Desa Siaga sehat

Tahun 1999 ada ikrar, pembangunan kesehatan kita akan menuju terminal “Indonesia Sehat”. Tahun 2010, tekadnya adalah lingkungan, layanan kesehatan, dan masyarakat sudah tergarap agar setiap orang memungkinkan meraih status sehat. Memampukan provinsi, kabupaten, kota, dan desa agar terbangun iklim hidup sehat. Caranya, dengan reformasi visi, dari hanya mengobati ke upaya pencegahan.

Itu berarti layanan kesehatan tak menunggu masyarakat datang berobat. Masyarakat dikuatkan jangan sampai sakit. Yang sakit jangan rentan sakit. Untuk itu, (1) layanan kesehatan dibangun merata hingga ke semua desa; (2) potensi masyarakat diangkat agar kuat menolong diri sendiri; (3) posyandu dihidupkan; (4) kader kesehatan digerakkan lagi; (5) dua pertiga jam kerja dokter puskesmas di lapangan.

Mampukah kita?

Belajar dari Banglades, dengan anggaran kesehatan kecil mereka bisa mengangkat derajat kesehatan rakyat sebagus negara maju. Konsepnya, back to basics. Pelayanan kesehatan dasar (primary health care) ditata ulang, dimulai dari desa. Mengapa?

Kesehatan terkait tingkat pendidikan. Strata sosial masyarakat pedesaan dan kondisinya yang memiliki banyak kantong kemiskinan memerlukan pendekatan khusus. Kelompok yang lemah pranata kesehatannya butuh sentuhan berbeda dibanding layanan kesehatan bagi orang kota.

Masyarakat pedesaan lebih membutuhkan layanan kesehatan promotif dan preventif. Banyak masyarakat belum terbentuk perilaku sehatnya. Mereka sakit karena tidak tahu mencegahnya. Solusinya, penyuluhan (komunikasi-informasi-edukasi/KIE). Maka, peran puskesmas harus sebagai guru ketimbang melakukan pekerjaan dokter.

Lain dari itu, pendidikan kesehatan sekolah belum tepat tujuan. Masyarakat kurang dibekali mampu hidup sehat. Kondisi itu menambah beban pemerintah. Masyarakat yang telanjur tak sehat sulit diajak menjadi sehat. Sejatinya tujuan pendidikan kesehatan sekolah adalah membentuk perilaku sehat. Jika masyarakat sudah berperilaku sehat, banyak penyakit yang tak harus muncul. Penyakit yang tak perlu terjadi ini menambah beban anggaran. Diare, flu burung, TBC, tak sepelik sekarang jika masyarakat melek hidup sehat.

Untuk itu, pendidikan kesehatan sekolah mendesak dibenahi. Usaha kesehatan sekolah (UKS) puskesmas direvitalisasi. Kegiatan “Dokter Kecil” sebagaimana posyandu, digugah mendampingi program UKS.

Desa Siaga

Tak kurang dari 12.000 “Desa Siaga” sudah dibangun. Desa yang layanan kesehatan, peran serta masyarakat, dan kondisi fisiknya mampu menyehatkan diri. Tak cukup hanya sosok fisik layanan pos kesehatan yang diayomi puskesmas. Kita juga butuh puskesmas yang mampu menjadi guru agar masyarakat cerdas membangun hidup sehat. Butuh kader kesehatan yang menjadi kepanjangan tangan puskesmas.

Tahun 2008 nanti, “Desa Siaga” diharapkan menjadi 80.000. Dibutuhkan lebih banyak bidan desa, kader kesehatan desa, selain menggugah posyandu yang lama mati suri. Apakah bisa? Jumlah tenaga dokter belum cukup untuk seluruh puskesmas. Selain itu, agar terampil menyuluh masyarakat, dokter puskesmas butuh ilmu-ilmu sosial. Kekurangan sekolah dokter kita tidak memberi tambahan ilmu-ilmu sosial sehingga dokter kurang mulus mendekati masyarakat.

Terobosan yang mungkin diambil, kepala puskesmas tak perlu dokter, cukup sarjana FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat). Melihat tugas puskesmas lebih menyuluh dan melakukan sosialisasi kesehatan daripada mengobati, kompetensi tenaga FKM lebih tepat. Untuk layanan medis dapat didelegasikan kepada tenaga bidan dan perawat.

Kini saatnya pembangunan kesehatan kita back to basics. Ketika masih ada lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD) tahun 1980-an, puskesmas akrab dengan kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD). Itu bentuk operasional primary health care, layanan kesehatan dasar yang dibangun dari, oleh, dan untuk masyarakat. Kerja bareng para kader kesehatan bersama puskesmas membangun kesehatan desa.

Bentuk kegiatan itu kini menitis menjadi “Desa Siaga”. Langkah pertama sebelum tiba di terminal “Indonesia Sehat”. Kalau mulus langkahnya, cita-cita itu bisa diraih tahun 2010.

Oleh Handrawan Nadesul adalah Dokter; Pengasuh Rubrik Kesehatan; Penulis Buku dan Puisi

Iklan