RSS

Pelukis Wajah, Magnet Pesona Kota Tua

14 Jul

[ republika.co.id Senin, 15 Juni 2009 pukul 11:50:00 ] JAKARTA– Sejarah merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari sebuah kota. Peninggalannya justru bisa menjadi daya tarik sebuah kota bagi para wisatawan, termasuk Jakarta. Selain menjadi ibu kota negara, kota yang dulunya disebut dengan Batavia itu, juga menjadi cagar budaya dan wisata kota tua.

Bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung, Kota Jakarta menjadi pusat perdagangan internasional. Hingga sekarang Kota Jakarta tetap menjadi kota sibuk, padat yang beragam.

Keunikan Jakarta terdapat pada sejarah dan kota tuanya. Bagian dari kota Jakarta yang sudah berusia ratusan tahun ini menawarkan pemandangan yang mengagumkan. Bangunan tua bersejarah, kawasan pecinan, pengojek ontel, kuliner tempo dulu dan museum.

Salah satu pemandangan yang pasti akan tertangka oleh mata para pengunjung adalah jejeran pelukis wajah. Mereka layaknya bagian penghias kota tua Jakarta, bertempat di emperan toko yang sebagian besar pemiliknya adalah warga turunan Tionghoa.

Hasyim (48) adalah salah seorang pelukis yang telah menggeluti lukis wajah selama 16 tahun di Kota Tua. Dia dan teman-temannya merupakan pelaku seni di sepanjang jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Barat.

“Pelukis wajah di sini menjadi komunitas seni kota Jakarta. Keberadaan kami juga menjadi suguhan menarik bagi para pelancong,” ungkap Hasyim sambil terus jari-jarinya menyempurnakan sketsa wajah.

Selain berseni, mereka mengakui, kota Jakarta dengan pesona kota tuanya menjadi sandaran hidup mereka. Meski melukis menjadi sarana penyaluran jiwa seni, Hasyim pun menegaskan hasil karya seninya memiliki nilai komersil. “Saya harus mendapatkan penghasilan dan melukis bisa menjadi pekerjaan saya,” tuturnya.

Untuk keperluan melukis, kelompok pelukis itu menggunakan alat yang sederhana. Kayu penyangga, pewarna dengan konte betang dan serbuk, kertas, dan tentunya foto yang menjadi obyek lukisan. Raka Suhendra (28) adalah salah satu pendatang baru di kawasan ini.

Raka memilih meninggalkan pekerjaan sebagai pelukis di salah satu hotel di Jakarta dan menjadi pelukis wajah di pinggir jalan. “Berseni memang kebebasan, tidak terikat oleh apapun atau siapapun,” ungkap Raka.

Meski seperti halnya Hasyim, Raka juga mengakui bahwa seni lukis wajah akhirnya tak hanya sekedar hobi tapi juga pekerjaan. Komersil katanya. Dengan mematok 400 ribu rupiah perwajah, Raka bisa mengantongi duit hingga 2 juta setiap bulannya.

Apapun latar belakang mereka, keberadaan para pelukis wajah di pelataran toko-toko cina seperti Hasyim, Raka, Yanto Magrib, Tendy dan lainnya menjadi magnet yang bisa menambah pesona historis kota tua Jakarta sebagai aset budaya. (cr1/rin)

About these ads
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 14, 2009 in CINTA & BANGGA INDONESIA

 

Tag: , ,

3 responses to “Pelukis Wajah, Magnet Pesona Kota Tua

  1. Hasim

    Juli 15, 2009 at 3:58 pm

    Salam kenal and gabung nikmati Blog cerita karya seni

     
  2. bisma

    Mei 27, 2010 at 8:42 am

    sya mau minta tolong kepada teman teman, dimana klau mau beli peralatan lukis Konte dan kertas padalarang di bogor

     
  3. julianto

    November 22, 2010 at 2:46 pm

    dimana wadah bagi pelukis” konte nih…????

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 352 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: