Semangat Liligundi, kades Made Dana

AYU SULISTYOWATI [ kompas.com. Jumat, 13 Februari 2009 | 00:48 WIB ] Untuk mengusir nyamuk, warga Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali, mempertahankan cara-cara tradisional, yakni dengan asap hasil pembakaran daun dan sedikit batang liligundi. Kebiasaan nenek moyang ini bertahan berkat kegigihan I Made Dana.

Ya, tanaman liligundi (Vipex sp) yang mulai langka dan dilupakan oleh generasi muda ini dapat dijumpai dengan mudah di Desa Sanur Kauh. “Nah, begini cara nenek moyang kita zaman dahulu mengusir nyamuk demam berdarah,” kata Made Dana (54) sambil tangannya memegang batang dan daun liligundi yang sudah berasap karena dibakar.

Lelaki yang terpilih menjadi kepala desa sejak tahun 2002 itu mengaku tidak mudah mengajak tetangga-termasuk istri dan anaknya-untuk membudidayakan sekaligus memanfaatkan liligundi. Bahkan, hingga sekarang pun ia masih kesulitan memasarkan produk berbahan baku tanaman yang sepintas daunnya mirip daun belimbing itu.

Pada awal tahun 2002, ketika mulai mengolah tanaman liligundi, ia sempat dicemooh. “Mereka menganggap saya gila. Zaman modern seperti ini kok masih sempat-sempatnya mengolah obat antinyamuk,” tutur Made Dana.

Namun, Made Dana tidak patah semangat. Ia terus berinovasi, bagaimana caranya agar daun kering liligundi bermanfaat bagi banyak orang. Pria beranak empat itu mengakui, dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai pengolahan bahan-bahan untuk antinyamuk. Ia hanya mempelajari dari buku-buku. “Soal modal, saya tidak punya. Modal saya hanya keberanian dan tekad saja,” ujar Made Dana.

Ia terus mencari tahu bagaimana liligundi bisa jadi obat antinyamuk bakar, tetapi bentuknya bukan seperti yang dijual di pasaran. Bentuk antinyamuk liligundi dalam benak dan bayangannya adalah hio atau dupa berbentuk limas dengan bau wangi tak menyengat, serta tak membuat sesak napas dan banyak asap yang memenuhi ruangan ketika dibakar.

Bayangan itu terus mengejar Made Dana dalam kesehariannya hingga akhirnya dia melakukan sendiri seluruh proses perwujudan mimpinya itu.

Dikeringkan

Daun-daun hijau liligundi dikeringkannya secara manual di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Selanjutnya, daun yang telah benar-benar kering ditumbuk secara tradisional dengan alu serta lesung agar menjadi bubuk halus.

Kemudian, bubuk liligundi dicampur dengan tepung kanji dan sedikit lem kertas serta bubuk kayu. Pencampuran ini bertujuan agar bubuk liligundi bisa pekat dan mudah dibentuk menjadi limas-limas berukuran sekitar 10 sentimeter yang mengerucut.

Meskipun disangsikan beberapa warga sekitar, Made Dana mengakui dia tetap mendapat dukungan dari sekitar 7 warga yang baginya merupakan teman setia dalam proses pengolahan daun liligundi. Ia lalu menjadikannya sebuah kelompok K3 (Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan) Desa Sanur Kauh.

Selesai dibentuk menjadi limas-limas liligundi, Made Dana yang juga bekerja sebagai pemandu wisata berbahasa Jepang ini masih harus menunggu bahan racikannya itu mengering di bawah terik matahari. Setelah melalui proses dan uji coba selama beberapa bulan di rumahnya di Tukad Bilok III No 1, Made Dana pun bisa bernapas lega.

Produksi

Sejak tahun 2002 hingga sekarang, rata-rata dia mampu memproduksi 260 bungkus dengan isi empat batang setiap bulannya. Ia memasang harga Rp 2.500 per bungkus.

Sukses Made Dana mulai mendapat simpati belasan warga sekitar. Mereka ikut membuat antinyamuk liligundi di rumah masing-masing. Hasil olahan tetangga itu dibeli oleh Made Dana dengan harga Rp 1.500 per bungkus. Kini, antinyamuk liligundi juga mulai diterima oleh wisatawan asing yang datang ke Bali.

Selama menunggu proses pembuatan obat antinyamuk bakar liligundi, Made Dana tak tinggal diam. Ia memanfaatkan keahliannya dalam seni lukis dan mendesain bungkusnya agar menarik ketika dipasarkan.

Bungkusnya berbentuk trapesium, disesuaikan dengan limas-limas liligundi jika disusun berjajar. Pada bagian depan tampak lukisan dua laki-laki dan perempuan tengah sembahyang dengan latar pemandangan gunung. Selain itu, tertulis pula Linting Liligundi dengan merek Somya (dari alam kembali ke alam) dan Sampunang Ngarubeda (jangan ganggu kami) sebagai slogannya.

Menurut Made Dana, somya merupakan sebuah amanah agar jangan melupakan warisan leluhur. Liligundi merupakan tanaman alam dan nyamuk juga merupakan hewan alam sehingga alam pula yang semestinya melawannya, bukan dengan zat-zat kimia.

“Selain itu, saya juga menyayangi alam agar tidak menambah pencemaran lingkungan dengan menggunakan zat kimia berlebihan. Dengan memanfaatkan liligundi ini, saya merasa sedikit lega karena bisa memelihara dan melestarikan alam,” jelasnya.

Sampunang Ngarubeda diartikan Made Dana sebagai slogan agar nyamuk itu mati atau menjauh setelah menghirup asap dari bahan antinyamuk bakar liligundi.

Setelah produksi berjalan lancar, Made Dana masih menghadapi kendala dalam pemasaran. Berbagai kritik terlontar dan menjadi masukan buatnya, antara lain, harga yang Rp 2.500 per bungkus (isi 4 batang) dinilai terlalu mahal.

Made Dana mengakui, produknya itu memang terasa mahal karena tiap batang hanya bisa bertahan dari 45 menit, bahkan sering kurang dari itu. Adapun satu lingkaran antinyamuk bakar yang biasa dijual di pasar bisa bertahan hingga 6 jam. “Saya tidak memungkiri itu. Tetapi persoalannya, obat nyamuk liligundi ini lebih aman, lebih alami, dan diproduksi secara tradisional. Jadi wajar jika mahal,” tuturnya.

Made Dana menyatakan akan terus berusaha menjadikan liligundi bakarnya itu sebagai produk yang menarik dan dikenal banyak orang, tidak hanya di Bali saja.

“Saya yakin mampu menembus pasar itu,” ujarnya mantap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s