Jaringan Informasi Untuk Desa

Tercapainya pemerataan pendapatan merupakan kondisi ideal dalam sebuah masyarakat. Kondisi ini mungkin dicapai dengan menyempitkan berbagai jurang sosial-ekonomi yang ada, seperti yang tampak dengan jelas saat ini adanya perbedaan tingkat sosial, ekonomi maupun pendidikan antar wilayah di Indonesia. Sayangnya, acuan keberhasilan pembangunan yang umum dipakai, seperti GNP, sifatnya sangat global yang akhirnya cenderung untuk mengadopsi berbagai kebijaksanaan yang bersifat memaksimalkan hasil produksi dan pemasaran secara nasional. Hal tsb. diatas secara tidak langsung menyembunyikan berbagai permasalahan sosial-ekonomi pada tingkat keluarga, wilayah maupun sektor informal.

Institusi ekonomi tingkat pedesaan seperti pra-koperasi simpan pinjam mempunyai potensi yang cukup besar dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi regional yang ada, terutama jika kita kaitkan dengan berbagai informasi yang bisa ditarik dari proses simpan pinjam, misalnya penggunaan sumber daya lokal; alokasi dana pada tingkat keluarga dan wilayah. Konsep pengembangan wilayah yang kami pikirkan bertumpu pada pengkaitan informasi dalam sistem pra-koperasi simpan-pinjam. Informasi khususnya tentang peri-kehidupan ekonomi anggota koperasi dapat secara tidak langsung dicerminkan dari kegiatan simpan pinjam yang dilakukan. Informasi yang ada dapat berupa penghasilan yang diperoleh (misalnya dari hasil bumi), keadaan sumber penghasilan anggota pra-koperasi dll. Dengan menggabungkan informasi yang ada dari berbagai pra-koperasi di suatu wilayah, keadaan wilayah dapat ditela’ah. Informasi ini akan sangat berguna bagi pengambilan keputusan-keputusan untuk mengembangkan wilayah yang dilakukan pada tingkat yang lebih tinggi maupun untuk menarik investasi dari luar ke dalam suatu wilayah (dalam hal ini wilayah pedesaan).

Bagaimana kemungkinan implementasi konsep diatas? Dua hal yang cukup menentukan adalah (1) pembiayaan proses yang berjalan dan (2) pemilihan teknologi informasi yang tepat. Agar sistem (jaringan informasi untuk pengembangan wilayah pedesaan) tidak tergantung dari atas, pembiayaan sistem yang disarankan dapat langsung diperoleh dari assosiasi pra-koperasi itu sendiri dengan memakai “bunga” pinjaman sebagai modal. Tentunya dibutuhkan jumlah anggota minimal dalam pra-koperasi ini (misalnya 25 kepala keluarga) agar dapat tetap hidup tanpa perlu bantuan dari luar. Sebuah assosiasi pra-koperasi dengan anggota 20-30 pra-koperasi cukup mudah menyediakan dana sebesar 4-6 juta rupiah per-tahun untuk membiayai sistem informasi antar pra-koperasi.

Pemilihan teknologi informasi sangat tergantung pada kondisi masyarakat yang ada. Kondisi pedesaan yang ada tampaknya tidak memungkinkan untuk menggunakan komputer mikro (laptop) di tingkat pra-koperasi. Akan tetapi cukup mudah bagi kita untuk mendidik lulusan sekolah menengah di pedesaan untuk mengoperasikan sebuah komputer laptop. Sebuah komputer laptop dapat diperoleh dengan dana sebesar 1.5-2 juta rupiah, sisa dana dapat digunakan untuk biaya operasi bagi operator tamatan sekolah menengah ini untuk berkeliling ke pra-koperasi serta mengumpulkan data setiap bulan.

Dalam assosiasi pra-koperasi tingkat kecamatan atau kabupaten jaringan informasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang relatif lebih canggih seperti menggunakan teknologi jaringan komputer menggunakan radio (paket radio). Apalagi dengan berhasilnya Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana (ITB) memasang stasiun bumi untuk menghubungkan jaringan komputer radio ke satelit internasional untuk komunikasi komputer radio (VITASAT), hubungan komputer dapat dilakukan secara mudah dan murah dengan berbagai assosiasi pra-koperasi tingkat nasional maupun internasional. Dengan adanya usaha bersama dari Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana dan Dr. Nasserie (ITB) peralatan paket radio sudah dapat kita buat sendiri di Indonesia. Bahkan saat ini usaha untuk membuat sendiri chip (IC) modem untuk peralatan paket radio sedang dijajaki oleh Ir. A. Fuad Mas’ud dan Amy Setiadi M.Sc dari PAU Mikroelektronika ITB. Teknologi paket radio ini sangat mudah dan murah untuk diadopsi, beberapa lembaga seperti ITB, LAPAN, BPPT, PUSILKOM-UI saat ini telah mulai menggunakan teknologi ini untuk membangun jaringan komputernya. Terbentuknya jaringan informasi elektronik biaya murah di Indonesia, bukan hanya menarik investor di Indonesia tapi juga lembaga-lembaga penelitian internasional, seperti antara lain Dr. Rebecca Aiken (McGill University Indonesia Project, Canada), Prof. Dr. Tom Chapman (University of Wisconsin – Madison, USA) dan Environmental Management Development in Indonesia (EMDI, Canada) untuk ikut aktif membantu pembangunan di Indonesia.

Keuntungan apa yang bisa diperoleh bagi anggota pra-koperasi dengan ada jaringan informasi elektronik ini? Mari kita tinjau dari sumber pinjaman. Bank dapat melayani jaringan assosiasi pra-koperasi tingkat pertama, dengan performance collateral yang didasarkan atas informasi dari komputer laptop yang di-audit. Jika diperlukan, audit ditingkat pra-koperasi dapat juga dilakukan secara acak tetapi periodik. Pinjaman diberikan pada asosiasi, yang kemudian menyalurkannya pada anggota atas dasar tanggungan sambung-renteng.

Tapi sumber pinjaman tidak hanya bank, melainkan dari interlending di tingkat asosiasi pertama dan kedua, jika ada mungkin asosiasi tingkat ke tiga dst. Bank juga akan memberikan pinjaman pada tingkat2 yang bersangkutan menurut besarnya asosiasi. Hal ini dapat merupakan investasi yang bertingkat, semakin tinggi asosiasinya, semakin besar dana yang dapat dipinjam. Jadi sesuai dengan konsep PIR yang terbalik, seluruh proses dikendalikan dari bawah (bottom-up approach). Implikasi konsep ini adalah untuk mengadakan integrasi ekonomi lokal pada ekonomi regional, pemerataan, dsb.

Sistem yang kami pikirkan berbeda dengan sistem koperasi konvensional yang kita kenal, dimana informasi yang ada umumnya terbelenggu pada tingkat pra-koperasi / koperasi dan relatif tertutup bagi sistem diatasnya. Dapat dibayangkan, dalam sistem ini kita mendapatkan GIS (Geographic Information System) secara gratis sebagai hasil sampingan. Caranya dengan memasukkan setiap bulan tambahan satu atau dua variabel ke dalam komputer, pada saat melayani anggota pra-koperasi. GIS bermanfaat untuk pengembangan wilayah terutama dalam proses perencanaan dan peramalan kondisi wilayah. Pengintegrasian GIS dengan jaringan komputer radio saat ini tengah dipelajari antara lain oleh Ir. J.P.Tomtama (dari Badan Pemetaan Nasional) di University of New Brunswich (Canada) dan Ir. Budi Widiawan (dari Departemen Transmigrasi) di York University (Canada). Integrasi GIS dengan jaringan komputer radio memungkinkan untuk memperoleh data informasi yang akurat dalam waktu singkat yang memudahkan proses perencanaan pembangunan.

Arus informasi juga dapat berbalik, dibawa oleh komputer laptop dari atas ke bawah. Sebagai misal informasi pasaran komoditi, peraturan-peraturan, berbagai teknologi tepat-guna, dakwah, informasi mengenai masalah organisasi dan manajemen, dsb. semuanya dibawa melalui radio dan disket. Yang penting disini adalah pengembangan fungsi yang sangat strategis: Technical & Management Service Organization, dimana operator laptop merupakan perantara anggota pra-koperasi dengan para ahli dan dunia luar. Operator laptop ini yang mengumpulkan pertanyaan2, dimasukan dalam komputer laptop dan jawaban dari tenaga ahli diluar disampaikan tertulis melalui komputer laptop. Ditambah dengan program radio dan koran masuk desa, bukan mustahil akan terjadi revolusi informasi di pedesaan.

Sistem jaringan informasi pra-koperasi ini dapat pula dihubungkan dengan pembangunan wilayah yang didasarkan atas mobilisasi sumberdaya lokal, yang dipertemukan dengan sumberdaya luar yang terkendalikan dari bawah. Atau setidaknya, yang dari bawah terorganisasikan untuk mengadakan collective bargaining, ditunjang oleh informasi yang meyakinkan dengan kekuatan moneter yang ter-audit dengan baik.

Mungkinkah kita melakukan hal ini? Usaha pengembangan wilayah tampaknya cukup aktif dilakukan antara lain oleh Dr. Widjajono (S2 Pembangunan-ITB), PPLH-ITB, dsb. Bukan mustahil sebuah sistem informasi pembangunan yang bertumpu pada jaringan koperasi dapat terbentuk jika kita gabungkan kemampuan di S2-Pembangunan ITB, PPLH-ITB dengan para ahli bidang teknologi informasi dan mikroelektronika seperti Dr. Kusmayanto Kadiman (PIKSI-ITB), Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana (EL-ITB), Dr. Nasserie (EL-ITB), Ir. Rosihan Soebiakto (USI/IBM), Prof. Dr. Samaun Samadikun (PAU Mikroelektronika ITB) dll. untuk membangun sebuah sistem informasi elektronik biaya murah. Mudah-mudahan sistem ini dapat terbentuk dan membantu masyarakat pedesaan dan lapisan bawah di Indonesia untuk membangun secara terkendali dari bawah.

Onno W. Poerbo. Staf jurusan teknik elektro dan PAU Mikroelektronika ITB. Sedang menempuh program Ph.D di University of Waterloo, Canada.

Heru W. Poerbo. Staf jurusan teknik arsitektur ITB. Sedang menempuh program M.Sc. bidang Regional and Urban Planning di University of Hawaii, Amerika Serikat.

Hasan Poerbo. Mantan guru besar ITB.

Satu pemikiran pada “Jaringan Informasi Untuk Desa

  1. gardutani berkata:

    pak suryo punya ide untuk nulis tentang melek TI untuk masyarakt desa hutan (petani)…

    terima kasih

    salam
    imam nurhuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s