Targetkan Desa Organik

Go Organic 2010 yang dicanangkan pemerintah setahun silam, ternyata sudah dilakukan jauh hari oleh kelompok tani di Desa Pakis, Kecamatan Panti. Tiga tahun silam, Ketua Kelompok Tani Kemundungan Muhammad Makruf sudah melakukan olah teknologi organik rancangannya sendiri. Bahkan, kini pupuk organik buatannya itu terus diproduksi untuk menggeser pupuk kimia (anorganik) yang selama ini digunakan oleh petani. Bahkan, cita-cita bersama PPL dikawasan itu, DEsa Pakis akan dijadikan Desa Organik.

Menurut Makruf, olahan pupuk tersebut tidak jauh beda dengan buatan organic lainnya. Bahannya dari kotoran sapi atau ayam, abu sekam, dolomite, stardec (bakteri pengurai, Red). Komposisi yang ditakar dengan ukuran tertentu itu kemudian diaduk-aduk secara bertahap. Yang terang, setiap minggu, pupuk yang sedang diolah itu dibolak-balik agar bercampur hingga bakteri penguarainya beraksi dengan baik. “Setelah empat minggu, sudah siap digunakan. SElama ini, kami menggunakan di lahan pertanian warga,” ujarnya.

Awalnya, memang tidak mudah untuk mengajak warga menggunakan pupuk organik. Namun, lambat laun, setelah banyak bukti yang dirasakan petani, banyak yang kemudian mencoba pupuk organik tersebut. Apalagi, saat ini, program pemerintah menjadikan lahan pertanian pada 2010 nanti murni berkekuatan organik. “Padi yang diorganik hasilnya cukup bagus, karena kesuburan tanahnya terjaga. Tapi, karena selama ini banyak petani yang terlanjur menggunakan pupuk kimia, maka kami juga secara pelan-pelan mengajak warga,” tegasnya.

Untuk itu, bersama PPL setempat, pihaknya sepakat untuk menjadikan Desa Pakis sebagai Desa Organik karena potensi tanahnya yang masih sangat subur. Sehingga, kedepan, produk-produk pertanian di kawasan tersebut benar-benar berkekuatan organik. “Kalau menggunakan organik itu bisa lebih efisien untuk pemupukannya,” tegasnya.

Menurut PPL setepat Sugiono, angan-angan Desa Organik itu sudah sejak lama didengungkan. Hanya saja, karena masih kalah dengan pemakaian kimia, sehingga tekad tersebut belum terwujud. Untuk itu, pihaknya akan berusaha keras agar produk pertanian organik benar-benar memasyarakat, sehingga memiliki kekuatan sendiri. “Selama ini, kan pasar organic kesannya mahal, sehingga banyak yang belum laku keras. Padahal, menurut kami, menggunakan organik itu pertumbuhannya akan lebih bagus, sehingga petani dapat diuntungkan,” tegasnya.

Dikatakan, obsesi DEsa Organik itu akan tercipta jika didukung dengan kebijakan. Misalnya, jika produk padi organik itu sudah berhasil, para PNS mestinya bisa mengkonsumsi beras local organik yang terjamin kualitasnya. “Kalau didukung dengan kebijakan, INsya Allah petani tidak akan kesulitan untuk menjual maupun memasarkan, apalagi pemerintah sudah menerapkan Go Organic 2010,” tegasnya.

H Sofyan, warga Kaliwates yang memiliki lahan pertanian di Patrang juga mendukung penggunakan organik sebagai komoditas produk pertanian itu. Kedepan, dengan adanya produk pertanian organik, maka kualitas pertanian di Jember akan lebih baik. “Sebab, kalau organik itu kan mengembalikan kesuburan tanah, sehingga produk pertanian akan lebih baik,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya menyayangkan jika langkah cerdas Muhammad Makruf itu tidak direspon cepat. Sebab, meski belum mengetahui program pemerintah Go Organic 2010, Makruf sudah lebih dahulu membuat gebrakan menyehatkan. “Ini mestinya didukung, dibantu pemasaran, misalnya PNS wajib makan beras organik biar sehat, dan juga didampingi dalam perkembangannya,” tegasnya. (kun)

jawapos.co.id – Senin, 06 Oktober 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s