Desa Bagendit Garut: Profil Swadaya masyarakat dalam membangun lingkungan dan permukiman sehat
Bagi masyarakat Jawa Barat apalagi yang gemar berwisata mendengarnama Situ Begendit tentu tidak asing lagi.Mengapa tidak , Desa Situ Bagendit atau lebih dikenal dengan desa Bagendit, berada tepat sebelah barat kota Garut lebih kurang 60 km dari kota Bandung atau sekitar satu setengah jam perjalanan.
Desa yang berpenduduk 4.373 jiwa menjadi salahsatu lokasi yang seringdikunjungi sebagai obyek wisata.Disana ada situ (danau) yang cukup menawan dengan hamparan permukaan air yang tenang beriak-riak mengundang pesona tersendiri bagi yang memandangnya .Konon dahulu situ ini berasal sebuah hamparan kebun luas milik Nyi Endit yang terendam air dan sekarang menjadi situ. Bagaimana proses dan kapan peristiwa itu terjadi, banyak legenda yang beredar dimasyarakatnya.
Bagendit bukan saja danaunya yang mempesona dan menawan, namun ada yang tidak kalah menarik dan luput dari perhatian banyak orang yaitu kebiasaan masyarakat desa dalam menjaga budaya dan nilai-nilai agama., khususnya dalam menata lingkungan perumahan dan permukiman.
Melalui penerapan nilai-nilai luhur budaya yang sesuai dengan tuntunan agama,mereka telah berhasil melakukan sesuatu karya nyata bukan sekedar wacana dalam membangun rumah dan lingkungan sehat yang sederhana . Sungguh patut untuk diteladani. Sekarang bahkan bukan hanya pembanguan rumah Sehat dan Sederhana telah dirintis sejak lama, lebih dari itu sekarang mereka telah memiliki dan memulai program pembangunan Sumber Daya Manusia yang terencana bagi yang kurang mampu.
Apabila dalam strategi pembangunan perumahan dan permukiman dikenal pola tridaya yaitu pemberdayaan lingkungan,pemberdayaan ekonomi dan pemberdayaan manusia agaknya itulah yang sudah sejak dulu dilakukannya.Bayangkan untuk ukuran sebuah desa bagendit untuk perbaikan rumah bagi warga yang kurang mampu mereka telah mengumpulkan dan menghasilkan dana tidak kurang dari Rp 415 juta,bahkan diluar itu telah mampu membangun SD dimana sebelumnya jarak kesekolah SD saja berkilo-kilo meter.
Yang dapAt dicatat bahwa pertama semua adalah upaya mulia ,penuh harga diri dan tindakan yang bermartabat diantara banyak komunitas masyarakat yang hanya bisa menengadahkan tangan dan mengiba kepada fihak lain yang tidak patut dimintai terlebih kepada pemerintah sekalipun .Kedua hasil karya ini buah dari kepedulian seluruh masyarakat bagendit baik yang dikampung maupun dikota kepada sesama saudaranya.Ketiga adalah buah karya dari fihak yang terpanggil menguruskan baik mengkoordinasikan maupun memfasilitasinya .
Masyarakat disini membangun dengan kemampuan dirinya sendiri,tanpa publikasi, tanpa upacara gunting pita .Inilah mutiara dan mutiara inilah yang semakin langka ditengah bangsa kita .Masyarakat berbagi peran mulai perencanaan sampai pelaksanaan dan pengawasan kegiatannya.Ada yang menarik yaitu peran pemerintah desa benar-benar sebagai koordinator dan fasilitator disana ada DKM, ada Pemuda Deas ada masyarakat umum .
Kemandirian sebuah komunitas. Luar biasa.!
Banyak yang mereka cita-citakan tapi merekapun tahu keterbatasan.Adakah fihak lain yang peduli,simpati dan apresiasi kepada upaya mereka ?.Adakah sesuatu yang patut diberikan pada mereka oleh fihak yang patut memberikannya? Entahlah.
Untuk mengenal lebih jauh berikut sebuah wawancara koresponden Proses dengan Lurah Desa Bagendit Yayan Sofian Arif, Drs. di Garut, hari Selasa lalu, tanggal 8 Juni 2004 sebagai salah satu ‘motor’ dari gerakan ini.
Apa ide dasar dari gerakan pembangunan swadaya masyarakat ini?
Sebenarnya ide dasar ini berawal dari budaya masyarakat yang terealisasi dalam bentuk kegiatan untuk bersama memperbaiki rumah-rumah masyarakat terutama yang tidak mampu, jadi sasarannya beberapa rumah yang telah dilaksanakan di antaranya, rumah orang tua yang jompo, proses awalnya dilakukan beberapa kali musyawarah dengan warga langkah keduanya mencari sumber-sumber biaya, tidak terbatas dari bentuk keuangan tapi bisa berbentuk barang, yang punya bambu dapat ngasih bambu, gaduh kanggo konsumsi masihan konsumsi, jadi teu kabates. Lalu dalam merekrut tenaga kerja, khususnya para tukang juga mencari bersama-sama warga. Pembanyaran atau biasa dikenal dengan upah kerja tukang, diberlakukan sistem sukarela, misalnya untuk kerja selama sepuluh hari, tujuh hari kerja sukarela dan tiga hari kerja dibayar setengahnya.
Sebenarnya apa yang melatar belakangi kegiatan ini, apakah sebatas faktor budaya saja?
Memang hal ini yang menjadi keprihatinan kita, pertama tingkat kemampuan masyarakat yang merata di tingkat rendah. Jadi seumpanya membangun sebuah rumah dengan kemampuan sendiri itu kesulitan, lalu ditokoh masyarakat membuat satu kegiatan yang intinya menyadarkan warga dalam mengurangi daerah-daerah yang kumuh yang kemudian dibuatkan rumah yang baru dengan usaha gotong royong yang telah membudaya di desa ini.
Alhamdulillah perhatian masyarakat akan masalah ini sangat kuat, walaupun pengaruh budaya materialistis cukup besar, tapi oleh pihak desa dan tokoh masyarakat diupayakan mempertahankan budaya ini, teras dikaitkan dengan kondisi ekonomi sekarang ini yang kian terpuruk, kalau kita bersifat individual untuk menyediakan sarana dan prasana umum ini mungkin menjadi kesulitan yang besar. Hasilnya sudah terlaksana dengan baik, bahkan dalam satu tahun telah dapat dibangun empat rumah hasil swadaya masyarakat.
Siapa saja tokoh penggeraknya?
Dalam gerakan ini panitia intinya adalah Dewan Keluarga Masjid (DKM), Ketua Rukun Warga (RW) dan Lurah sebagai pengatur koordinasi antar RW, karena pusat kegiatan itu berada di warga, jadi posisi Lurah hanya melancarkan kegiatan saja. Di sini pun kita mencoba mengajak kaum muda yang disadari mereka tidak mempunyai kepedulian pada desanya. Namun semenjak gerakan ini dimulai, kaum muda sudah dapat diarahkan perhatiannya, terutama dua bulan terakhir ini diarahkan ke bidang pendidikan. Orang-orang yang mempunyai potensi kepintaran dan mau sukses dalam belajar, sementara kemampuan orang tuanya tidak ada, maka dengan swadaya masyarakat ini dibantu. Alhamdulillah, dari tiga RW yang mengadakan program ini terdapat 500 pemuda siap di sekolahkan dari tingkat SD sampai SMU. Sumber dananya di dapat dari pengumpulan masyarakat yang ada di kota besar, seperti Jakarta dan Bandung untuk menyumbang yang di koordinir oleh DKM masing-masing yang disimpan di Baitul Maal.
Sebenarnya ada berapa program yang dicanangkan oleh masyarakat? Lalu ditujukan pada siapa program tersebut?
Melihat perkembangannya, jenis program ini banyak sekali, ada program pembangunan dan perbaikan rumah, Mandi Cuci Kakus (MCK), pembanguanan sarana ibadah dan pendidikan agama, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Fasilitas umum lainnya seperti, pembangunan, SD, bahkan ada satu SD, yaitu SD Bantarjati yang dibangun oleh setengah desa pada tahun 1972-1973, kemudian dihibahkan pada pemerintah tahun 1978 supaya dijadikan sekolah negeri, padahal SD itu dibangun dari swadaya gotong royong masyarakat. Misalnya, program pembangunan rumah, itu penentuan siapa yang menerimanya melalui musyawarah, tentunya bagi yang tidak mampu. Namun, harus juga mau, terkadang kita harus menjaga pula perasaan orang yang akan dibantu, kalau-kalau ia merasa terhinakan di lingkungan keluarga dengan cara memusyawarahkan dengan pihak keluarganya. Alhamdulillah seumpanya ada respon baik maka musyawarah di tingkat RW diadakan. Jadi tidak langsung melihat rumah yang kumuh langsung menjadi sasaran kegiatan, harus ada musyawarah dengan pihak keluarganya. Selain itu, yang berhak menerima progam ini adalah orang yang cacat.
Sejauh ini apa saja keberhasilan yang dicapai?
Tentunya keberhasilan yang kami lihat pertama adalah keberhasilan mempertahankan budaya ini yang secara penyediaan sarana fisik di tiap RW sejak tujuh tahun telah terasakan manfaatnya. Misalnya untuk pembangunan di tahun ini ada dua RW yang sedang bergerak, yaitu pembangunan sarana ibadah dengan total rencana biaya sebesar 415 juta. Untuk biaya dan pengerjaan pembangunan ini tidak dibebankan pada RW yang sedang membangun, tapi seluruh RW ikut membantu.
Apakah ada bantuan dari pemerintah? Atau masyarakat yang membantu pemerintah?
Ha..ha..ha… Untuk bantuan dari pemerintah dalam bentuk apapun itu belum ada, program ini 100% swadaya murni masyarakat. Namun, kami sangat mengharapkan adanya bantuan berupa penyadaran pada masyarakat luas tentang pentingnya mempertahankan budaya gotong royong, karena disadari masalah yang dihadapi masyarakat semuanya sama dan begitu pula sasaran pembangunannya. Tentunya ajaran agama (Islam) mengajarkan bahwa tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah.
Bagaimana Bapak menjelaskan program ini dapat terealisasi dengan baik?
Kalau kita mengikuti sejak awal pencanangan program ini, tentunya sudah sangat lama. Saya ingat ketika masih kecil suka mengikuti dalam acara gotong royong, kalau membuat pasir kebetulan sumber utamanya dari kali Cimanuk, dan bila menghitung jarak desa dengan sumber batu itu sangat jauh dan rutenya berat. Tapi Subhanalloh dari anak kecil sampai orang tua itu ketika sudah dihimbau oleh tokohnya mereka siap sedia berkorban.
Apa Obsesi Bapak sebagai pemimpin Desa ketika melihat keberhasilan ini?
Mungkin untuk sekarang minimal bisa mempertahankan budaya ini yang sudah terbukti besar sekali manfaatnya. Maksimalnya, bisa membuat satu regenerasi yang juga memiliki semangat dan budaya yang sama dengan jenis tantangan yang berbeda. Tentunya ini perlu strategi dan tahapan yang terencana. Dalam dua bulan ini saya beserta masyarakat di satu dusun yang terdiri dari tiga RW, telah mencoba membuat satu pembinaan melalui pendidikan anak asuh, walaupun yang diasuhnya masih memiliki kaitan darah. Alhamdulillah melalui program percobaan ini sedikitnya sudah dapat memberikan harapan terhadap apa yang masyarakat cita-citakan. Sampai saat ini sudah ada 20 anak asuh yang siap menginjak Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Yang diharapkan adalah, cacak orang tuana nu tipayun nu heunteu di tunjang ku sarana prasarana tiasa maju, tapi naha ari barudak ayeuna nu geus ditunjang sagalana piraku sabalikna.***
(Hen/Proses/JUNI 2004)





0 Tanggapan ke “KARYA ANAK DESA”