san, dan Sayuki-san. Dua yang terakhir pernah belajar tari Jawa di Yogyakarta, sedang Keiko-san banyak bergelut dengan masalah sindenan, baik Jawa maupun Sunda. Pada kenyataannya justru merekalah pemandunya yang kadang-kadang memecah lamunan penulis di atas, dan menjelaskan berbagai legenda yang mewarnai daerah yang akan dijamah oleh kelompok gamelan mereka yang bernama Dharma Budaya pimpinan Prof. Nakagawa Shin pada tanggal 18 September 1994 yang lalu.

Kelompok ini adalah gabungan dari berbagai dosen dan guru dari berbagai wilayah di Osaka, Kobe, dan Kyoto. Mereka banyak yang sudah pernah pergi ke Jawa untuk belajar gamelan dengan masing-masing waditra spesialisasinya. Konon kelompok ini sudah berumur sekitar 15 tahun, dan sangat aktif sekali mengadakan pertunjukan karawitan dan tari, baik tradisi maupun garapan baru. Kali ini, dalam program mereka Gamelan Masuk Desa, ditampilkan beberapa materi dalam tiga paket pertunjukan yang diedit secara bergantian, antara lain: Sinom Parijotho, Pangkur, Time’s Up (Karya Baru), Golek Lambangsari (Gagrag Mangkunegaran), dan Pamungkas. Kekenyalan kelompok ini terlihat sekilas dalam menangani pengepakan seperangkat gamelan slendro/pelog yang bisa siap pakai atau sebaliknya siap angkut dalam durasi waktu tidak kurang dari 30 menit saja. Tidak ada tenaga kasar yang disewa untuk maksud ini. Yang disewa adalah truk barang yang mempunyai kapasitas untuk memuat sejumlah gamelan tersebut.

Gamelan berada di desa adalah sesuatu yang biasa di kalangan masyarakat pendukungnya. Lihat wayangan semalam suntuk ataupun klenengan yang diadakan di berbagai pelosok desa di Jawa ataupun bahkan di luar Jawa, nampaknya tidak memiliki keanehan. Justru akhir-akhir ini kota-kota besar di Indonesia nampak memang cukup marak juga dengan berbagai pertunjukan wayang kulit dengan harga karcis yang cukup tinggi; bahkan kadang-kadang menjadi bagian dari upaya penggalian dana suatu yayasan tertentu. Bias itu akan lebih terasa bila gamelan itu dicabut dari konteks masyarakat pendukungnya yang kemudian biasa dipentaskan dengan gaya pementasan dan kepenontonan Barat. Berbagai Concert Hall di kota-kota universitas di Midwest Amerika Serikat sekalipun misalnya, pernah dijamah dengan klenengan gamelan (Untuk menyebut beberapa nama,Hill Auditorium, Ann Arbor, Michigan; Humanities Building di Madison, Wisconsin, dsb.).

Pada kesempatan di atas, gamelan betul-betul dibawa ke kota pantai terpencil dan dipentaskan dalam dua macam atmosfer panggung yang berbeda. Yang pertama di sebuah gedung yang lebih tepat disebut gedung serbaguna di kota Taizan, Tango yang berada tepat di pinggir pantai. Yang kedua di sebuah alam terbuka di desa Tenki-Tenki, di lereng sebuah bukit di antara hamparan sawah dan diapit oleh dua buah replika rumah ilalang yang dipakai sebagai tempat tinggal masyarakat setempat sekitar 2000 tahun yang silam.

Pada pertunjukan di gedung serbaguna di atas, dilakukan pula sekilas workshop gamelan Jawa, dengan contoh permainan masing-masing waditranya. Di antara penonton ada yang sangat ingin tahu apakah musisinya ada yang dari Indonesia. Secara sigap Prof. Nakagawa sebagai pembicara memanggil, Ochima, penulis dan Yamasaki. Masingmasing ditanya dalam bahasa Indonesia. Ochima mengaku berasal dari Solo dan Yamasaki dari Osaka. Maka oleh sang Profesor disebutkan bahwa yang dari Indonesia ada dua, yaitu penulis dan Ochima (tanpa menyebut nama). Maka penonton pun mengangguk puas, dan seluruh musisi tersenyum dalam berbagai aras misteri makna.

Pertunjukan ini sendiri mulai pada jam 13:00 dan begitu pertunjukan berakhir pada sekitar jam 14:15, seluruh musisi bergerak mengepak gamelan ke atas truk dan membawanya ke desa Tenki-Tenki yang hanya berjarak sekitar 5 menit dengan mobil (kotanya memang sangat kecil).

Pertunjukan kedua dimulai pada jam 16:00 dan diawali dengan tarian anak-anak tradisional desa Tenki-Tenki. Dengan menggunakan sekitar 30 buah mikrofon dan sejumlah speaker ribuan watt “buatan dalam negeri” dengan penanganannya secara profesional, alunan suara rebab dan pesindennya terasa wajar dan mampu menyatu serta luluh dengan alam di sekitarnya. Ditimpa dengan berbagai waditra dengan teknik dan penghayatan yang intens, alunan polyphonic yang terungkap dalam kagunan karawitan ini dirasakan mampu menyelusup di antara semak belukar yang “diantisipasi” dengan bunyi gesekan daun-daun padi yang bulirnya hampir mulai menguning, seakan-akan berlomba dengan dinamika alam yang segera akan merontokkan daun-daun yang tak mampu bertahan dalam musim rontok. Suara gemerisik ini makin terasa pada pertunjukan kedua yaitu jam 19:00 malam harinya.

Bunyi cengkerik mengerik melengkapi respons alam terhadap gendhing dan tarian yang tersaji, seakan-akan ikut mengiringi tari Golek Lambangsari yang ditarikan oleh Sayuki dengan lembut, anggun, dan penuh intensitas energi. Juga dengan tari Pamungkas yang ditarikan oleh Komiko, terlihat adanya ketenangan dan harmoni dalam iringan Ketawang Rangsang Tuban, dinikmati oleh penontonnya dalam aroma ilalang yang segar dan jauh dari hiruk-pikuk dan pencemaran udara yang cenderung melanda kota-kota besar dewasa ini. Para penonton ini duduk di rerumputan dengan dialasi karpet, menonton dalam gaya kepenontonan yang sangat santai. Pertunjukan malam hari ini diawali dengan rampak bedug setempat, yang mengingatkan kita dengan rampak bedug Pandeglang.

Dari pertunjukan di atas bisa dipetik banyak hal kaitannya dengan kecenderungan penyelenggaraannya di alam nan jauh dari kesibukan kota. Salah satunya adalah munculnya kegelisahan dari masyarakat desa yang ditinggal oleh kaum muda umur angkatan kerja ke kota besar. Desa terasa menjadi sepi, sehingga butuh proporsi perhatian dari kaum mudanya untuk menyemarakkan desa tempat tinggalnya. Di antaranya adalah, juga sekaligus dalam rangka memperingati 1200 tahun kota Kyoto, diselenggarakan pertunjukan yang mereka anggap spektakuler dalam gaung sajian tradisi. Salah satunya adalah gamelan, yang dewasa ini sudah mulai terasa jamahan globalnya. Unikum yang dimilikinya mampu menjaring orang-orang yang gila musik untuk menggelutinya, sehingga ada yang secara sepaling/ ekstrem tidak lagi memikirkan kehidupan pribadinya.

Itu yang terjadi salah satunya pada kelompok Dharma Budaya yang dari duapuluh-an anggotanya baru satu saja yang sudah kawin. Karena kegiatan mereka kebanyakan guru, alias kebanyakan tanpa kegiatan lembur, mereka masih bisa berkumpul untuk latihan dan memprogram pertunjukan-pertunjukan lain di masa yang akan datang. Bulan Oktober ini saja sudah ada dua pertunjukan besar menunggu, yaitu di Hiroshima dan Yamaguchi.

Semangat pertunjukannya bisa dilihat sebagai semangat kebutuhan ritus bagi masingmasing anggotanya, yang lekat dengan kerja profesional. Mungkin ini sangat cocok dengan konsep estetika musik warisan masa lalunya, yaitu antara lain, Wa-Kei-Sei-Jaku yang kira-kira berarti harmony-respect-pureness-quietness. Keempat aspek ini nampaknya sangat cocok kaitannya dengan integrasi alam, bukan semata-mata untuk menaklukkannya, namun juga mengupayakannya selaras dengan keutuhan lingkungannya, dalam keheningan alam untuk perenungan nilai-nilai hakiki dari kehidupan ini.

KOMPAS, 9 Oktober 1994


0 Tanggapan ke “Gamelan di Jepang”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




Tamu Kami Sejak Juni 2008

  • 35,218 Saudara
Google Groups
Relawandesa
Kunjungi grup ini

Arsip