DPR Tak Tahu Kades Dilarang Kampanye

Aneh, Anggota DPR Tak Tahu Kades Dilarang Kampanye

Badan Pengawas Pemilu menyesalkan kurangnya pema­haman calon anggota legislatif (caleg) atas Undang-Undang Pemilihan Umum. Apalagi, yang kurang memahami un­dang-undang itu justru mereka yang masih menjadi anggota Dewan.

Ketua Bawaslu, Bambang Eka Cahyadi menyatakan hal itu di Jakarta, ketika tampil menjadi pembicara dalam launching hasil survei Indo Barometer.

Merespons berbagai perta­nyaan perihal mekanisme pem­berian suara yang tidak hanya berasal dari masyarakat tapi juga dari caleg. “Mereka bertanya, pemberian suara itu bagaimana, apa coblos masih sah? Ini caleg DPR dari partai besar lagi.”

Namun, yang paling menye­dihkan, menurut Bambang, ternyata ada juga caleg yang tidak memahami larangan ber­kampanye melibatkan aparat desa. Anehnya, si caleg justru anggota DPR yang seharusnya lebih tahu undang-undang. “Ada anggota DPR sekarang tidak tahu, apakah kepala desa bisa berkampanye? Rintangan yang menyedihkan.”

Bambang juga mengaku prihatin melihat banyaknya spanduk yang sama sekali tidak memberi pendidikan politik kepada masyarakat. Metode kampanyenya juga masih tra­disional.

’’Asal pasang spanduk leng­kap dengan gambar dan nomor urutnya, setelah itu dianggap selesai. Sementara pendidikan politik yang kita harapkan tidak muncul.”

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qo­dari, juga menjelaskan banyak ma­sya­­rakat yang kecewa me­lihat kualitas anggota DPR. Peneliti senior ini bahkan per­nah ber­tanya kepada salah satu anggota Dewan yang juga pe­tinggi parpol. Si anggota De­wan itu ternyata tidak tahu Undang-Undang Pemilu me­nye­butkan, pemberian tanda surat suara itu sah dengan sekali memberi tanda. “Apa benar seperti itu (bunyi pasal dalam undang-undangnya, red)?” kata Qodari menirukan ucapan si anggota Dewan.

Karena itu, dia mengingat­kan perlunya melakukan anti­sipasi guna mencegah besar­nya jum­lah suara tidak sah pada pemilu nanti. Informasi kepada pemilih terhadap ca­leg-calegnya harus disampai­kan secara luas kepada pe­mi­lih, dengan demikian ter­cipta pemilu berkualitas. “Kita inginkan pemilih tidak hanya sekedar datang ke TPS seka­dar memilih, itu sama saja men­­coblos dengan mata ter­tutup.” KAL

http://rakyatmerdeka.co.id/edisicetak/ Senin, 12 Januari 2009, 02:01:00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s