Petasan, Antara Tradisi dan Kriminal

Ramadan dan Idul Fitri terasa hambar tanpa petasan. Itulah yang ada di benak sebagian masyarakat.

Petasan dari yang berukuran kecil sampai yang bersuara menggelegar dinyalakan. Mereka tidak menghiraukan peringatan ataupun larangan dari pihak kepolisian. Jadilah, setelah tarawih atau setelah pelaksanaan salat Idul Fitri, jalan-jalan kampung tampak kotor akan sisa-sisa kertas petasan.

Pemberlakuan larangan tentang petasan sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun larangan penyalaan petasan tetap saja tidak dihiraukan. Dari tahun ke tahun, penyulut petasan semakin bertambah saja meskipun pihak kepolisian telah mencegahnya dengan merazia pedagang-pedagang petasan yang ada.

Di kampung-kampung, masih saja banyak penduduk yang dengan seenaknya menyulut petasan. Jadilah, Ramadan dan Idul Fitri tetap saja diwarnai aksi petasan.

Petasan seolah telah membudaya dalam hidup masyarakat. Ramadan dan Idul Fitri identik dengan petasan. Itulah anggapan mereka. Jika pedagang petasan terkena razia, penduduk berinisiatif membuat petasan dengan cara mereka sendiri. Mulai membuat petasan dari kertas sampai dari bambu yang jika disulut akan mengeluarkan suara yang keras seperti meriam.

Mengambil pembenaran bahwa itu tradisi, sepertinya petasan jadi sulit diberantas. Namanya juga tradisi.

Benarkah acara meledakkan sumbu hingga memekakkan telinga dan membuat efek kejut yang luar biasa ini tradisi?

Ketika orang-orang sedang tarawih, gelegar petasan seringkali mengejutkan. Bukankah yang menyulut petasan seharusnya ikut tarawih, tradisikah ini? Saat masyarakat lebih khusyuk beribadah kepada Allah malah dimanfaatkan sebagian orang untuk menciptakan kegaduhan.

Seharusnya, jika kepolisian tidak menjangkau penyulut-penyulut petasan yang ada di kampung atau penyulut petasan yang membuat petasannya sendiri, pengurus RT atau RW-lah yang bertanggung jawab atas hal ini. Aparat di lingkungan kampunglah yang minimal harus memberikan sebuah penyuluhan tentang kekhusyukan ibadah saat Ramadan serta memberikan imbauan untuk tidak menyulut petasan di daerahnya.

Hal itu terasa sangat efektif jika anggota masyarakat saling mengingatkan apabila ada yang menyulut petasan. Dan akhirnya, marilah kita ciptakan suasana khusyuk beribadah saat Ramadan dan Idul Fitri tanpa gangguan petasan.

http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! – @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e8s Oercvteodber, 2008, 12:53 Oleh Taufiqur Rohman Pengajar di SMP Muhammadiyah 4 Gadung Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s