Pertanian Probosutedjo

Jakarta (ANTARA News) – Probosutejo, selama menjalani masa hukuman di LP Cipinang di Jakarta kemudian berlanjut di Sukamiskin, Bandung, ia tidak tenggelam dalam keputusasaan atau kesedihan, melainkan justru memanfaatkan waktunya untuk berolahpikir dan beraktivitas.

 

Hasil yang dicapai adalah kemampuannya untuk membentuk tim dalam program penanaman padi organik yang hasilnya disebut sangat baik untuk meningkatkan produksi padi dalam jumlah dan kualitas. Tim yang kemudian dinamakan Teja Kencana Tani Makmur dan bernaung di Pak Harto Center itu mengklaim mampu memproduksi padi organik dengan hasil di atas 10 ton per hektare. Jumlah itu lebih tinggi 100 persen dibanding rata-rata produksi padi saat ini yang dikelola secara konvensional.

 

Probo juga menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan dengan petani dan pemilik lahan untuk menggarap sawah mereka serta memberikan sistem bagi hasil yang cukup tinggi dibanding penghasilan yang selama ini diperoleh petani.  “Petani tidak perlu menyediakan biaya produksi, tetapi hanya menyediakan sawah. Untuk setiap satu hektare sawah, saat panen petani akan mendapat hasil bersih Rp10 juta yang dihitung dari nilai setara lima ton beras,” ujarnya.

 

Dalam sistem pertanian konvensional, petani atau pemilik lahan hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp2.000.000 per hektare dalam sekali panen, setelah mengeluarkan biaya produksi (untuk membeli benih, pupuk, pestisida dan ongkos kerja) sekira Rp4 juta. 

Keunggulan lain dari sitem tanam yang diperkenalkan tim Probo tersebut adalah penggunaan pupuk dan pestisida organik yang aman bagi tanaman maupun lingkungan, dan sama sekali tidak mengggunakan pupuk dan pestisida kimia.

 

Probo menegaskan keinginannya untuk mengembangkan lahan produksi padi organik di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

“Selain mengarah pada swasembada beras, memproduksi beras yang berkualitas tinggi, sistem ini juga ramah lingkungan dan meningkatkan penghasilan petani,” ujar Probo yang ketika wawancara dengan ANTARA News mengenakan jaket putih berlogo Mercu Buana.

 

“Pak Harto berpesan, `kalian yang masih muda, tolong urusi mereka`,” kata Probo, dengan mata yang menerawang ke halaman rumah singgah yang berumput hijau dan tanahnya gembur ditandai lubang-lubang cacing di sana-sini. Tanah pekarangan tersebut digemburkan dengan pupuk organik ciptaan tim Teja Kencana Tani Makmur.

 

Enzimatik

 

Pupuk organik yang dinamai Cendana 1 dan Cendana 2, serta pestisida bernama Cendana 3 itu merupakan ramuan khusus hasil temuan Achmad Boedhihardjo, seorang arsitek yang secara khusus mengembangkannya sejak tujuh tahun lalu.

 

“Pada awalnya banyak orang tidak percaya akan kemanjuran pupuk kami, bahkan banyak ahli petanian yang meragukannya, tetapi dalam uji coba selama ini telah terbukti sawah yang kami olah dapat memproduksi sampai 10 ton per hektare,” ujar Boedhi.

 

Ia menjelaskan, pupuk organik yang dikembangkannya bekerja seperti enzim, yang dapat menjadi perangsang (stimulan) bagi alam untuk mengolah dan menghasilkan sendiri unsur-unsur penyubur yang diperlukan tanaman.  “Tanah yang kami pupuk menjadi gembur, cacing tumbuh, sinar matahari juga dapat berproses di dalam tanah untuk menyuburkan lahan,” ujar Boedhi dengan wajah berseri-seri dan suara penuh semangat, yang saat itu menyertai Probosutedjo.

 

Pada percobaan pertama hasilnya baru tujuh ton, tetapi pada panen kedua sudah menghasilkan di atas 10 ton per hektare.  Lahan yang sudah diuji, menurut dia, antara lain di Sumedang dan Indramayu yang dikerjakan bersistem kelompok tani yang merangkul pemilik lahan dalam skala kecil, seperti seperempat hektare hingga petani yang memiliki lahan di atas 100 hektare.

 

Boedhi menjelaskan bahwa senyampang mengembangkan lahan, tim tersebut juga terus melakukan penataan Sumber Daya Manusia (SDM) dan tata kelola yang terus menerus dievaluasi untuk menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif, menyangkut kejujuran dan keterbukaan dengan mengutamakan kesejahteraan petani.  “Harus sama-sama untung, agar petani bergairah mengikuti program ini,” tutur Probo, yang sudah bersiap melakukan safari sosialisasi program ke seluruh Jawa, NTB dan NTT segera setelah masa kebebasannya dari LP Sukamiskin.

 

Keinginan untuk melayani rakyat diwujudkan pula dengan keputusan tim tersebut untuk tidak membuat hak paten atas pupuk organik yang mereka ciptakan, bahkan rela membagikan cara membuat pupuk tersebut kepada siapa pun yang berminat.  “Siapa saja boleh meniru,” kata Probo, meskipun Cendana 1,2 dan 3 itu tidak diperjualbelikan.

 

Padi, menurut Probo, adalah tanaman yang penting bagi orang Indonesia sebagai konsumen beras dan kekayaan alam berupa lahan yang subur di Indonesia menjadi modal yang potensial untuk mengembangkan tanaman rumput-rumputan tersebut sebagai komoditas yang berpotensi menjadi penghasil devisa negara.

 

Probo juga meyakinkan bahwa tatacara bercocok tanam organik yang dikembangkannya itu tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga tidak perlu mencetak sawah-sawah baru, melainkan cukup meningkatkan produksi dari lahan yang tersedia.

 

Jumlah areal sawah di seluruh Indonesia mencapai sekitar 7 juta hektare dengan areal panen mencapai 11,7 juta hektare dan panen dua kali dalam setahun. Dari jumlah itu, luas areal sawah di Jawa mencapai sekitar 60 persen, atau sekitar 4 juta hektare, sedangkan kebutuhan beras nasional per tahun mencapai 30 hingga 31 juta ton beras.

 

Probo memperkirakan, dengan menerapkan cara bercocok tanam yang dikembangkannya di lahan sawah hanya di Pulau Jawa saja, maka kebutuhan padi atau beras nasional dapat dipenuhi.

 

“Tapi, saya sekarang hanya mampu mengembangkan pada 10.000 hektare,” ujar Probo, yang mengaku menanamkan dana Rp10 miliar untuk program tersebut.

 

Antara.co.id, 11/03/08 19:27 Oleh Maria D. Andriana

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s