Arsip untuk Kategori 'PEREMPUAN'

20
Mar
09

Hukum Rimba

hong hong kumiyani Di tepi hutan suatu saat saya menemukan seekor binatang, ( saya kira ia seekor anak kucing kecil ), terperosok di lubang, terluka parah di sekujur tubuhnya. Atas alasan kemanusiaan dan hati yang gampang tergugah, saya ambil binatang kecil itu dan kemudian merawatnya. Setelah binatang tersebut sembuh , ia berkata bahwa ia bukan kucing, ia anak singa yang tersesat…..

Atas pengakuan jati diri tersebut, saya kemudian meyakini dan terus meyakini bahwa ia adalah seekor anak singa. Lanjutkan membaca ‘Hukum Rimba’

09
Jan
09

Pucung Maju,koperasi wanita tani

[PUCUNGMAJU] ~ Desa Pucung adalah sebuah desa yang terpencil di Jawa Tengah. Lokasinya berbatasan langsung dengan tiga kecamatan yang berbeda, Kecamatan Bancak, Kecamatan Suruh, dan Kecamatan Pabelan. Namun, secara ekonomi desa Pucung ini justru bergantung pada Kodya Salatiga bukan pada Ungaran, ibukota kabupatennya. Terpencilnya desa ini membuat perkembangan desa tidak seperti desa-desa lain. Selain karena jalannya buruk, aspalnya sudah rusak total, lokasinya juga jauh dari fasilitas publik seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. Geografi desa yang pegunungan membuat pertanian hanya mengandalkan pengairan dari tadah hujan. Lanjutkan membaca ‘Pucung Maju,koperasi wanita tani’

19
Jul
08

Perempuan Berdaulat

Bangun Kesadaran Perempuan, Bangun Kedaulatan Rakyat, Upaya membangun kesadaran perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya membangun masyarakat yang berdaulat. Berbagai persoalan yang dihadapi perempuan menempatkan perempuan, terutama perempuan pedesaan, berhenti di satu titik bernama wilayah domestik. Lanjutkan membaca ‘Perempuan Berdaulat’

19
Jun
08

Ketidakmampuan vs Ketidakmauan

Ketidakmampuan vs Ketidakmauan

Beberapa hari yang lalu , saya bercakap-cakap dengan seorang teman lama yang mengeluh seluruh hidupnya sedang kacau balau tidak terkira. la menghadapi perceraian, dan 2 anaknya yang sedang beranjak remaja tiba-tiba memutuskan untuk menjadi ‘pemberontak’. Kesibukan membenahi mental antara rasa takut, kehilangan, dan keminderan menyebabkan ia kehilangan pekerjaan.

Sebagai seorang teman lama saya tidak dapat berpura-pura untuk sepenuhnya mengerti apa yang sedang dialaminya. Ini karena memang saya tidak menjalani kehidupan seperti yang dialaminya.

Saya hanya bisa menawarkan empati untuk mendengarkan keluhannya. Satu box tissue dan segelas teh yang hangat, dan siaplah mendengarkan cerita hidup dan kesesakan jiwanya.

Percakapan panjang dimulai dari penyesalannya atas pilihan pasangan hidupnya. Pada awal berumah tangga betapa sulit menyisihkan uang setiap bulannya untuk cicilan rumah, pekerjaan mencari nafkah yang tiada pernah berhenti selama 10 tahun perkawinan, sampai betapa repotnya mengurus dan membesarkan 2 orang anak. Belum lagi ditambah kebiasaan suaminya yang akhir-akhir ini menjadi seorang pembohong.

“Jika dari awal kamu sudah tahu bahwa suamimu tidak akan bisa ‘ngopeni’, kenapa tetap memilihnya? Bukannya dulu si B dan si C juga suka kamu setengah mati,” tanya saya memotong ceritanya.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak lagi ada gunanya karena semuanya sudah terjadi. Lebih dikarenakan rasa ingin tahu saya tentang ‘kriteria’ yang betul untuk memilih pasangan hidup. Dia menjawab, “Sebenarnya aku sudah tahu. Tapi, bagaimana mampu menolak kata hati. Seperti kata orang, cinta itu memang tidak pernah pakai logika.”

Saya terdiam. Satu gelas teh habis.

Cerita dilanjutkan mengenai anak-anaknya yang sekarang tiba-tiba menjadi ‘barbar’. Sejak suaminya tidak lagi tinggal di rumah, anak-anak datang dan pergi seenaknya. Seakan rumah sama dengan hotel; sekedar tempat transit. Mereka jadi lepas kendali.

Sebagai seorang ibu ia merasa sangat kecewa dan sakit hati. Naluri keibuannya yang telah membaktikan diri jiwa raga untuk rnenjaga dan membesarkan anak-anaknya sebaik mungkin, seakan ditampar dengan keras saat ini. Untuk bertindak keras, dia menyatakan tidak sanggup. Alasan yang diungkapkannya sederhana; seburuk apapun yang dilakukan, mereka tetap anak-anaknya.

Satu gulung tissue habis. Dengan mata dan hidung yang memerah ia berdiri dan memeluk saya lama. Lirih ia bilang, ”Terimakasih ya, sudah mau jadi ‘keranjang sampah’ ku. Aku tahu besok hidup tetap harus berlanjut. Doakan aku kuat ya …. perasaanku sudah lega, langkahku sudah enteng. Aku pulang dulu, menyiapkan makan untuk anak-anak, ya.”

Saya tak berkata apapun. Senyum getir saya mengantar kepergiannya, saat itu.

Dari percakapan itu ada sebuah kalimat yang mengganggu pikiran. ‘Sebenarnya aku sudah tahu. Tapi, bagaimana mampu’.

Dalam benak saya, jika saja dia mulai mengajarkan pada dirinya sendiri untuk membalik pernyataan tersebut, maka ia tentu akan jadi perempuan yang jauh lebih baik. Pernyataan itu akan jadi lain pengaruhnya jika diubah menjadi ‘saya sebenarnya mampu, namun saya tidak mau’.

Aku sebenarnya mampu untuk membalas kebohongan suamiku dengan cara yang lebih menyakitkan, tetapi aku tidak mau karena menurutku itu tidak bijak. Jika demikian siapa yang berada diatas angin ? Bukankah dengan begitu self esteem anda akan lebih ter boost ?

Aku sebenarnya mampu untuk bertindak keras terhadap anak-anakku , tetapi aku memilih untuk mendudukan mereka sebagai orang dewasa yang akan bersama-sama melewati semua masa sulit ini ? Bukankah ini akan lebih menjadi daya dukung daripada beban ?

Ketika pengertian semacam itu terus menerus mampu ditanamkan dalam pikiran, maka yang terjadi kemudian adalah timbulnya kekuatan dari dalam diri (inner strength).

Saya merasa bahwa saya orang yang lapang dada. Saya adalah ibu yang welas asih. Saya adalah pekerja yang bertanggung jawab. Dibutuhkan keberanian untuk mencintai diri sendiri secara positif. Dibutuhkan konsistensi untuk membela diri sendiri secara sportif sehingga dalam perjalanan hidup ini kita akan menjadi kekuatan itu sendiri. Bahwa dengan atau tanpa dukungan orang lain atau lingkungan anda sekali pun saat ini, anda boleh berbangga hati dengan mengatakan saya bisa melakukan ini sendiri. Dan saya berhak untuk berbahagia. Saya berhak untuk menghargai hidup ini.

Setelah bentukan mental anda benar seperti diatas, pemahaman anda akan eksistensi anda benar, kemudian baru anda duduk dan kemudian me review kembali jalan yang sudah tertempuh. Analisa apa yang sudah terjadi tanpa terlalu besar meresikokan diri anda untuk menjadi depresif; minder, tidak berharga, atau tidak cukup dicintai.

Anda orang yang lapang dada, tetapi mungkin ada beberapa sisi dalam hidup yang seharusnya lebih anda perhatikan dan tidak semata-mata anda terima sebagai satu kewajaran. Bahwa kewaspadaan terhadap lingkungan pergaulan suami anda, rasa nyaman yang harus diberikan kepada suami anda, kemampuan untuk memahami ideologi suami anda, seharusnya menjadi prioritas yang secara konstan harus diberikan dalam meniti rumah tangga.

Anda adalah ibu yang welas asih, tetapi mungkin ada kalanya seorang anak sesungguhnya belum dengan pasti mengerti batasan antara mana yang boleh dilakukan, mana yang belum boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bahwa cinta dan welas asih bagi anak anda bisa datang dalam bentuk yang membutuhkan waktu untuk anak dapat memahaminya.

Anda adalah pekerja keras, tetapi mungkin melihat kondisi yang berkembang dan mengganggu ritme keseimbangan keadaan keluarga. Sudah saatnya anda mengevaluasi lagi jadwal yang lebih fleksibel untuk dapat lebih memperhatikan keluarga.

Semoga kita sernua sudah belajar untuk memaafkan kesalahan kita sendiri, menyadari keterbatasan diri kita sendiri , dan tetap menghargai eksistensi kita sendiri.*

Kalyani kumiayi

19
Jun
08

Sebuah Keyakinan

Tidak terasa penghujung tahun sudah tiba, begitu banyak hal yang sudah kita lalui sepanjang tahun ini. Banyak pengalaman, kebahagiaan, kesedihan, kesulitan dan segala macam hiruk pikuk, dalam satu tahun ini sudah kita jalani.

Beberapa hal yang telah kita lakukan membuat kita merasa sangat bangga. Bahwa kita telah berhasil mencapai tujuan. Di sisi yang lain ada banyak juga kesalahan yang sudah kita lakukan. Karena situasi, karena kondisi, karena kurangnya pengalaman dan kebijakan kita. Sedangkan hal lain mungkin hanya berupa rutinitas semata yang bahkan tidak lagi kita rasa penting untuk diingat.

Di kesempatan yang baik ini, pada saat yang bagus bagi kita untuk bercermin diri dan berefleksi. Saya ingin membagi sedikit cerita yang cukup berarti bagi kehidupan saya secara pribadi. Semoga bisa menjadi sedikit bahan perenungan bagi semua pembaca kolom ini, teriring harapan semoga di tahun 2007 yang akan datang kita semua bisa menjadi manusia yang jauh lebih bijak dari saat ini.

Ada seorang teman yang baru saja berhasil melakukan ‘kaul’ besar. Menempatkan dirinya sendiri bukan sebagai partisipan semata tetapi sebagai yang empunya kaul dan menjadikannya kenyataan. Suatu sore saya sedang berbincang dengan beliau. Dengan sengaja saya mencoba berpikir kritis untuk mengetahui seberapa besar keyakinan yang dimilikinya akan apa yang telah dilakukannya.

Setelah semua keluh kesah, panjang lebar, dengan ungkapan jujur mengenai semua kesulitan yang harus ditempuh untuk mewujudkan kaul ini, semua halangan dari berbagai pihak yang ternyata hanya memberikan janji kosong, ternyata pada akhir perjalanan ini dia merasa cukup bangga akan capaian yang dihasilkannya.

Iseng saya bertanya, “Lah iyo, wis lewat gitu banyak ndak iya cucuk ta ? Masa depan yang belum jelas, keinginan yang masih banyak, halangan yang datang pun tidak kurang-kurang. Sebenarnya sudah dipikirkan belum untuk melakukan hal ini terus ?”

Dengan tertawa dia berkata, ”Kamu ingat gak … dulu dulu sekali, pernah kamu bilang seperti ini, apapun yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu. Hal itulah sekarang yang aku yakini. Sepanjang perjalanan nanti mungkin akan banyak halangan, tapi selama tidak membunuh aku yakin pasti bisa melewatinya …”

Saya terbahak mendengar begitu telaknya jawaban yang diberikan. Dalam hati saya timbul pertanyaan. Garis batas yang seperti apa yang harus diberikan pada satu perjuangan hidup ini ? Garis batas mana yang harus diterapkan ketika kita menghadapi satu masalah. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang terus menerus kita perjuangkan ini merupakan buah dari satu keyakinan yang benar atau sekedar kumpulan ego, kenaifan, kesombongan, sehingga kita tidak bisa jelas melihat apakah kita sudah melakukan hal yang benar atau malah berbuat suatu kesalahan ?

Lama setelah pertemuan tersebut berlalu, saya masih belum bisa menemukan formula jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang timbul dalam hati tersebut. Saya merasa dengan kompleksnya situasi yang sedang kita hadapi pada saat tertentu, keyakinan bisa saja berubah menjadi sesuatu yang tampak konyol ketika tidak diadaptasikan dengan perkembangan keadaan. Tapi disisi yang lain ketika kita berkompromi atau beradaptasi dengan tidak bijak terhadap situasi atau perkembangan keadaan tertentu, maka jika tidak sangat hati-hati idealisme dan keyakinan kadang malah bisa terbeli. (Semoga pemikiran yang terahkir tersebut salah !).

Sampai detik saya menulis ini saya belum yakin jawaban apa yang benar tentang bentuk keyakinan yang seperti apa yang sebenarnya bagus, tapi kata-kata yang saya dapatkan di bawah ini menguatkan saya,

“What we have to learn to do, we learn by doing.” (Aristoteles) Apapun yang harus kita pelajari untuk dilakukan, kita mempelajari dengan melakukan sesungguhnya.

Secara polos apa yang saya tangkap dari petikan tersebut di atas, adalah bahwa kita melakukan dengan sekuat tenaga apa yang kita yakini. Dengan niat yang bersih, serta dengan tujuan kebajikan yang jelas. jika dalam perjalanan pencapaian tersebut kita terkadang merasa capek, frustasi bahkan pada sampai pada tahap mempertanyakan keyakinan itu sendiri, kita wajib mengatakan bahwa ini semua tidak akan membunuh dan hanya akan menguatkan.

Dan jika pada titik tertentu ternyata memang keyakinan tersebut tidak sebenar yang kita mau, tidak semurni yang kita nyatakan, tidak sebijak yang kita niatkan, ya paling tidak kita sudah belajar banyak, karena kita sudah pernah melakukannya.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Kalyani kumiayi

Semarang, 26 Desember 2006

19
Jun
08

Perjalanan Kecil

Di salah satu kesempatan waktu bisa mengambil cuti dari semua kesibukan kerja yang ada, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan dan membagi sedikit rejeki yang ada bagi para korban bencana gempa di Jogja.   Diantara puing, debu dan udara yang panas saya berpapasan dengan seorang anak perempuan yang sedang kerepotan menggendong adik kecilnya. Lanjutkan membaca ‘Perjalanan Kecil’




Tamu Kami Sejak Juni 2008

  • 35,221 Saudara
Google Groups
Relawandesa
Kunjungi grup ini

Arsip