Perlawanan Petani Muda Desa Sanggalangit

BENNY DWI KOESTANTO dan KORNELIS KEWA AMA [ Kompas.com  Rabu, 25 Maret 2009 | 05:05 WIB ] Kandang sapi komunal kelompok Niki Sato di Desa Sanggalangit adalah sebuah tempat pertemuan. “Asrama” sapi di kawasan kering, 40 kilometer utara Pelabuhan Gilimanuk, Bali, itu sekaligus menjadi tumpuan harapan.

Hari menjelang senja ketika para petani peternak mulai memasukkan sapi-sapi bali mereka ke kandang setelah dilepas di tegalan, Minggu (22/3). Ternak itu punya petak khusus, sesuai dengan nama sang pemilik yang tertera di bagian atas kandang. Ternak yang terlihat masih lapar diberi bonus daun lamtoro maupun gamal oleh para pemiliknya. “Mumpung hujan masih turun sehingga rumput maupun tanaman perindang berlimpah dan hijau. Awal bulan depan mulailah kami berhemat hingga musim hujan kembali datang,” kata Komang Sutarma (31), salah satu warga.

Di sudut kandang yang lain, Ketut Sudiarsa (28) sibuk mengangkat kotoran sapi dan memasukkannya ke kolam penampungan kotoran empat sapinya yang siap diolah sebagai pupuk kandang. Petak kandang sapinya bersebelahan dengan milik Wayan Murdjita (55), tetangga dekatnya. Para petani muda itu menampilkan rona wajah yang sama: kegembiraan.

Pertanian integratif dan ekologis/organik yang ditunjang dengan peternakan sapi memang telah mengubah wajah kehidupan Desa Sanggalangit, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, lima tahun terakhir. Roda perekonomian warga berputar dari hasil jual beli panenan tanaman, seperti jagung, palawija, dan bawang merah, hingga anakan maupun indukan ternak. Dari satu kelompok pertanian Niki Sato yang terdiri dari 30 anggota, kini telah ada 17 kelompok serupa. Itu artinya, dari sekitar 5.000 warga setempat, 80 persen di antaranya menaruh harapan hidup pada pertanian. Total sapi milik anggota Niki Sato 110 ekor.

Perubahan lahan tegalan kering menjadi hijau dan menghasilkan “menarik” pemuda setempat menekuni pertanian. Inilah kawasan pertanian subak abian, sistem subak pada lahan tegalan yang kering.

Keberhasilan sistem subak abian di Buleleng memicu perubahan sikap anak muda. Mereka yang merantau ke Kota Denpasar pun mau pulang. Sutarma dan Sudiarsa adalah dua di antara kaum muda itu. Sutarma pernah enam tahun menjadi juru masak sebuah restoran thailand di kawasan wisata Legian, Kuta. Sudiarsa empat tahun menghabiskan waktu di pabrik garmen berorientasi ekspor di Denpasar. “Jadi buruh paling-paling kami mengumpulkan Rp 600.000-Rp 800.000 sebulan. Itu pun selalu habis karena banyak pilihan hidup di kota. Sekarang kami tetap punya modal tanah dan ternak dengan hasil tetap bulanan pula,” kata Sutarma.

Dengan berkelakar, tetapi bernada serius, Sudiarsa mulai dapat merasakan kebanggaan menjadi petani. “Kami bukan sekadar petani, tapi lebih tepatnya pengusaha di bidang pertanian,” ujarnya.

Bali dengan pariwisatanya kini tiba pada kondisi dilematis. Sebagian melahirkan progres dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, Bali juga melahirkan ironi. Pariwisata diagung-agungkan, padahal ekologi dan budaya masyarakatnya menjadi korban. Bagaimana lahan subur pertanian-yang bertali-temali dengan struktur sosial dan adat-istiadat masyarakat Bali-kini didesak dan disesaki hotel berbintang maupun vila mewah. Kaum muda pun “tenggelam” dalam arti terseok sebagai bagian hilir, bahkan hanya sebagai penonton. Pariwisata budaya, cikal bakal kekuatan Bali, terpaksa ditinggalkan karena desakan pemodal.

Namun, di seberang lain, entah sebagai bentuk perlawanan diri atau ungkapan kreativitas dan kerja keras, tetap muncul pribadi dan kelompok yang percaya bahwa pertanian lestari adalah sumber dan daya hidup yang sesungguhnya menunjang pariwisata Bali, di samping kehidupan religi dan budaya.

Di Kecamatan Busung Biu, Buleleng, di ketinggian 600-850 meter di atas permukaan laut, gerakan pertanian integratif di kawasan subak abian menjadi bukti. Ribuan hektar ladang kopi tumbuh subur dengan hasil melimpah, bersamaan dengan hasil berbagai jenis kambing dan turunannya, seperti susu dan keripik susu, hingga produk wine salak bali. Sarjana-sarjana pun kembali ke kampung, ikut membangun pertanian di desa.

Penemuan

Ketua Kelompok Tani Mekar Sari Wardana mengatakan, penghasilan memadai dan perikehidupan yang relatif tenang di pedesaan menjadi sebuah “penemuan” yang tidak dibayangkan. “Kami memimpikan hidup tenang, tapi ketika tidak menghasilkan pasti kami lalu pergi ke kota. Mereka yang tidak siap mental di kota akhirnya tidak kuat dan uang pun ludes,” kata Wardana, sarjana teknik dari sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jawa Timur.

Kelompok Mekar Sari beranggotakan 60 orang. Satu anggota mempunyai 6-8 kambing dengan luas lahan 400 meter persegi hingga 1,5 hektar. Wardana mengaku, per bulan pendapatan petani peternak Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Mereka tidak pernah memikirkan membeli pupuk karena sistem pertanian integratif memungkinkan mereka memproduksi pupuk cair (biourine) dan kompos dari kotoran kambing dan kulit kopi.

Seperti halnya Desa Sanggalangit, pengembangan pertanian integratif di Busung Biu menjadi pesat karena sentuhan teknologi yang dimotori Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali melalui program Prima Tani. Mereka, antara lain, menciptakan mesin pengupas kulit kopi dan kacang serta membantu proses penciptaan pupuk cair dari kencing sapi/kambing. Ketika berhasil diterapkan, mereka memperluas daerah binaan.

Di Busung Biu kini ada lima desa dengan puluhan kelompok tani yang menerapkan pertanian integratif. BPTP Bali sekaligus memfasilitasi petani maupun kelompok tani daerah lain di Indonesia untuk belajar sistem pertanian ini langsung di Sanggalangit dan Busung Biu.

Suprio Guntoro, salah satu peneliti BPTP Bali yang membantu pengembangan pertanian integratif di Busung Biu, menyatakan, pertanian integratif di dataran tinggi di Bali juga ampuh untuk mencegah alih fungsi lahan, khususnya dari tanaman keras ke tanaman semusim. Dengan tanaman keras, erosi bisa dicegah, juga banjir dan tanah longsor.

Pada akhirnya, ketika program ini berhasil dan meluas, pantaslah orang seperti Sudiarsa dan Wardana disebut pengusaha bidang pertanian sekaligus penjaga lingkungan. Mereka lebih terhormat dibandingkan dengan pengusaha yang rajin merusak lingkungan.

pertanian sekaligus penjaga lingkungan. Mereka lebih terhormat dibandingkan dengan pengusaha yang rajin merusak lingkungan.

4 pemikiran pada “Perlawanan Petani Muda Desa Sanggalangit

  1. cHa berkata:

    Sanggalangit, desa yang damai, masih asri dan lautnya bagus banget, senang saya bisa merasakan tinggal disana selama 1 setengah bulan, melewati puasa dengan aktifitas ala pedesaan, ga sabar untuk balik kesana, menetap lebih lama mendengar suara ombak setiap hari, memandang bintang terang saat tilem, duduk dipinggir pantai saat purnama, indaaaaahhh sekali, terima kasih desa sanggalangit can’t wait go there agains…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s