Mudik, Bali Ndesa, Mbangun Desa

Mudik, Bali Ndesa, Mbangun Desa

DIKISAHKAN ada seorang pemuda, Agus Sutomo namanya. Ia telah merantau ke Jakarta selama lebih dari satu setengah tahun. Selama merantau, ia sering bercerita pada keluarga di kampung bahwa kehidupannya di Jakarta sukses. Perusahaan kargo tempatnya bekerja selama ini telah memberinya gaji yang sangat memuaskan. Namun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Dia hidup menganggur dan menggantungkan hidup dari belas kasihan teman-teman dari daerah asal.

Ketika lebaran hampir tiba, tokoh kita ini gusar bukan kepalang. Baginya tidak ada urusan penting selain mudik lebaran. Untuk menjaga citra sukses hidup di Jakarta, direkayasalah cerita bahwa dirinya menjadi korban perampokan sopir taksi. Agar ceritanya dipercaya keluarga, ia membuat surat keterangan dari polisi yang menyebutkan total kerugian yang dialami dalam peristiwa ‘’perampokan’’ itu sebesar Rp 30 juta.

Sangat Permisif

Cerita ini bukanlah penggalan cerita sinetron televisi atau sebangsanya, namun benar-benar terjadi menjelang lebaran 2007. Cerita ini sekaligus menggambarkan betapa sihir mudik lebaran bagi sebagian besar masyarakat kita tidak pernah lekang oleh waktu. Termasuk ritual mudik tahun ini, meski impitan ekonomi mendera masyarakat, sihir mudik lebaran tetap terasa kuat getarannya.

Bagi kaum urban, perayaan hari kemenangan tak lengkap tanpa mudik ke kampung halaman. Jadilah tradisi mudik lebaran tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, tetap semarak dan penuh pesona. Bagi sebagaian besar masyarakat kita, puncak hubungan emosional kaum urban terhadap komunitas asal tercurah saat mudik lebaran. Bagi masyarakat Jawa, fenomena ini sejalan dengan karakter sosial inward-looking yang sangat kuat mereka miliki. Suatu sifat yang cenderung menengok ke belakang, memandang masa lampau, dan menatap ke dalam.

Tidaklah heran jika semarak mudik lebaran makin tahun makin meningkat. Menurut Gubernur Bibit Waluyo, dalam lebaran tahun ini terdapat 37,7 juta jiwa yang makan di provinsi ini. Rinciannya, 33 juta jiwa merupakan penduduk yang selama ini menetap dan tinggal di Jateng. Sedangkan 4,7 juta jiwa lainnya adalah para pemudik yang merayakan Idul Fitri di kampung halaman (Suara Merdeka, 24/9/2008).

Kebahagiaan bisa mudik lebaran mengalahkan semuanya. Di hari ‘’normal’’, orang akan berpikir seribu kali kalau pulang ke kampung halaman, ketika penumpang berbagai moda transportasi berjubel, jauh dari nyaman, dan kenaikan tarif yang mencekik leher.

Tapi dalam suasana lebaran, orang tak perlu lagi berpikir panjang. Tak peduli harus berjuang mati-matian memperebutkan tempat duduk di berbagai moda transportasi. Kalau perlu loncat lewat jendela bus atau kereta api pun dijalani, yang penting sampai di kampung halaman dan bertemu sanak saudara. Dalam suasana lebaran, masyarakat menjadi sangat permisif dan mudah sekali mengatakan ‘’maklum, sedang lebaran’’!

Mobilitas Sosial

Selain sebagai ajang pamer kisah sukses di perantauan, mudik juga merupakan momentum paling tepat bagi kaum urban untuk mengukuhkan mobilitas status sosial secara vertikal di tempat asalnya. Keberhasilan dan kesuksesan usaha di kota merupakan bekal untuk peningkatan status sosial itu. Seringkali momentum lebaran dimanfaatkan kaum urban untuk memproklamirkan upacara pertunangan atau perkawinan antarkaum urban yang sukses di kota dan menjadi orang kaya baru (OKB) di kampungnya.

Status sosial ini antara lain ditandai dengan berbagai kekayaan yang dimiliki dari hasil kerja keras di kota, seperti rumah mewah, mobil, motor, barang-barang elektronik, dan berbagai kebutuhan konsumtif lainnya. Situasi ini terlihat mencolok di perkampungan asal kaum urban di beberapa daerah, seperti kampung juragan warung tegal (warteg), kampung juragan martabak, dan sebagainya.

Perkampungan juragan warteg di Kecamatan Dukuhturi dan juragan martabak di Kecamatan Lebaksiu, keduanya berada di Kabupaten Tegal, mendadak ramai menjelang lebaran. Kendaraan hilir mudik keluar masuk kampung mengantar aneka barang mewah yang dibeli para pemudik, mulai dari sepeda motor, barang elektronik, hingga furniture.

Pokoknya, gaya hidup snobisme yang memanjakan sifat konsumtif dan hedonis sangat kental terasa.

Selepas lebaran, kaum urban harus kembali ke tempat mengais rezeki di kota. Saat itu, bekal yang dibawanya saat mudik telah ludes selama perayaan lebaran. Ceritanya mencapai antiklimaks saat akan kembali ke kota. Mereka tak lupa membawa oleh-oleh ‘’wajib’’ berupa penganan intip (kerak nasi) dan karak (kerupuk dari sisa nasi). Oleh-oleh berupa makanan tradisional seperti ini seolah-olah menjadi simbol habis-habisan, usai merayakan lebaran di kampung.

Arus balik ke kota pascalebaran yang biasanya lebih besar dibandingkan angka mudik juga menggambarkan fenomena sosial, bahwa ketergantungan desa pada kota tak pernah putus. Karena itu, mudik merupakan momentum paling tepat untuk melakukan sosialisasi visi dan misi Gubernur Bibit Waluyo dan Wagub Rustriningsih: Bali Ndesa Mbangun Desa.

Mampukah visi-misi ini menjadi magnet kaum urban untuk kembali dan membangun desanya? Saatnya di hari yang fitri ini, kita membangun sinergi antarpelaku pembangunan di Jawa Tengah. Saatnya berbagi peran sesuai profesi yang dijalani. Betapapun kecil peran itu, tentu akan sangat berarti. (32)

Suaramerdeka.com – WACANA, 29 September 2008 – Ir Toto Subandriyo MM, aktivis Lembaga Nalar Terapan (LeNTera) Tegal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s