Warung Obat Desa dan Polindes

Dalam upaya pembangunan kesehatan, kemandirian merupakan salah satu isu pokok yang dipelopori melalui pembangunan kesehatan bersumber daya masyarakat. Berbagai upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM) di tingkat desa seperti posyandu, warung obat desa, polindes, amdes, poskestren dan lain lain. Dengan semakin banyaknya jenis UKBM yang tumbuh di desa, diprediksi akan memerlukan dukungan dari suatu UKBM tingkat desa yang mengkoordinasi dan sekaligus sebagai rujukan bagi UKBM lain, dan diwujudkan dalam program poliklinik kesehaatan desa (Poskesdes). WOD/POD merupakan salah satu UKBM pendukung poskesdes. Pedoman penyelenggaraannya diatur dalam Kepmenkes RI Nomor 983/SK/Menkes/VII/ 2004.

Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi pelaksanaan WOD dalam rangka pengembangan Poskesdes menuju desa siaga. Dalam penelitian ini dilakukan eksplorasi terhadap kondisi Poskesdes, POD/WOD dan faktor pedukung dan penghambat. Penelitian dilakukan di kabupaten Subang dan Karanganyar yang meliputi 4 kecamatan dan 8 desa.

Program poskesdes baru berjalan di kabupaten Karanganyar sedangkan di Subang belum ada. Konsep WOD yang melekat pada Poskesdes di Karanganyar merupakan poskesdes murni, tidak ditemukan hubungan langsung dengan WOD, sedangkan WOD murni adalah POD yang mengikuti konsep lama. Poskesdes adalah sarana milik desa sebagai tempat berobat masyarakat terutama melayani KIA dan KB, buka selama 24 jam, dengan bidan desa sebagai pengelola, menentukan tarif obat berdasarkan harga obat yang dibeli pasien ditambah retribusi untuk jasa praktek. Disamping itu harus setor uang ke desa, dengan ciri pelayanan on stop service, pembinaan dilakukan oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Sementara ini POD yang masih berjalan di kabupaten karanganyar adalah sarana tempat pemberian obat secara gratis yang dikelola oleh seorang kader tanpa imbalan dengan sumber dana dari dana sehat. Sedangkan di Kabupaten Subang modal POD berasal dari kader, keuntungan diperoleh dari penjualan obat. POD yang masih berjalan di kabupaten Karanganyar lebih sederhana baik dari segi fisik dan ketersediaan obat dibandingkan POD di Kabupaten Subang. Di kabupaten Subang POD banyak yang sudah tidak berfungsi, dan ada yang berkemmbang menjadi apotek, toko obat, dan sebagian menjadi balai pengobatan atau mengembangkan usaha POD bersama warung biasa.

Faktor pendukung yang umum adalah lokasi yang jauh dari layanan kesehatan dan memerlukan biaya transport yang lebih besar serta kader yang dipercaya masyarakat, sedangkan penghambatnya adalah warung dan atau penjual obat di sekitar lokasi POD. Faktor pendukung utama di Karanganyar adalah dana sehat, kader yang mau bekerja serta dukungan dari berbagai pihak seperti bidan, puskesmas dan masyarakat. Faktor pendukung utama di Subang yaitu harga obat di POD lebih murah dan kader terlatih. Faktor penghambat utama di Karanganyar hanya sedikit yaitu masalah keterbatasan jenis dan jumlah obat. Faktor penghambat di Subang lebih banyak seperti masalah legalitas POD, UU praktek kedokteran, pelanggaran oleh kader POD, kesalahan pengelolaan POD dan keterbatasan dana.

Alternatif pengembangan WOD adalah dengan menggabungkan kegiatan WOD dengan Poskesdas dalam bentuk WOD menjadi penyelia obat bagi Poskesdes atau kader WOD menjadi pengelola obat di Poskesdes. Disamping itu sebagian obat tetap disediakan di rumah kader kesehatan bagi masyarakat yang rumahnya jauh dari Poskesdes/Pustu/Polindes.

Kepmenkes 983/2004 mengenai WOD belum dilaksanakan, seluruh POD yang ada masih mengikuti konsep POD lama. Hal ini disebabkan oleh sosialisasi Kepmenkes masih kurang, prosedur operasional serta adanya pertentangan pendapat di kalangan tenaga kesehatan mengenai persyaratan kader WOD. Kebijakan WOD diperlukan sebagai dasar legalitas keberadaan WOD, namun sebaiknya dibuat lebih mudah dan alternatif yang dapat dipilih sesuai dengan daerah. Dana bisa berasal dari modal sendiri, kredit bank atau dana sehat. Tenaga kesehatan disesuaikan dengan ketersediaan SDM sedangkan jenis obat yang boleh disediakan perlu ditentukan secara tegas untuk mencegah pelanggaran.

Yuyun Yuniar, Ida Diana Sari, Muhamad Syaripudin dan Elfrida

Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan

Satu pemikiran pada “Warung Obat Desa dan Polindes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s