Model Desa Konservasi

Model Desa Konservasi (MDK)

Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi sudah dilakukan sejak tahun 1993 oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional (TN) melalui pengembangan daerah penyangga. Karena hasilnya belum maksimal, maka sejak tahun 2006 pola pemberdayaan masyarakat tersebut dirubah melalui Model Desa Konservasi (MDK). Pembangunan MDK merupakan upaya konkrit pemberdayaan masyarakat disekitar dan didalam kawasan konservasi yang dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan kawasan konservasi. Pembangunan MDK meliputi 3 kegiatan pokok yaitu pemberdayaan masyarakat, penataan ruang/wilayah pedesaan berbasis konservasi dan pengembangan ekonomi pedesaan berbasis konservasi.

Tujuan pembangunan MDK disekitar Kawasan Konservasi (KK) yaitu dari aspek ekologi/lingkungan, MDK dapat menyangga KK dari berbagai gangguan, memperluas habitat flora dan fauna yang ada di KK, menambah areal serapan air jika terletak dibagian hulu sungai, menangkal bencana alam berupa banjir, erosi, angin serta bencana lainnya. Dari aspek ekonomi, melalui MDK diharapkan pendapatan masyarakat dapat meningkat, tercipta berbagai aktivitas masyarakat untuk menambah pendapatan, potensi SDA yang ada dapat bernilai ekonomi melalui pengelolaan dengan teknologi yang sesuai, dan diharapkan roda perekonomian pedesaan dapat berputar. Dari aspek sosial, dengan pemberdayaan masyarakat melalui MDK pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dapat meningkat, masyarakat diharapkan dapat bersikap positif dan mendukung pengelolaan kawasan konservasi, kesehatan masyarakat dapat meningkat karena kondisi lingkungan pedesaan yang sehat dan diharapkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan berkurang.

Sampai akhir tahun 2008, tercatat telah terbentuk kelembagaan di 127 MDK sebagai wadah perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat.  Sebanyak 120 Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Polhut Balai TN dan BKSDA telah dilatih melalui Training of Trainer sebagai fasilitator/pendamping kegiatan pemberdayaan masyarakat. Jumlah petani yang telah ditingkatkan kapasitasnya sebanyak 3.810 orang sebagai petani pemandu. Saat ini telah terdata sebanyak 2.857 desa (1.595.870 Kepala Keluarga) disekitar kawasan konservasi, dengan jumlah desa yang telah dibina sebanyak 1.360 desa (447.077 kepala keluarga).

Beberapa usaha ekonomi masyarakat yang berkembang, baik yang dibina oleh Balai TN dan KSDA maupun yang dilakukan oleh mitra antara lain TN Gunung Gede Pangrango, TN Ujung Kulon, TN Danau Sentarum, TN Wasur, TN Sebangau, TN Gunung Halimun Salak, TN Alas Purwo, BKSDA Maluku, BKSDA Jambi, BKSDA Kalbar. Contoh usaha ekonomi masyarakat yang berkembang di TN Gunung Gede Pangrango antara lain kerajinan tangan, budidaya jamur, peternakan, home industri. Di TN Ujung Kulon berupa kerajinan souvenir gantungan kunci badak serta budidaya anggrek.

http://www.dishutsumsel.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s