Pekerja Anak

Anak yang Berjuang untuk Anak

Senin, 7 Juli 2008 | 02:02 WIB – KOMPAS – Lis Dhaniati

Orang yang terluka akan melukai orang lain. (Bill Cosby dalam acara Oprah Show)

Ucapan aktor kawakan Amerika Serikat itu didasarkan fakta anak-anak kulit hitam yang bertumbuh dalam kondisi keluarga berantakan cenderung menjadi nakal bahkan sampai bertindak kriminal. Beruntung, itu tidak terjadi pada Asep Ramdani (17) yang justru giat memperjuangkan nasib anak.

Perawakannya kecil dan sekilas tampak pendiam. Namun, pelajar kelas II SMK Negeri 7 Bandung ini akan lantang jika berbicara tentang hak-hak anak. Ia juga fasih membeberkan berbagai masalah pelanggaran hak-hak anak yang lazim dianggap sebagai kewajaran.

Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, seseorang masih disebut anak hingga usia 18 tahun. Berdasarkan perkiraan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2007, pekerja anak di Indonesia mencapai 2,6 juta. Anak-anak ini bekerja di berbagai sektor, seperti pertanian, pertambangan, dan industri kecil. Realitas di lapangan menunjukkan, pekerja anak dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Banyak pemilik pekerjaan senang menggunakan tenaga anak karena mereka bisa diupah lebih rendah dibandingkan dengan pekerja dewasa.

Ada beberapa faktor pendorong banyaknya pekerja anak. Namun, ekonomi tetap menjadi faktor utama. Anak-anak yang seharusnya sedang menikmati hak pendidikan justru harus memeras keringat karena ikut menopang kebutuhan keluarga. Ini menjadi permasalahan krusial karena pada masa depan negara kehilangan generasi terdidik. Belum lagi tekanan mental pada anak-anak yang—seperti kata Cosby—bisa mengarah pada masalah kriminal.

Asep tak sekadar bicara berdasarkan data atau pengetahuan yang ditularkan orang lain. Namun, ia sempat mengalami sendiri kegetiran hidup menjadi pekerja anak. Bahkan, masa kanak-kanaknya penuh dengan belitan masalah. Asep lahir di kawasan industri sepatu Cibaduyut, Bandung. Ketika Asep berusia sebulan, orangtuanya bercerai. Asep pun diasuh uaknya, (alm) Idas Supriatna dan Endang Haryati.

Sayangnya, hal ini tidak disertai penjelasan yang memadai sehingga Asep sering bingung. ”Saat sekolah dasar saya sering ditanya teman-teman, ’orangtuamu sebenarnya yang mana?’,” kata Asep. Kadang terbesit juga iri dalam hatinya ketika kemudian tahu siapa orangtua kandungnya. ”Mengapa saya yang diasuh uak, bukan kakak saya,” kata Asep.

Industri sepatu

Dalam situasi seperti itu, Asep kecil sudah harus terlibat dalam kesibukan industri sepatu di Cibaduyut. Ada beberapa hal yang harus ia kerjakan di bengkel sepatu uaknya, seperti menggunting dan mengelem sepatu. Lulus sekolah dasar pada tahun 2002, ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, seperti kebanyakan anak-anak Cibaduyut lainnya, keinginan itu kandas. Asep justru diajak uaknya berdagang sepatu ke Sumatera, tepatnya di Pagar Alam

Pulang dari Pagar Alam, Asep langsung dibawa ke tempat pamannya di Subang, Jawa Barat. Di sana situasi kehidupannya tak membaik. Selama enam bulan Asep kecil harus menjalani pekerjaan ganda. Pagi hingga siang ia harus membantu bibinya berjualan bubur di pasar. Sementara itu, siang sampai sore Asep berganti pekerjaan menjadi kernet mobil angkutan yang disopiri pamannya. ”Saat jadi kernet saya sering sedih kalau ada anak sekolah yang naik. Harusnya saya seperti mereka,” ujar Asep.

Ia pun pulang ke Bandung. Kebetulan di dekat rumahnya ada Sanggar Sidikara yang bekerja sama dengan ILO untuk menghapus pekerja anak di Cibaduyut. Saat itu jumlah pekerja anak di Cibaduyut memang tinggi. Berdasarkan data ILO pada 2005, di Cibaduyut ada 1.132 industri sepatu rumahan. Tiap bengkel sepatu setidaknya mempekerjakan dua pekerja anak. Dengan demikian, di Cibaduyut ada 2.264 pekerja anak. ”Upah mereka lebih rendah dibandingkan pekerja dewasa,” ujar Asep. Ia menyebut angka Rp 10.000 hingga Rp 15.000 sehari untuk waktu kerja selama 12 jam sehari.

Asep yang sering bermain ke sanggar itu mendapat pencerahan tentang permasalahan anak. Asep pun mendapat beasiswa dari yayasan sehingga bisa melanjutkan ke SMP. Bersama kawan-kawannya ia menempuh berbagai cara untuk memperjuangkan hak-hak anak, seperti bergerilya ke bengkel-bengkel sepatu bahkan menemui pengurus Asosiasi Pengusaha Sepatu Cibaduyut.

Dengan adanya kegiatan pada anak-anak ataupun pertemuan dengan pengusaha, jumlah pekerja anak cukup berkurang,” kata Asep. Namun, keberhasilan ini justru menjadi masalah baru. Penyebabnya, ILO mengakhiri programnya dengan Yayasan Sidikara. Bersama beberapa rekannya, Asep berinisiatif mendirikan Sanggar Muda Kreatif untuk melanjutkan aktivitas Yayasan Sidikara. Sayangnya, tanpa dukungan dana ataupun peralatan yang memadai, aktivitas di sanggar baru ini tak optimal.

Meskipun demikian, aktivitasnya dalam memperjuangkan nasib anak-anak mengantarkannya memenangi penghargaan Unicef sebagai Pemimpin Muda Indonesia tahun 2007. Kini ia aktif di Forum Anak Daerah Jabar, juga membantu kegiatan Yayasan Sidikara. ”Selama masalah anak masih ada, saya akan terus berjuang,” ujar Asep.

Dipandang sebelah mata

Keberhasilan meraih penghargaan Pemimpin Muda dan kelanjutan aktivitasnya sering membuat anak kelahiran 8 Maret 1991 ini diundang berbicara di berbagai acara. Namun, sebagai anak ia justru sering dipandang sebelah mata oleh orang dewasa.

Suatu saat saya pernah diminta berbicara tentang hak asasi anak di sebuah acara. Selesai saya bicara ada peserta dewasa yang berkata, perlakuan keras kepada anak akan membuatnya berhasil. Padahal, saya yakin hanya sebagian kecil anak yang berhasil karena diperlakukan keras,” kata Asep.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s