Perempuan Berdaulat

Bangun Kesadaran Perempuan, Bangun Kedaulatan Rakyat, Upaya membangun kesadaran perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya membangun masyarakat yang berdaulat. Berbagai persoalan yang dihadapi perempuan menempatkan perempuan, terutama perempuan pedesaan, berhenti di satu titik bernama wilayah domestik.

Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat nyatanya juga berimbas pada kehidupan masyarakat yang berada jauh di pelosok desa. Jika pemerintah membuat undang-undang sumber daya air, siapakah yang diuntungkan? Siapa yang mendapat kemudahan saat pemerintah membuat kebijakan penanaman modal asing? Apakah kebetulan saja kalau kebijakan ini menguntungkan para pemilik modal? Kenapa bukannya menguntungkan rakyat Indonesia?

Kita jarang mempertanyakan hal ini, karena kita masih bergelut dengan perasaan takut. Kita tidak berani mempertanyakan sebuah kebijakan yang tidak menguntungkan kita kepada bupati atau kepala desa. Apakah takut karena tidak tahu apa yang akan ditanyakan, atau karena tidak ada yang menemani kita untuk bersama-sama mempertanyakan hal itu? Memang tidak banyak teman yang punya pemahaman yang sama.

Sementara itu, rakyat apalagi kaum perempuan yang diposisikan sebagai pengelola rumah tangga sering kali menjadi kurang memahami pentingnya memiliki kesadaran untuk melakukan sesuatu secara bersama. Perempuan disibukkan dengan urusan-urusan rumah tangga dan dipusingkan dengan beban ekonomi, tidak punya waktu untuk berkumpul dengan teman-teman lain, tidak memiliki akses terhadap informasi. Sehingga, hidup adalah sesuatu yang harus dijalani, tidak perlu  mempertanyakan apa yang terjadi meski berpengaruh terhadap kehidupannya.

Perempuan dan Politik

Politik adalah kegiatan yang sifatnya saling menjatuhkan, penuh rahasia dan kebohongan, banyak curangnya, menghalalkan segala cara, main uang, menghasut, korupsi, meresahkan, membingungkan, dan penuh akal-akalan. Bahkan politik dapat mengakibatkan kenaikan harga sembako dan BBM, serta mengubah kebijakan-kebijakan jadi merugikan rakyat. Itulah pendapat peserta “Pendidikan Politik untuk Perempuan” yang diselenggarakan pada 8 dan 9 Februari 2008 di Dusun Krajan 2, Desa Pasrujambe, Lumajang, Jawa Timur. Mereka mengenali pelakunya adalah kepala desa, DPR, MPR, menteri, presiden, bupati, gubernur, partai politik, dan organisasi.

“Sebenarnya kita semua juga berpolitik,” ungkap Ketty Tri Setyorini dari KPU Jember, narasumber pada pendidikan itu. “Di dalam rumah tangga pun kita berpolitik. Bagaimana kita menghadapi suami, memperlakukan anak, dan sebagainya adalah politik juga”. Memang, dalam arti yang lebih luas, lanjut Ketty, politik berkaitan dengan sistem demokrasi. Termasuk bagaimana perempuan dapat berkiprah dalam politik yang lebih luas, ketika ia harus berurusan dengan orang banyak.

“Di sisi lain, perempuan juga disibukkan oleh urusan rumah tangga, sehingga seringkali perempuan kurang mengikuti perkembangan di luar,” jelas Ketty. “Selama ini, peran perempuan lebih banyak tampak pada bidang-bidang seperti sekretaris atau bendahara. Jarang yang menjadi pemimpin. Kita pun sering kali menganggap tidak penting untuk memberikan pendidikan yang cukup bagi perempuan, dengan anggapan pada akhirnya pun perempuan akan ke dapur”.

Terjun ke dunia politik tidak hanya membutuhkan modal kepintaran, asal bisa ngomong, tapi juga memerlukan uang dalam jumlah besar. Begitulah kondisi negara kita, karena rakyat tidak akan kenyang hanya dengan janji-janji. Janji itu bahkan bisa saja tiba-tiba menguap begitu calon itu terpilih. Menagih janji-janji kampanye itu pun sulitnya bukan main, mereka mengelak dengan berbagai alasan.

“Memang janji kampanye tidak bisa dituntut secara hukum, karena tidak ada kekuatan hukumnya,” lanjut Ketty. “Kita harus selalu berkomunikasi, sehingga bisa mengontrol mereka. Komunikasi ini kita lakukan melalui organisasi, karena kalau berjalan sendiri-sendiri kita tidak mungkin mendapat perhatian mereka”. Inilah pentingnya membuat organisasi kita kuat dan kompak.

Perempuan Juga Tentukan Kebijakan

“Kesadaran perempuan untuk mulai tampil dan ikut menentukan kebijakan yang akan mengatur kehidupan mereka masih belum terbangun,” ujar Khoirunisa, pendamping komunitas (Community Organizer/CO) di wilayah Lumajang. “Budaya patriarki yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat kita umumnya menjadikan perempuan tidak siap berdiri di depan. Dalam politik, perempuan belum banyak berpartisipasi aktif karena politik tidak dianggap sebagai wilayah mereka”.

Pada tahun 2008 ini, Desa Pasrujambe akan menggelar pemilihan kepala desa secara langsung. Dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya, perempuan lebih banyak berperan sebagai pemilih.

“Sebagai pemilih, perempuan seringkali tidak mengenal siapa yang mereka pilih,” lanjut CO yang akrab dipanggil Nisa ini. “Untuk itulah pendidikan politik untuk perempuan penting kita selenggarakan guna mendekatkan perempuan dengan politik”.

Tujuan Pendidikan Politik untuk Perempuan itu adalah memahami politik dalam artian luas, memahami dan menyadari hak-hak warga negara, memahami struktur pemerintahan dari tingkat desa hingga tingkat nasional, dan meningkatkan apresiasi perempuan terhadap politik. Dalam kegiatan ini, para peserta mencurahkan pendapat mereka tentang politik, menyimak pemaparan dan berdialog bersama narasumber tentang perempuan dan politik, serta hak-hak asasi warga negara. Mereka juga menganalisis hasil curah pendapat mereka.

Setelah pendidikan politik selesai, 42 orang berdialog dengan calon kepala desa Pasrujambe di balai desa Pasrujambe. Meski dialog itu hanya diikuti oleh dua calon kepala desa, para peserta mendengarkan pemaparan visi, misi, dan program para calon kepala desa Pasrujambe dengan seksama.

“Kalau saya mendukung calon perempuan,” ujar Siti Khadijah, ketua kelompok tani perempuan/bendahara FKKP (Forum Komunikasi Kader Perempuan) peserta pendidikan politik ketika ditanya pendapatnya tentang calon kades perempuan. “Dengan begitu kan ada yang mewakili perempuan”.

Sementara itu, Ninik Indariyati (Ketua Posyandu dan Sekretaris Al Hidayah Desa) dan Somirah (bendahara PKK Dusun) sebelum menyatakan dukungannya kepada calon kades ingin melihat dulu program-program yang diajukan calon-calon tersebut, lalu memahaminya apakah kepentingan dan kepedulian terhadap perempuan ada di dalamnya.

Hasil Pendidikan

Beberapa hal menarik yang patut diperhatikan di sini tentu bukan hasil pendidikan yang berlangsung dua hari ini, melainkan proses belajar yang cukup panjang dalam kelompok-kelompok yang kemudian mewarnai jalannya pendidikan. “Peserta berperan aktif, bertanya atau mengungkapkan pendapat,” imbuh Nisa, panggilan akrab Khoirunisa. “Begitu juga ketika berdialog dengan calon kepala desa, peserta berani menanyakan berbagai permasalahan, termasuk yang cukup sensitif. Bahkan anggota kelompok sendiri yang melakukan persiapan dialog dengan menghubungi pihak pemerintah desa dan calon-calon kepala desa. Anggota kelompok sudah berani memperkenalkan dan memaparkan kegiatan kelompoknya. Juga memandu acara dialog dengan baik”.

Namun cuaca yang diwarnai hujan terus-menerus membuat banyak peserta tidak dapat hadir. Ketidakhadiran salah satu calon kepala desa karena tiba-tiba membatalkan hadir dengan alasan ada acara lain, meskipun sudah dihubungi beberapa hari sebelumnya juga sangat disayangkan, apalagi ia merupakan satu-satunya calon kades perempuan.

Perempuan yang sadar akan pentingnya membuat perubahan terhadap kondisinya dapat mendorong terbangunnya kedaulatan rakyat. Perempuan perlu memahami masalah-masalah yang dihadapinya berkaitan dengan berbagai hal di luar kehendak dan kuasanya. Dengan pendidikan perempuan tidak hanya menjadi yakin segera membuat perubahan, tetapi juga tergerak untuk meyakinkan perempuan lain agar bergandeng tangan bersama-sama bertindak. Karena, jumlah massa yang banyak merupakan satu kekuatan yang tidak terbantahkan. Apalagi massa itu berkualitas, sadar akan pentingnya membuat perubahan ke arah yang lebih baik (disarikan dari laporan kegiatan Khoirunisa/ink).

Satu pemikiran pada “Perempuan Berdaulat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s