UKM Memperkokoh Eksistensi Desa

Menyimak artikel yang ditulis oleh pengamat ekonomi Prof Dr FX Soegiyanto pada Jumat, 12 September lalu ada beberapa hal menarik terutama menyangkut bagaimana rancangan strategi membangun Jawa Tengah ke depan. Disinggung pula mengenai peran UKM sebagai memiliki daya sedot terhadap angkatan kerja. Secara jelas dikemukakan Prof FX, usaha kecil menengah (UKM) punya kepekaan tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja dan mempunyai keberkaitan yang kuat dengan sektor pertanian. Jika pernyataan ini benar merupakan perhatiannya, maka artikel itu tentu memberikan penegasan sekaligus memberikan dorongan bagi Gubernur Bibit Waluyo untuk merealisasikan proyek ”bali desa mbangun desa ”.

Pernyataan Prof FX itulah memang realitas yang nyata, di mana dalam keseharian kita bisa menyaksikan betapa usaha menengah kecil itu memiliki daya hidup lebih kuat dibandingkan dengan usaha besar. Pada saat krisis akhir tahun 1990-an lalu, kelompok ini membuktikan memiliki daya lentur terhadap gejolak ekonomi moneter yang sangat besar. UKM di provinsi ini tersebar secara merata di setiap daerah, dan masing-masing daerah itu memiliki keunikan industri sendiri-sendiri. Wonogiri misalnya, sering identik dengan kekeringan, kemiskinan dan stagnasi ekonomi. Tetapi kita melihat, di daerah ini ada kekuatan industri mete yang dikerjakan rumahan tetapi memiliki penetrasi pasar yang cukup kuat ke luar daerah. Industri kecil Wonogiri ini relatif sepi pesaing dari daerah lain. Artinya, Wonogiri memiliki daya saing yang cukup kuat pada industri ini.

Sebagai ilustrasi, berdasarkan Sensus Ekonomi 2006, jumlah unit usaha di luar sektor pertanian adalah sekitar 22,7 juta unit dengan tenaga kerja sekitar 49,9 juta orang. Artinya, tiap unit usaha rata-rata mempunyai 2,2 orang tenaga kerja. Data ini sungguh merupakan kenyataan bahwa peranan UKM teramatlah signifikan. Meski pun harus disayangkan, mereka hanya memiliki sedikit akses ke perbankan. UKM masih menjadi minoritas di mata perbankan.

Analisa dari Bank Indonesia, ada sekitar 49 juta UKM di Indonesia, tetapi tak semua memiliki akses perbankan. Bahkan, yang menjadi nasabah kredit perbankan hanya sekitar 18,5 juta. Artinya, masih ada 30 juta yang belum memiliki akses perbankan. Di antara 30 juta ini barangkali tukang bakso, soto, warteg, tukang tambang ban yang meski pun memiliki daya hidup tinggi tetapi tidak bankable.

Domain Keprihatinan

Jika pernyataan Prof FX dikaitkan dengan rencana Gubernur Bibit untuk kembali ke desa, maka sudah sangat klop karena di sanalah sektor pertanian akan diperkuat. Desa, dengan posisinya yang menonjol sebagai kantong kemiskinan, tentu wilayah itu menjadi domain keprihatinan. Urbanisasi yang kian membengkak dari tahun ke tahun merupakan bukti yang tidak terbantahkan dari kenyataan tergerusnya eksistensi desa. Maka, upaya untuk menahan laju kepunahan eksistensi desa, pembangunan desa yang berbasis memperkuat sektor pertanian menjadi sebuah keniscayaan. Sebaliknya, melakukan pembiaran terhadap segenap proses ke arah punahnya eksistensi desa sama artinya dengan melakukan dengan sengaja pemubadziran potensi yang ada di dalamnya.

Pada konteks realitas, keadaan sekarang ini terjadi karena pemerintah gagal dalam melakukan berbagai upaya sistemik pembinaan demi mencapai derajat paling tinggi optimalisasi ekonomi pedesaan. Di samping, pemerintah gagal dalam menjamin ketercukupan infrastruktur demi memberikan ruang bagi optimalisasi ekonomidi pedesaan. Kelemahan di bidang infrastruktur ini juga disinggung dalam artikel Prof FX yang lalu itu. Dengan kelemahan infrastruktur seperti itu, maka pemerintah gagal melakukan transformasi ekonomi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Buruknya infrastruktur di pedesaan merupakan fakta yang kasat mata, sekaligus mempertegas kenyataan melemahnya eksistensi desa. Sistem irigasi yang kian memburuk lagi-lagi memperlihatkan contoh konkret ada kelalaian yang terlalu karena di situlah sebenarnya proses pertanian yang sehat ditumpukan. Kerusakan sistem irigasi merupakan contoh paling nyata hilangnya daya dukung pertanian yang bersifat sistemik bagi aktualisasi perekonomian desa.

Tanpa Daya Hidup

Dari kenyataan tersebut, maka kita dapat mengambil pelajaran tentang tidak adanya pembinaan pemerintah serta memburuknya infrastruktur hanya mengkondisikan perekonomian pedesaan kehilangan ”ruh”, sekaligus kehilangan etos industrial. Perekonomian pedesaan akhirnya hanyalah tampil sebagai sepenuhnya bercorak subsistensi serta tidak memliki kekuatan untuk bergerak ke arah industrial. Sektor ini hanya bertahan, untuk selanjutnya secara pelan-pelan tergerus tanpa memiliki gairah inovasi, kreativitas ataupun gairah yang lebih kuat untuk berkembang.

Selain itu, urbanisasi semakin meneguhkan diri sebagai pilihan akhir ketika sektor pertanian tak lagi mampu memberikan daya rangsang, daya pesona, atau pun daya hidup. Jika kehidupan tidak lagi memiliki tiga hal itu maka sama artinya mati pelan-pelan. Anak-anak usia kerja, atau usia produktif pedesaan akan lebih memilih kota sebagai tujuan, dan tidak lagi ingin bertahan untuk ”sekadar” menjadi petani tanpa masa depan.

Dengan keadaan desa yang sedemikian parah, maka harus ada ”penyelamatan” serius agar desa tidak semakin kehilangan daya hidupnya. Punahnya eksistensi desa dengan berbagai keruwetan yang melingkupinya bukan saja memperlebar jarak antara potensi dan aktualisasi perekonomian, tetapi bisa menjadi sumber kekacauan justru di tengah kemarakan demokrasi. Ekspresi di setiap harinya tidak lebih dari ungkapan kekesalan karena hidup semakin tidak bertambah baik.

Salah satu jalan yang bisa dibangun lebih lebar bagi berkembangnya UKM di pedesaan adalah mengkaitkan usaha kecil menengah dengan sekttor pertanian. Faktanya, UKM merupakan basis perekonomian nasional, dan karena itu harus diberi perhatian dan bantuan untuk pengembangannya. Beberapa masalah yang melingkupi UKM harus segera diatasi, dan karena itulah perlu diberikan bantuan. Dengan kata lain, kelemahan yang ada pada UKM bisa dijadikan alasan membuat program atau memberikan bantuan.

Pemberitaan yang negatif tentang UKM sering menjadi pemicu bagi perbankan enggan mengulurkan tangan memberi bantuan. Padahal justru seharusnya dimunculkan kesan yang sangat kuat bahwa UKM lah yang memliki daya lentur di tengah turbulensi ekonomi saat krisis lalu.

Tidak ada kata terlambat untuk mendayahidupkan eksistensi desa dengan bertumpu pada usaha kecil dan menengah yang mempunyai keterkaitan dengan sektor pertanian. Khusus Jawa Tengah, program penguatan UKM ini sangat strategis karena di sinilah salah satu kunci bagi keberlanjutan perekonomian daerah. Tetapi, tentu membutuhkan komitmen yang sangat tinggi pada semua pihak.

Suaramerdeka.com – WACANA – 18 September 2008, murdoko — adalah Ketua DPRD Jawa Tengah yang juga petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s