Utopia pembangunan desa

Pembangunan Pedesaan, Sebuah Utopia

Ahluwalia
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Indonesia adalah negeri yang gagal membangun pedesaan dan menyebabkan arus urbanisasi mengalir ke perkotaan. Ketiadaan jalinan produksi dengan sektor modern, dan lemahnya diversifikasi pertanian menjadi salah satu pendorongnya.

Di Indonesia, tidak ada keterkaitan apa yang terjadi di masa lampau (backward linkage) hasil-hasil pertanian ke sektor modern (forward linkage), sekaligus juga tak tercipta keterkaitan produksi (production linkage).

Yang terjadi malah keterkaitan konsumsi (consumption linkage). Artinya, kota-kota besar di negeri ini justru menjadi parasit dan menyedot sumber daya desa secara gila-gilaan. Tetesan ke bawah (trickle down effect) dan sebaran kemakmuran (spread effect) tidak pernah terjadi!

Saratri Wilonoyudho, dosen dan peneliti FT Universitas Negeri Semarang mengungkapkan, industri yang banyak dikembangkan adalah industri substitusi impor. Sementara pusat kapitalisme tetap ada di New York, Berlin, London, atau Tokyo. Wajar jika modernisasi pertanian terhambat dengan serius.

Dalam hal industri substitusi impor yang dikembangkan teknokrat Mafia Berkeley ala Prof Wijoyo Nitisastro cs, negara-negara maju amat ketat mengontrol teknologinya, sehingga Indonesia hanya bertindak sebagai ”tukang jahit”.

Tudingan itu diperkuat oleh temuan ekonom Australia Prof Hal Hill dua dasa warsa silam, dalam artikelnya yang berjudul ‘Foreign Investment and Industrialization in Indonesia’. Ia mengkritik industrialisasi itu tak menguntungkan Indonesia.

Menurutnya, hampir 100% teknologi yang beroperasi di Indonesia dikuasai oleh asing, terutama Jepang. Pernyataan Casson dan Pearce (1987) juga memperkuat alasan itu, yakni perusahaan multinasional negara maju yang beroperasi di negara berkembang sangat ketat mengontrol penguasaan teknologinya, ketimbang mengontrol penguasaan modal.

Akibat kontrol teknologi yang ketat dari ‘pemiliknya’, maka perusahaan atau industri di dalam negeri juga hanya tergantung dari negara-negara maju. Mereka hanya menggunakan alat, dan tidak memiliki research and development (R&D). Bukti ini ditemukan ekonom LIPI Dr The Kian Wie atas 12 perusahaan swasta terbaik di Indonesia.

Apalagi hubungan industrial akan bergantung pula kepada eskalasi pengendalian teknis atas penguasaan alam, peningkatan administrasi manusia dan hubungan di antara mereka, melalui manipulasi-manipulasi organisasi sosial-politik.

Sebagai akibat semua itu, pembangunan pedesaan kian jauh tertinggal dari sektor modern perkotaan yang konsumtif dan tak kreatif serta menghisap sumber daya ekonomi rakyat desa.

Sementara desa-desa di negeri ini mengalami kelangkaan kesempatan kerja. Justru produk-produk modern dari kota dan dari pusat kapitalisme dunia deras mengalir ke desa.

Maka, sampai 10 tahun reformasi ini, tidak ada hasilnya bagi rakyat desa karena pembangunan tetap berpusat di kota-kota besar dengan industri substitusi impor yang tak menguntungkan masyarakat. Pembangunan pedesaaan pun menjadi sebuah mimpi alias utopia. [E1]

www.inilah.com 05/02/2009 – 13:44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s