Onte Melawan Pembalakan Liar

Dwi As Setianingsih [  kompas.com Rabu, 25 Maret 2009 | 04:32 WIB ] Hutan yang tergerus pembalakan liar membuat pencinta alam kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara, Silverius Oscar Unggul, “melawan”. Setelah kampanye dan advokasi yang dilakukan Onte, panggilannya, tak mempan membendung pembalakan liar, dia pun menggalang masyarakat membentuk community logging.

Awalnya, Onte “hanyalah” mahasiswa pencinta alam biasa yang gemar naik-turun gunung untuk mengisi hari-hari kosongnya di Kampus Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari. Hobi naik-turun gunungnya itu kemudian membuat Onte menemui kenyataan pahit, alam yang seharusnya lestari, rusak parah karena penggundulan hutan.

Prihatin dan tidak bisa duduk diam melihat fakta menyedihkan itu, Onte bersama teman-teman sesama pencinta alam membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat Yascita (Yayasan Cinta Alam). Yascita dibentuk setelah Onte merampungkan kuliahnya pada tahun 1998. Dari sinilah dia mulai aktif melakukan investigasi terhadap kerusakan lingkungan hutan yang disebabkan oleh pembalakan liar.

“Banyak kasus pembalakan liar yang kemudian terkuak di Sultra,” ungkap Onte yang ditemui Jumat (20/3) di Jakarta dalam acara peluncuran Program Community Entrepreneurs British Council.

Salah satu contohnya, sebuah perusahaan hak pengusahaan hutan yang beroperasi di kawasan Konawe Selatan (Konsel) disinyalir turut andil dalam merusak lingkungan hutan di kawasan ini.

Sayangnya, tidak ada satu media pun yang mau memublikasikan temuan-temuan Yascita sehingga data yang mereka miliki hanya menjadi fakta tak berarti. Karena alasan itulah Onte bersama teman-temannya kemudian mendirikan Radio Swara Alam.

Namun, Swara Alam bukan radio seperti umumnya radio yang memiliki kantor besar dan sinyal pemancar kuat. “Radio Swara Alam sering dikatakan radio kandang ayam karena ruang siarannya kecil seperti kandang ayam. Frekuensinya juga sering menghilang kalau ada angin keras,” kata Onte mengenang.

Namun, dia pantang mundur. Baginya yang terpenting adalah radio itu bisa menjadi media untuk menyampaikan hasil-hasil investigasi yang mereka lakukan.

“Radio itu juga kami gunakan untuk advokasi kepada masyarakat tentang fakta adanya pembalakan besar-besaran di hutan kita,” kata Onte.

Tak puas hanya mengandalkan stasiun radio, Onte lalu mendirikan stasiun televisi, TV Kendari, dengan hanya bermodal beberapa kamera. Tujuannya tentu saja agar jangkauan kampanye isu-isu lingkungan hidup yang mereka sebarkan, terutama soal pembalakan liar, bisa semakin luas.

Akan tetapi, meski mereka sudah habis-habisan berkampanye, hasilnya tetap “jauh panggang dari api”. Pembalakan liar tetap terjadi, sekuat apa pun perlawanan yang dilakukan Onte bersama teman-temannya di Yascita.

“Dalam banyak kasus pembalakan liar, yang sering kali menjadi korban adalah rakyat kecil. Merekalah yang ditangkap karena pembalakan liar. Kalau di Papua, ya kepala adatnya. Akhirnya saya menyadari, kampanye saja tidak cukup,” katanya.

Tak sekadar kriminal

Pembalakan liar kemudian dipahami Onte tak hanya sebagai sebuah tindak kriminal terhadap hutan. “Di dalamnya ada korupsi, pemerintahan yang lemah, kekerasan, konflik, kehilangan pendapatan, pemiskinan masyarakat hutan, dan tentu saja harga diri bangsa,” kata Onte.

Dia mencatat, banyak kayu hasil pembalakan liar dikirim ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Bahkan juga dikirim ke China dengan dokumen palsu dari Malaysia.

Tahun 2005 kampanye melawan pembalakan liar “secara keras” pun dia hentikan. Onte kemudian memulai kampanye dalam bentuk lain, yakni dengan membentuk community logging.

Masyarakat yang semula terpecah belah dengan cukong kayunya masing-masing dipersatukan dalam Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI). Masyarakat Konsel diajak mengelola pohon jati dengan cara lestari kemudian hasilnya dijual melalui koperasi. Warga di Konsel umumnya memiliki lahan yang ditanami jati dengan jumlah mulai puluhan hingga ratusan pohon.

“Ini bukan perkara mudah, mengajak masyarakat yang sudah terbiasa terpecah belah dan dengan mudah mengambil kayu di hutan bergabung dengan koperasi. Mereka tak rela bila kayu yang mereka tanam sendiri diambil hasilnya oleh koperasi,” kata Onte.

Di sinilah letak perjuangan Onte. Bersama teman-teman, dia berjuang keras meyakinkan masyarakat bahwa menanam jati sendiri dengan pengelolaan lestari jauh lebih menguntungkan ketimbang menebang kayu di hutan dan hasilnya dijual kepada cukong. Apalagi bila kayu yang mereka hasilkan itu kayu bersertifikat.

Di sisi lain, dengan menanam sendiri, mereka tidak lagi turut andil dalam perusakan hutan. Selain mengelola kayu jati secara lestari, KHJLI juga menjalankan program tanam ulang 10 benih pohon baru untuk setiap pohon yang ditebang.

Kesepakatan anggota

Meski awalnya hanya 10 keluarga yang bersedia bergabung, lama-kelamaan kegigihan Onte berbuah manis. Ia berhasil membuktikan, koperasi yang dibidaninya bersama teman-teman, dan dikelola dengan cara dan resolusi konflik yang dibangun atas dasar kesepakatan anggota, mampu memenuhi semua persyaratan untuk mendapatkan sertifikat ekolabel internasional dari SmartWood of the Forest Stewardship Council.

“Karena sertifikat yang kami miliki itu satu-satunya di dunia yang diberikan kepada koperasi, permintaan kayu jati (dalam bentuk log) pun mengalir deras,” tutur Onte.

Setahun setelah koperasi berjalan, tiap anggota bisa mendapat penghasilan Rp 1.445.000 untuk setiap meter kubik kayu yang mereka jual. Penghasilan ini empat kali lipat lebih besar daripada pendapatan mereka sebelumnya.

“Sekarang, anggota koperasi sudah berjumlah sekitar 600 keluarga dengan jumlah pohon baru mencapai 2,2 juta,” kata Onte bangga.

Bahkan, para ibu rumah tangga yang dilibatkan dalam pembibitan berhasil menyediakan 5 juta pohon baru. Luasan lahan yang dikelola KHJLI kini mencapai 1.500 hektar. Segala susah payah membangun perlawanan terhadap pembalakan liar seakan terbayar sudah.

Namun, Onte tak mau diam sampai di sini. “Saya masih berharap ada industri yang mau menerima kayu dari masyarakat Konsel dalam bentuk setengah jadi sehingga nilai tambahnya meningkat. Jadi, kami bisa tunjukan kepada masyarakat, pengelolaan hutan bukan hanya diproduksi, tetapi juga pada industri,” katanya.

Ia pun berharap dibukanya pasar lokal agar produk masyarakat bisa masuk, terutama di masa krisis global kini.

“Saya juga ingin bentuk koperasi seperti ini bisa ditiru di berbagai tempat di Tanah Air untuk melawan pembalakan liar,” kata Onte.

2 pemikiran pada “Onte Melawan Pembalakan Liar

  1. Arsyad Abdullah berkata:

    Komentar anda di kompas pada tanggal 25 maret 2009, ” Onte melawan pembalakan Liar” kata-kata ini sangat mudah diucapakan namun untuk laksanakan dilapangan sangat sulit dilaksanakan, saya kira pembalakan liar di Indonesia sudah dilaksanakan oleh pelakunya sangat sistematis, bahkan sudah melibatkan semua steakholder dengan cara dan metode yang sangat beragam.

    Melawan Pembalakan liar sama saja kita melawan negara, kenapa karena negara juga ikut melakukan pembalakan liar untuk mengejar devisa, atau sama saja Pak onte bisa dibilang makar terhadap negara, tapi gagasannya perlu diapreasesi dengan baik mungkin niatnya tulus.

    saran buat bung onte saya kira perlu ada institusi yang independen yang melibatkan semua pihak untuk melakukan gagasan bung onte, bagaimana mewujudkan gagasan tersebut sehingga semua elemen maerasa ikut serta dalam memberantas pembalakan liar bila perlu DPR sekarang mebuat UU yang reformatif untuk menyelamat hutan kita, tidak cukup dengan UU yang ada saat ini,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s