Nur Kamid, Mengangkat Harkat Anak Jalanan

M Fajar Marta [ kompas.com  Sabtu, 3 Januari 2009 | 00:55 WIB ]    Nur Kamid hanyalah pedagang asongan yang sudah dijalaninya lebih dari 30 tahun. Selama belasan tahun ia bergelut hidup dari satu terminal ke terminal lain sebelum menjadi pedagang asongan yang cukup besar.

Namun, dari pengalamannya itu, ia mendapatkan makna kehidupan bahwa seseorang yang tak memiliki apa pun, mantan preman, bahkan buta huruf sekalipun, tetap bisa “sukses” jika mau berusaha dan menikmati profesinya. Bahkan, Nur Kamid mampu mengentaskan ratusan anak jalanan yang terbuang menjadi manusia mandiri.

“Sejak berdagang asongan di Terminal Gilingan Tirtonadi, Solo, saya merekrut anak-anak jalanan yang menganggur dan biasa mangkal di terminal untuk menjadi pedagang asongan. Ini agar bisa mendapatkan uang halal dan tidak menyusahkan orang lain,” katanya.

“Ternyata, jika diberi kepercayaan secara tulus dan diperlakukan manusiawi, mereka bisa bekerja secara jujur,” kata Nur Kamid yang tak pernah mencicipi bangku sekolahan ini.

Tak hanya preman, ia juga memberi kesempatan kepada remaja yang masih bersekolah, tetapi kurang mampu untuk menjadi pedagang asongan, guna mengais rezeki untuk membiayai sekolahnya. Ia membedakan perlakuan atau pembinaan terhadap anak buahnya yang preman dan yang berstatus pelajar.

Terhadap mereka yang preman, ia tak lantas menyalahkan dan menghakimi mereka. Ia hanya menjaga agar mereka tak berbuat melampaui batas, merusak diri sendiri, apalagi mengganggu orang lain.

Terhadap pedagang asongan yang pelajar, ia mengawasi ketat dan mendidik keras agar mereka tak terkontaminasi kehidupan liar terminal, berjudi, atau mabuk-mabukan.

Ia juga peduli terhadap anak buah. Setiap hari istri Nur Kamid menyediakan makan cuma-cuma buat mereka. Jika ada anak buah yang sakit atau kesulitan biaya menyekolahkan anak, ia tak segan memberi perhatian dan meminjamkan uang.

Dengan rasa saling percaya yang besar antara dirinya dan anak buah, dia bisa menerapkan pola sederhana dalam menjalankan bisnis. Para binaannya itu bisa mengambil barang dagangan darinya sesuka hati, tanpa jaminan, dan hanya dicatat ala kadarnya. Ini mengingat Nur Kamid tak bisa baca-tulis. Setelah berdagang pada sore atau malam hari, anak buah diminta menyetor sesuai dengan perjanjian.

“Sudah banyak anak buah saya yang menjadi orang, jauh melebihi saya. Ada yang jadi polisi, pegawai negeri, juga pemborong besar. Mereka tak lupa sama saya. Kalau mereka ke Solo, pasti mampir ke rumah,” katanya senang.

Keras

Sejak masih bocah 8 tahun, Nur Kamid harus bekerja membantu orangtua menjadi penggembala kerbau di desa kelahirannya, Purwodadi, Jawa Tengah. Tak tahan melihat hidup keluarganya yang susah, pada usia 12 tahun ia nekat merantau. Ia tak pamit kepada orangtua karena pasti tak diizinkan.

Tujuannya hanya satu, mencari uang lalu pulang untuk memberi makan keluarga. Namun, dalam usia yang masih bocah, tanpa modal, berkelana sendirian, ia tak tahu persis bagaimana mencari uang. Menumpang kereta dari Purwodadi, Nur Kamid terdampar di Stasiun Tawang, Semarang. Dengan perut lapar karena tak cukup makan, ia berhari-hari tidur di emperan stasiun.

Nur Kamid lalu mencoba berjualan koran. Setelah sepuluh hari, ia merasa uangnya cukup. Si anak hilang pun pulang. Uang hasil jerih payah di Semarang diberikan semuanya kepada orangtua.

Begitu persediaan menipis, Nur Kamid kecil bersiap merantau lagi, mengais rezeki. Itu dilakukannya selama bertahun-tahun. Seiring waktu dan pengalaman, tak hanya Semarang yang dirambahnya. Lokasi yang dituju makin jauh, ke Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Satu per satu kehidupan keras dan liar ala terminal di kota-kota besar dia lakoni. Ia mengakui pernah terseret hidup penuh alkohol dan judi. Namun, ia tak pernah berhenti bekerja keras. Ia pun selalu pulang, menyetorkan uang yang dia peroleh kepada orangtua.

Setelah melanglang buana ke berbagai kota selama belasan tahun, pada 1991, ia mencoba berjualan asongan secara tetap di terminal di Solo. Itu pun setelah dia beristri. Dengan modal minim hasil menjual perhiasan sang istri, Nur Kamid mencoba berjualan majalah usang. Lambat laun, majalah yang dijualnya semakin banyak hingga ia bisa merekrut para penganggur yang mangkal di terminal.

Saat majalah usang mulai sulit didapat, ia banting setir menjadi agen permen jahe yang dipesan dari daerah lain. Permen yang dibeli secara kiloan itu dengan telaten ia bungkus dalam kemasan plastik kecil dengan isi beberapa butir. Dengan modal Rp 20 per bungkus, ia bisa menjual Rp 50 per bungkus. Nur Kamid juga kreatif dalam menjual.

“Saya mengajari anak buah menaruh permen jahe tersebut ke pangkuan para penumpang bus. Ketimbang menawarkan lewat omongan, cara ini lebih berhasil,” katanya.

Jumlah anak buahnya terus bertambah. Ia punya anak buah lebih banyak dibandingkan agen asongan lain, mencapai sekitar 80 orang waktu itu. Selain di terminal Solo, Nur Kamid juga menjajakan permen jahe ke terminal-terminal di kota lain, seperti Sragen, Ngawi, dan Giribangun. Namun, di kota-kota itu dia hanya mengedrop untuk agen-agen lain.

Kala itu, sekitar tahun 1992-1994, omzetnya mencapai Rp 1,5 juta per hari dengan keuntungan bersih sekitar Rp 375.000 per hari.

Ketika pasar permen jahe menurun tahun 1995, Nur Kamid menciptakan produk asongan lain, keripik belut. Masa krisis 1997-1998 menjatuhkan omzet penjualannya. Namun, ia tetap bertahan. Malah, selepas krisis usahanya justru berkembang. Pada awal tahun 2000-an, ketika usahanya tengah menanjak, dia kehilangan kontrol. Ia kembali pada kebiasaan lama, berjudi. Maka, usahanya terancam bangkrut karena kalah berjudi.

Kenyataan itu membuat ia tersadar. Ia ingat orangtua, keluarga, dan perjuangan hidup belasan tahun yang amat berat. Ia lalu menata kembali kehidupannya. Apalagi, BNI bersedia meminjamkan dana sebagai modal dia membangun usaha lagi. Tahun 2003 BNI memberinya pinjaman Rp 50 juta.

Langkah BNI menyalurkan pinjaman kepada Nur Kamid tak salah. Sebagai pekerja keras yang makan banyak asam garam dalam berbisnis asongan, membuat usaha Nur Kamid berkembang lagi. Tahun 2006 BNI kembali memberikan pinjaman sebesar Rp 180 juta untuk dia guna memperluas usaha.

Setelah berbagai cobaan yang mendera, jatuh bangun dalam berusaha, belakangan Nur Kamid semakin mantap berjalan. Omzet penjualannya mencapai Rp 7,5 juta per minggu. Ia pun menjadi agen asongan besar yang menjual belasan jenis produk, seperti berbagai minuman, makanan ringan, dan tisu.

Ia punya gudang sendiri untuk tempat menyetok barang. Nur Kamid bersyukur telah memiliki rumah dan mobil. Pengalaman yang banyak dan pergaulan yang luas di area sekitar terminal membuat dia ditunjuk menjadi Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Sido Mapan, kumpulan PKL yang mangkal di sekitar Terminal Gilingan Tirtonadi, Solo.

Satu pemikiran pada “Nur Kamid, Mengangkat Harkat Anak Jalanan

  1. m.syahroni musthofa berkata:

    Aq roni pak q punya toko kelontong n q berdagang.. Sejak smu q dah di tinggal bpk q.. aq butuh krja sama aq butuh pinjaman brang dgangan jika bpak brkenan membntu saya bisa menghubungi saya di no hp. 085235349671 trmakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s