Keteguhan Berkesenian Mbah Tjip

MOHAMAD FINAL DAENG [ kompas.com   Rabu, 7 Januari 2009 | 03:00 WIB ]  Dunia kesenian Indonesia telah menghasilkan tokoh-tokoh besar. Namun, tidak sedikit pula “aktor” kecil yang sebenarnya juga banyak berjasa dalam  membesarkan dan melestarikan kesenian bangsa. Dalam dunia kesenian Jawa, khususnya wayang orang, peran FX Sutjipto Wibagkso (65) tak bisa diremehkan.

Di salah satu pojok terkumuh di dalam kompleks Taman Hiburan Purawisata, Yogyakarta, “mutiara” kesenian itu bersinar terang. Sutjipto Wibagkso, atau yang lebih akrab disapa Mbah Tjip, telah menjadi penghuni tetap Purawisata sejak tahun 1975.

Ia adalah tetua kelompok seni wayang orang Ramayana Ballet yang pentas setiap hari tanpa henti di Purawisata sejak 32 tahun lalu. Meski rambut telah
memutih dan gigi tak lagi utuh karena usia, Mbah Tjip masih tegar menjalani hidup berkesenian yang ditekuninya sejak berusia 10 tahun.

Di salah satu kamar berukuran 2 meter x 3 meter yang disediakan pengelola Purawisata, Mbah Tjip tinggal sejak 1975. Dalam kelompok Ramayana Ballet, Mbah Tjip sehari-hari bertugas sebagai koordinator dekorasi dan kostum yang menunjang penampilan 60 pemain sendratari. “Kalau jadi sutradara atau pemain, ya sudah tidak kuat lagi,” katanya pekan terakhir Desember 2008.

Menjadi pemain dan sutradara wayang orang sudah kenyang ia lakoni sewaktu muda dulu. Beberapa kelompok kesenian wayang orang yang besar di zamannya, seperti Cipta Kandar Yogyakarta, Wayang Orang Edi Budaya, dan Wayang Orang THR, pernah disinggahinya.

Namun, sosok Mbah Tjip sebenarnya lebih dikenal sebagai pembuat dekorasi panggung seperti latar belakang keraton, pedesaan, tiang-tiang, dan alas. Berbagai ornamen penunjang pertunjukan lainnya juga  menjadi ladang garapannya.

Karya-karyanya telah menghiasi panggung-panggung besar pementasan wayang orang pada dekade 1970-1990-an di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan
sekitarnya. Mbah Tjip juga menekuni bidang pembuatan kostum wayang orang. Dalam dua bidang itu, kakek empat cucu tersebut telah ikut membesarkan
kesenian wayang orang, bahkan hingga ke luar negeri.

Darah seni

Darah seni dalam dirinya mengalir dari kedua orangtuanya yang pemain wayang orang Sriwedari Solo. Meninggalnya sang ayah pada 1953 membuat ibunya menjalankan kelompok seorang diri. “Awalnya saya tidak tertarik bermain wayang orang karena masih mau melanjutkan sekolah. Namun, saya kasihan sama ibu yang mengurusi kelompok wayang seorang diri. Jadi dari situ saya mulai belajar menari,” katanya.

Dari situlah ia mulai menjadi pemain wayang orang dan sempat berpindah-pindah kelompok sebelum memutuskan masuk Yogyakarta pada 1975 dan bergabung dengan kelompok Wayang Orang THR.

Pada saat ekonomi sedang sulit, sekitar tahun 1975, datang tawaran dari seseorang di Temanggung yang meminta dibikinkan dekorasi panggung. “Tawaran itu saya ambil meski sebelumnya tak pernah melukis dekorasi,” katanya.

Ternyata, hasil karya pertamanya itu disukai si pemesan. Sejak itu, pesanan datang dari kampung-kampung sekitar yang ingin mengadakan pertunjukan wayang orang. “Waktu pementasan masih ramai seperti dulu. Dalam satu bulan saya bisa mengerjakan tiga dekorasi panggung,” katanya.

Bahkan, karyanya dipakai bukan hanya untuk wayang orang, melainkan meluas untuk berbagai seni pertunjukan lain, hingga dekorasi restoran. Kala itu, reputasi
Mbah Tjip sudah melebar hingga ke luar Jawa, bahkan sampai di negeri Belanda.

Permintaan pembuatan dekorasi dan latar belakang panggung (backdrop ) mulai surut seiring menyusutnya pertunjukan wayang orang. Terlebih lagi pada akhir tahun 1990 ketika komputer mulai mendominasi pembuatan latar belakang panggung. Perlahan tetapi pasti, Mbah Tjip mulai tergusur.

Namun, ia tetap setia dan “keras kepala” menekuni kesenian. Dia mulai menekuni bidang lain, yakni pembuatan kostum wayang orang. Dalam bidang ini ia juga terbilang cukup “sukses”. Dengan memodifikasi beragam bahan nonkulit yang dipadukan dengan kain dan manik-manik, hasil rancangan Mbah Tjip mendapat
tempat di hati para penari.

Hasil karyanya itu juga merambah hingga ke luar negeri. “Pada tahun 1998, empat setel kostum buatan saya dipesan orang Kanada untuk sanggar tari di sana,” katanya.

Bersahaja

Saat ini, dengan gaji Rp 700.000 sebulan yang diperoleh dari kelompok Ramayana Ballet, Mbah Tjip hanya bisa hidup pas-pasan. Penghasilan tambahan didapatnya dari order membuat backdrop dan kostum yang datang sesekali.

“Kalau ditotal-total, dalam sebulan paling hanya dapat Rp 1 juta. Sebenarnya tidak cukup, tetapi ya harus dicukup-cukupkan,” katanya.

Jika order datang dari teman- teman sendiri, Mbah Tjip “enggan” memasang tarif, bahkan terkadang dia serahkan tanpa bayaran. “Saya ini dari dulu tidak bakat kaya. Prinsip saya, kalau sering menolong orang, kita juga akan ditolong orang,” katanya.

Satu filosofi hidup lain yang masih tetap dipegangnya hingga semangat berkeseniannya tetap menyala adalah pesan mendiang ayahnya yang mengutip petuah
Jawa kuno, yakni luhuring bongso, margo budoyo, atau keluhuran suatu bangsa tak bisa lepas dari budayanya.

Karena filsafat itu pula, hingga kini Mbah Tjip tidak bosan-bosannya menularkan ilmu kepada generasi muda yang datang belajar kepadanya. Ia menjadi rujukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di DIY, seperti Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Yogyakarta(UNY) yang sering sowan kepadanya.

Ini pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Mbah Tjip masih betah tinggal di Purawisata meski anak-anaknya sering meminta dia pensiun dan tinggal bersama mereka. “Kalau saya tinggal di rumah anak, nanti orang-orang akan susah mencari saya kalau perlu apa-apa,” katanya.
BODATA

Nama: FX Sutjipto Wibagkso

Tempat, tanggal lahir: Klaten, Jawa Tengah, 10 November 1943

Pendidikan: Sekolah Rakyat Klaten (tidak tamat)

Istri: Tugiyati (meninggal tahun1975), Sunarsih (meninggal 1999)

Anak:
1. Budi Setyawati (36)
2. Ari Yuwono (33)
3. Mei Yuntarso (31)
4. Iin Fajar Indrati (28)

Cucu:
1. Rizki Agung (10)
2. Angga (4)
3. Satria Ramadhan (3,5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s