RSS

Permainan Tradisi “Bentengan” dalam CD

16 Apr

Edy M Ya’kub [ kompas.com Jumat, 3 April 2009 | 19:12 WIB ] “Sudah 1,5 tahunan saya enggak main bentengan,” kata siswa kelas IV SDN Semolowaru II, Surabaya, Xaviee Muhammad Yanuar Martias.

Siswa berusia 11 tahun itu mengaku senang ketika sejumlah mahasiswa ITS Surabaya mendatangi sekolahnya dengan program “Bentengan Go To School” lewat CD (compact disk).

“Senang sekali karena saya pernah menang dan rekan-rekan kampung yang kalah harus menggendong saya,” kata siswa dari kampung Semolowaru gang II, Surabaya itu.

Xaviee adalah salah satu dari siswa SD yang menerima sosialisasi “bentengan” dari tim mahasiswa Teknik Kimia ITS Surabaya (21 Maret).

“Kami mengenalkan kembali bentengan karena permainan tradisional itu memiliki 12 jenis ‘soft skills’, di antaranya saling tolong menolong, kerja sama, penyusunan strategi, keahlian manajerial atau kepemimpinan, kejujuran (sportivitas), dan sosialisasi dengan teman,” kata Koordinator Tim Mahasiswa ITS, Zia Ardhi.

Pengenalan permainan itu dilakukan Tim Mahasiswa Teknik Kimia ITS Surabaya lewat CD. Tayangan games bentengan lewat komputer itu membuat sekitar 100 siswa lebih mudah memahami permainan tradisional itu.

Bahkan, ketika praktik lapangan, di halaman sekolah terlihat 50 siswa SD Semolowaru I dan 50 siswa SD Semolowaru II tampak bersemangat dalam dua tim pemain bentengan yang saling bersaing.

“Kami mengenalkan permainan tradisional itu melalui ‘Bentengan Go To School’ kepada enam SD di Surabaya sebagai tahap awal,” katanya.

Dalam sosialisasi bentengan yang dilakukan itu, katanya, diketahui ada beberapa anak yang tidak mengenal permainan tradisional itu.

“Itu akibat maraknya permainan moderen lewat komputer karena itu kami mengenalkan bentengan lewat games komputer,” katanya.

Setelah itu, katanya, pihaknya akan menggelar “Bentengan Competition” bagi pelajar SD yang sudah menerima sosialisasi pada 12 April mendatang.

“Kami sudah mengajukan dana kepada Dirjen Dikti Depdiknas tentang permainan softskill training berbasis multimedia education itu dalam bentuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” katanya.

Dirjen Dikti Depdiknas sudah menyetujui untuk mendanai pelatihan permainan tradisional bentengan berbasis multimedia dan praktik lapangan itu dengan dana sebesar Rp 5,9 juta. “Kami juga ingin membawa ke pimnas (pekan ilmiah mahasiswa tingkat nasional),” katanya.

Pudar

Tidak hanya siswa, guru pun senang dengan program “Bentengan Go To School” itu.

Misalnya, guru kelas V SD Semolowaru II, Kholilah, yang mengaku sangat senang dengan tawaran mahasiswa untuk mengenalkan permainan tradisional bentengan kepada anak didiknya.

“Kami akhirnya memberi waktu pada jam pelajaran Pramuka. Kami senang sekali karena tawaran rekan-rekan mahasiswa itu akan mengenalkan kembali bentengan kepada anak didik kami yang mungkin ada sebagian yang sudah tak mengenalnya karena pudar dengan permainan modern,” katanya.

Namun, katanya, anak didiknya tampak suka dengan permainan bentengan itu, meski mayoritas mereka sudah mengenalnya di kampung karena mereka sekarang diajari tentang aturan main bentengan yang benar.

“Dengan begitu, mereka lebih mengenal permainan bentengan secara benar dan kami harapkan mereka akan mengenalkan kepada rekan-rekannya di kampung,” katanya.

Hal itu dibenarkan Koordinator Tim Mahasiswa ITS, Zia Ardhi. “Kami mengenalkan bentengan dengan aturan main yang benar kepada siswa SD Semolowaru I dan II, SD Al-Muttaqin, SD Hang Tuah, SD Al-Uswah, dan SDN Kapasari I,” katanya.

Menurut dia, ada banyak aturan main dalam permainan tradisional bentengan. Namun, permainan bentengan yang standar memang memiliki raja, menteri, beberapa prajurit, dan tiang atau pohon yang dianggap sebagai benteng pertahanan.

“Prajurit harus menyerang dan bila tersentuh prajurit lawan, maka akan menjadi tawanan. Tawanan itu harus dibebaskan karena, bila prajurit yang biasanya berjumlah empat anak itu tertawan semua, maka akan berarti kalah,” katanya.

Selain itu, bila raja atau menteri ikut keluar dan tersentuh (kena serangan) oleh raja atau menteri dari lawan, maka juga berarti kalah.

“Aturan mainnya, raja dapat menyerang raja dari lawan, menteri, dan prajurit, tapi menteri hanya dapat menyerang menteri lawan dan prajurit, sedangkan penyerangan terhadap raja tidak boleh. Kalau prajurit hanya dapat menyerang sesama prajurit,” katanya.

Kemenangan juga dapat diraih bila prajurit lawan dapat memegang atau menduduki benteng dari lawan yang ditinggalkan para prajurit, meski dijaga raja dan menteri.

“Semuanya ada dalam CD sehingga semua siswa SD akan dapat mempelajarinya sendiri dan mempraktikkan bersama rekan-rekannya,” katanya.

Dalam satu permainan tradisional itu, ada 12 jenis soft skills yang dapat diambil manfaatnya, yakni tolong menolong, kerja sama, penyusunan strategi, keahlian manajerial atau kepemimpinan, kejujuran (sportivitas), dan sosialisasi dengan teman.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2009 in S O S E K

 

Tag: ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: