Desa Kambing Nasional

Desa Tlemung Juara Nasional berkat Kambing

Oleh arixs

LOKASI Desa Tlemung, Kalipuro, di ujung barat Banyuwangi, terbilang terpencil.. Namun, berkat kerja keras masyarakatnya nama desa yang berada di lereng gunung ini terpatri namanya di tingkat nasional. Ratusan keluarga penduduk desa di lereng gunung ini menggantungkan hidupnya pada usaha peternakan kambing.

Ada beberapa pemicu suburnya peternakan di sini secara turun-temurun. Salah satunya, letak wilayahnya dekat areal perkebunan, sehingga warga mudah mendapatkan makanan ternak dalam jumlah besar. Selain berternak, warga di sini menggatungkan hidup pada kebun kopi rakyat. Sebagian lagi menjadi buruh perkebunan milik pemerintah.

Peternakan kambing tumbuh subur sejak Perhutani mengajak warga untuk bekerja sama. Mereka diizinkan mengambil daun-daun pohon penyangga di hutan. Syaratnya, peternak wajib menjaga kawasan hutan dan tidak mengganggu tanaman inti seperti jati dan pinus.

Peternak tidak lagi sulit mencari pakan. Jumlah kambing yang dipelihara kian bertambah. Usaha peternakan pun berkembang.

Tahun 2003, warga mulai melirik jenis kambing ettawa untuk digemukkan. Bibitnya dibeli di Kaligesing, Jawa Tengah. Kambing jenis ini memiliki banyak keunggulan dibanding kambing biasa. Selain harga jualnya mahal, perawatannya relatif lebih mudah.
Perkembangan ini mendorong warga membentuk kelompok peternak. Warga membentuk dua kelompok besar yakni Kelompok Ternak Harapan Kita dan Agung Tani.

Bisnis peternakan kambing ini akhirnya mendapat perhatian Pemkab. Banyuwangi. Desa Tlemung dijadikan pusat peternakan kambing. Tahun 2005, Pemkab memberikan bantuan berupa 75 ekor bibit kambing ettawa. Bibit ini diserahkan ke dua kelompok peternak tadi.
Peternak makin bersemangat. Pertengahan tahun 2007, Desa Tlemung meraih juara II tingkat nasional berkat budi daya peternakan kambingnya. “Ternyata kerja keras kami membuahkan hasil,” kata H. Mustofa, Ketua Kelompok Ternak Harapan Kita.

Desa Tlemung menyabet juara nasional karena berhasil mengembangkan kambing ettawa dengan baik secara alami. Peternak tak hanya sukses dalam penggemukan daging. Dalam perkembangannya mereka mampu mengolah susu kambing menjadi minuman dengan harga jual tinggi.

Dari bibit 75 ekor, dalam dua tahun peternak mampu mengembangkannya menjadi 780 ekor. Ini belum termasuk kambing yang dimiliki secara pribadi oleh warga. Pesatnya peternakan ini dipicu melimpahnya bahan pakan.

Kambing ettawa tergolong ternak tahan penyakit. Tidak terlalu banyak makan, namun tubuhnya banyak daging. Ini yang membuat kambing ettawa memiliki daya jual tinggi. Harga kambing yang baru berumur satu tahun bisa Rp 1,5 juta lebih. Jika digemukkan dua tahun saja harganya bisa mencapai Rp 3 – 4 juta. Harga ini makin melambung jika kambingnya makin gemuk dan tampak besar.

Normalnya, kambing ettawa hanya kawin 3 bulan sekali. Bahkan ada yang tiap 6 bulan baru minta kawin. Jika tidak sedang dalam waktunya kawin, kambing ettawa enggan berdekatan dengan lawan jenis. Ini beda jauh dengan kambing biasa yang hampir seminggu sekali minta kawin.

Untuk merangsang agar mau kawin, peternak biasanya mencampur ettawa betina dengan kambing jantan biasa. Kambing jantan biasa cenderung suka mendekati betina. Kondisi ini yang memicu terjadinya perkawinan.

Perngembangbiakan kambing ettawa lebih banyak menggunakan cara tradisional. Caranya, menempatkan seekor pejantan dalam tiap 20 ekor kambing betina. Pejantan ettawa bergilir melayani kambing-kambing betina secara alami.

Seiring perkembangan teknologi, peternak mulai menerapkan sistem kawin suntik. Sejak tahun 2007, peternak tergiur pada modifikasi keturunan cara ini. Hasilnya jauh lebih berkualitas. Ini langsung diikuti naiknya harga bibit kambing. Bibit kambing yang kepalanya hitam memiliki harga jual tinggi. Dibanding warna biasa, harganya bisa selisih Rp 200 ribu per ekor.

Dalam merawat kesehatan ternaknya, warga menggunakan ramuan khusus tradisional. Jika ternak sakit, peternak tidak langsung memanggil mantri hewan. “Jika penyakitnya parah baru memanggil petugas,” tutur Mustofa. Ramuan yang digunakan terbuat dari bahan-bahan alami dicampur sedikit obat.

Sejak namanya terpatri di tingkat nasional, daerah ini banyak dilirik sebagai ajang bisnis dan penelitian. Kambing asal Tlemung banyak diburu peternak dari luar Banyuwangi, seperti Jember dan Situbondo. Permintaan meningkat menjelang hari raya Idul Adha.

Budi daya susu sedang dikembangkan serius. Sayang, baru beberapa orang peternak yang serius menggarapnya. Kendalanya, warga belum memiliki keterampilan perihal perawatan kambing perah.

Perawatan kambing susu dan penggemukan tak jauh beda. Prinsipnya, kandang harus bersih dan sehat. Hanya saja, kambing susu perlu lebih banyak diberi pakan buah-buahan. Tujuannya menghindari bau tidak sedap pada susu yang dihasilkan. Buah yang diberikan biasanya pisang dan pepaya.

Di pintu masuk desa di ujung barat Banyuwangi ini berdiri Tugu Kambing. Pendatang juga disambut dengan petunjuk bertuliskan ‘memasuki kawasan kambing peranakan ettawa’. Rencananya, wilayah ini dijadikan daerah percontohan pengembangbiakan kambing di Indonesia. -udi

Iklan

6 pemikiran pada “Desa Kambing Nasional

  1. Pak De,

    Saya tertarik sekali dengan artikel ini, karena kebetulan saya tinggal di kampung juga. Sewaktu masih jadi mahasisiwa, saya pernah punya rencana untuk mengembangkan peternakan kambing di desa saya, namun sayangnya belum berhasil hingga saat ini. Kendalanya ada di pendanaan. Nah Pak De punya kiat/cara/link bagaimana merealisasikan rencana tersebut ?

    Terima kasih

  2. saya udah ada di kampung kandang dan kambingnya 8,pejantan satu dan laki satu masih berumur 1 thun,dan yg lain betina,saya ingin mengmbangkan usaha ternak ini,dg cara dan technologi modern,tapi masih belum tau cara2nya

  3. Gabriella berkata:

    Saya berencana untuk memulai ternak kambing dan saya ingin berkunjung ke desa tlemung di kalipuro ini. Apa ada nomer kontak yang atau info lain yang bisa saya dapat kalau saya berencana pergi ke desa ini? Ditunggu balasannya. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s