Desa Konservasi, Ujung Tombak

Menteri Kehutanan: Desa Konservasi Akan Menjadi Ujung Tombak
Published Date: June 12th, 2008
pameran mdkSebuah kolaborasi antara Departemen Kehutanan dan ESP menerbitkan harapan baru dalam usaha penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia

Jakarta.
Kegiatan konservasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia, memasuki babak baru dengan diluncurkannya Program Percontohan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu melalui pengembangan Desa Konservasi.

Program kolaborasi Departemen Kehutanan dan ESP ini diresmikan tanggal 8 Mei lalu melalui serangkaian kegiatan, termasuk lokakarya, pembacaan deklarasi bersama dan pameran Desa Konservasi yang diikuti delapan desa peserta program yaitu Cinagara, Cihanyawar, Ginanjar, Tangkil, Sukamaju, Kebon Peuteuy, Langensari, Purwabakti dan Cisarua.

“Jika dijalankan dengan baik dan sesuai aturan, program Desa Konservasi akan menjadi salah satu tulang punggung kegiatan lingkungan hidup di Indonesia di masa depan,” kata Menteri Kehutanan M.S Kaban dalam pidato peresmian program.

Desa konservasi adalah sebuah kegiatan lingkungan hidup dengan pendekatan-pendekatan yang memungkinkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi terlibat aktif dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi. Program jenis ini ini juga memberikan peluang kepada masyarakat untuk memperoleh akses yang aman untuk pemanfaatan kawasan, sehingga dapat menjamin komitmen jangka panjang mereka untuk mendukung konservasi kawasan hutan. Partisipasi aktif masyarakat memang menjadi salah satu kunci keberhasilan upaya konservasi kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.

Lihat saja yang terjadi di Desa Sukamaju. Di desa yang menjadi salah satu wilayah percontohan desa konservasi ini berdiri Kelompok Tani Puspa Lestari yang anggotanya adalah petani yang mengikuti kegiatan Sekolah Lapangan ESP tahun 2007. Berawal dari 30 orang, anggota kelompok tani itu sekarang sudah lebih dari 300 petani dan peternak yang selalu berusaha melakukan kegiatan pertanian ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berbatasan langsung dengan desa mereka.

“Melalui kegiatan Desa Konservasi, kami seperti mendapat dorongan untuk lebih semangat menjaga kelestraian taman nasional, disamping terus mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata Denu Sutrisna, salah satu anggota Puspa Lestari.

Suryatni, 29 tahun, berpendapat sama. Ibu dua anak ini sadar, banyak kegiatan yang berhubungan dengan konservasi alam yang berhubungan lingkungan yang bisa di lakukannya di rumah. “Perawatannya mudah, tinggal dikasih pupuk kotoran ayam. Untuk media tanam, saya pakai tanah dari halaman samping,” kata Suryatni.

Menurut Departemen Kehutanan Menurut data dari Ditjen PHKA, saat ini terdapat sekitar 2.040 desa di daerah penyangga kawasan konservasi, yang jumlah penduduknya sekitar 660.845 keluarga. Sebagian besar penduduk tersebut sangat tergantung pada sumberdaya alam di kawasan hutan.

Primatmojo Djanoe, ESP Jakarta

3 pemikiran pada “Desa Konservasi, Ujung Tombak

  1. suryokoco berkata:

    matur suwun mas. mari bersama melakukan hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain meski kecil artinya. setidaknya kita telah memulai. salam untuk kawan2 se ide

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s