
Arsip dari penulis : suryo
Ambrosius Harto Manumoyoso [ kompas.com, 11 September 2009 ] Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah mengharumkan komunitas Dayak Wehea sampai ke tingkat nasional dan internasional. Sukses itu sebenarnya tidak terlepas dari kegigihan Ledjie Taq, Kepala Adat Desa Nehas Liah Bing, untuk mengangkat kehormatan dan martabat warga Wehea. Komunitas Wehea diyakini sebagai pemukim awal di antara warga Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Desa Nehas Liah Bing diakui kalangan Wehea sebagai desa tertua di antara enam desa komunitas itu di Muara Wahau. Di desa itulah Ledjie Taq mengabdikan hidupnya sebagai guru sekolah dasar, peladang, kepala adat, suami Valensia Lenyie, serta bapak dari satu anak laki- laki dan tiga anak perempuan. Lanjutkan membaca ‘Ledjie Taq, Penggerak Komunitas Wehea’
Mulyawan Karim [ kompas.com, 2 September 2009 ] Selasa, 1 September ini, sejarawan Prof Dr Adrian Bernard Lapian genap berusia 80 tahun. Dalam usia senja, lelaki ini masih berbicara dengan jelas dan runut. Ia mampu mencari sendiri di rak bukunya beberapa pustaka dan majalah yang pernah memuat tulisan tentang dirinya. Salah satunya, Itinerario, jurnal sejarah maritim Belanda, yang lima tahun lalu memuat hasil wawancara dengannya. Lanjutkan membaca ‘Lapian, 80 Tahun Nakhoda Sejarah Kelautan’
[ kompas.com Minggu, 13 September 2009] Banyak peluang usaha yang berserakan di sekitar kita. Cerita tentang limbah jadi harta melimpah sudah banyak kita dengar. Tetapi dari sekian banyak potensi itu tulisan ini akan bicara tentang potensi luar biasa dari kelinci. Jangan dibayangkan kelinci yang dimaksud adalah kelinci kampung yang kurus-kurus dan hidup dipelihara petani secara tradisional, melainkan kelinci jenis impor yang memiliki beragam jenis tubuh; mulai yang kerdil (berbobot 7 ons) hingga kelinci jumbo (berbobot 6-8 Kg). Sekarang ini di Indonesia sudah banyak ragam jenis kelinci asing yang berkembang. Sebagian untuk piaraan (hobies) sebagaian untuk tujuan penghasil daging berkualitas. Lanjutkan membaca ‘Peluang Investasi Orang Kota, Peluang Usaha Orang Desa’
[ kompas.com Sabtu, 12 September 2009 ] Hak pengusahaan perairan pesisir (HP3) disayang, tetapi juga ditentang. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara atau AMAN mendesak pemerintah agar segera melaksanakan UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Bagi mereka, UU tersebut melindungi kepentingan masyarakat adat karena mengakui hak masyarakat adat atas perairan pesisir sebagai HP3 (Deklarasi Sinar Resmi, Sukabumi, 8 Agustus 2009). Sebaliknya, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) justru meminta agar UU No 27/2007 dicabut karena mengapling laut dan menggusur nelayan (Kompas, 21 Agustus 2009). Lanjutkan membaca ‘Mengapling Laut Menggusur Nelayan?’
FX LAKSANA AGUNG [ kompas.com Sabtu, 5 September 2009 | 03:14 WIB ] PASURUAN, Masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo, Jawa Timur, Jumat melaksanakan upacara “piodalan” di Pura Luhur Kahyangan, Poten di lautan pasir kaldera Gunung Bromo. Upacara piodalan merupakan upacara ulang tahun Pura Luhur Kahyangan di Poten yang dilaksanakan bertepatan dengan purnama Kasada berdasar hitungan kalender Tengger. Lanjutkan membaca ‘Masyarakat Tengger di Bromo Laksanakan Upacara “Piodalan”’
[ kompas.com Senin, 27 Juli 2009 | 18:07 WIB ] MEDAN, Kesultanan Serdang yang terletak di wilayah Sumatera Utara (Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai) meluncurkan buku konvensi adat budaya Melayu Serdang. Konvensi adat yang pertama kali diterbit kan ini diluncurkan dalam acara Perhelatan Agung ke-2 Adat Kesultanan Negeri Serdang di Medan, Senin (27/7) malam. “Kami meluncurkan buku ini untuk menyelamatkan aset budaya Melayu Serdang. Semua hasil konvensi adat kami daftarkan untuk mendapat pengesahan dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia,” tutur Kepala Adat Kesultanan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, saat ditemui. Lanjutkan membaca ‘Konvensi Adat Serdang Diluncurkan’
WINARTO HERUSANSONO [ kompas.com Jumat, 4 September 2009 | 01:46 WIB ] Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan Islam hingga ke Sumatera. Lanjutkan membaca ‘Samsuri, Seniman “Kentrung” Demak’
ENY PRIHTIYANI [ kompas.com Jumat, 11 September 2009 | 02:18 WIB ] MEDAN, Batik Indonesia yang merupakan peninggalan warisan budaya di negeri ini tidak hanya dikenal di Asia dan Eropa, tetapi diharapkan lebih dihargai di seluruh dunia. “Batik yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi itu harus tetap dipertahankan sepanjang masa,” kata Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Dr Hj. Chalida Fachruddin, MA, di Medan, Kamis. Lanjutkan membaca ‘Batik Indonesia Diharapkan Lebih Dihargai Dunia’
[ruanghati.com 2009 September 4 ] Seoarang petani dari Cina bernama Gao Xianzhang selama enam tahun lebih mengadakan eksperimen membentuk buah pear agar bisa berbentuk sesuai dengan yang kita kehendaki, Gao menggunakan semacam cetakan yang terbuat dari plastik yang sudah dibentuk sesuai kehendak kita itu. Lanjutkan membaca ‘Buah Pear Unik Berbentuk Bayi Budha’
[ inilah.com 04/09/2009 - 11:18] Garut – Guncangan gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala richter yang terjadi pada Rabu (2/9) telah meluluhlantakkan sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk Garut. Namun, seluruh rumah adat Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, 125 km arah selatan Garut justru masih utuh.
Camat Cikelet, Rifan, menyebutkan di wilayahnya ada 1.561 rumah rusak berat dan 1.623 rusak ringan. Namun, dari 10 ha perkampungan adat yang ada di Kampung Dukuh semuanya selamat. Terdiri dari 1 ha merupakan Dukuh Dalam, tujuh hektare Dukuh Luar, serta sisanya areal makam Karomah, serta lahan produksi. Lanjutkan membaca ‘Wih! Rumah Adat Garut Tahan Gempa’
[ ANTARA News Rabu, 2 September 2009 20:26 WIB] Solo – Ahli waris pencipta lagu “Terang Bulan”, Aden Bahri, mengungkapkan, Presiden Soekarno meminta ayahnya, Saiful Bahri, untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” kepada Malaysia. “Mantan Presiden Soekarno meminta penyerahan lagu itu pada awal 1960-an,” kata Aden Bahri di Solo, Jateng, Rabu.
Hal tersebut, lanjutnya, dikuatkan berdasarkan keterangan salah seorang saksi kejadian tersebut yang juga merupakan teman satu grup ayahnya di Orkes Studio Djakarta, Soebroto. Lanjutkan membaca ‘Soekarno Minta “Terang Bulan” Diserahkan ke Malaysia’
![]()
Kutim, Kaltim – Maraknya budaya luar yang masuk ke Indonesia sampai ke pelosok desa akibat pengaruh globalisasi, bukan berarti budaya daerah lantas ditinggalkan. Masih cukup banyak kalangan masyarakat yang tetap mencintai, menjaga, dan melestarikan kebudayaan daerah dimaksud. “Kebudayaan daerah termasuk di Kutim sangat beragam. Keberadaan budaya daerah itu memiliki peran penting dan mampu mencegah kemerosotan moral anak bangsa. Kemudian mampu menjalin ikatan yang kuat bagi kesatuan dan persatuan bangsa,” kata Bupati Isran Noor. Lanjutkan membaca ‘Long Segar Layak Jadi Desa Budaya’
Deden Gunawan – [ detiknews.com Jumat, 21/08/2009 17:34 WIB ] Jakarta - Lahan seluas lapangan bulutangkis itu kini hanya tinggal puing-puing. Dulu di lahan tersebut berdiri sebuah musala yang diberi nama An-Najat. Di musala itu KH. Abdullah memberikan pengajian kepada murid-muridnya, sejak tahun 1950-an. Lanjutkan membaca ‘Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh’
[ sinarharapan.co.id Jumat 21. of Agustus 2009 18:07 ] Semarang – Rangkaian kegiatan Dugderan Kota Semarang di antaranya senam massal 5.000 orang, festival dolanan bocah, pergelaran tari warak dugder, hingga karnaval dugderan 2009, seluruhnya mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Masyarakat ikut serta dalam sejumlah kegiatan serta ikut menyemarakan tradisi dugderan yang diselenggarakan setiap tahun menjelang puasa di Lapangan Simpanglima Semarang, Jumat (21/8). . Lanjutkan membaca ‘Warga Semarang Sambut Tradisi Dugderan’





Kata Tamu