Panglima” Hukum Adat Laut Sabang

Mahdi Muhammad dan Andreas Maryoto [ kompas.com  Rabu, 4 Maret 2009 | 02:20 WIB ]  Berawal dari penasaran terhadap kata “panglima”, Darmoko Yuti Witanto, hakim kelahiran Bandung, Jawa Barat, yang ditempatkan di Pengadilan Negeri Kota Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sejak dua tahun lalu memburu kata itu. Kini, ia malah menjadi “panglima”.

Perburuannya yang semula hanya sekadar ingin mencari tahu arti kata itu ternyata malah memberinya banyak hal. Witanto, yang biasa menulis namanya DY Witanto, mendapatkan cerita rakyat Sabang, sejarah Kota Sabang, foto-foto lama kota itu, serta hukum adat laut setempat yang belum banyak dikaji orang.

Ia kini menjadi rujukan warga setempat dan juga pendatang yang ingin mengetahui serba-serbi tentang Kota Sabang yang terletak di ujung barat Republik ini.

“Kalau mau mengetahui Kota Sabang, tanyalah kepada bapak ini,” kata seorang pengelola hotel di Sabang saat Kompas terpukau oleh foto-foto Kota Sabang pada zaman dulu yang terpampang di dinding hotel.

Pengelola hotel itu menunjuk Witanto yang tengah duduk pada salah satu kursi di ruang tamu hotel. Saat itu ia baru saja memberikan kursus soal hukum laut.

Sebuah perkenalan singkat terjadi antara Kompas dan Witanto, yang kemudian berlanjut dengan perbincangan mengenai masa lalu Sabang pada awal tahun 1900-an. Dari foto-foto yang ada, tampak Pelabuhan Sabang lebih ramai dibandingkan dengan sekarang. Kapal-kapal besar tampak hilir mudik. Dengan fasih ia bertutur soal keberadaan bangunan-bangunan tua yang menjadi kenangan atas kejayaan masa lalu kota itu.

Witanto dengan lancar bercerita soal sejarah Sabang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma, Purwokerto, ini mengaku dirinya juga terjerumus mendalami soal hukum adat laut yang masih dipegang erat nelayan setempat. Semuanya bukan berawal dari minat yang besar untuk meneliti.

“Ketika saya sampai di sini, saya penasaran dengan kata ‘panglima’. Kata ini banyak dipakai nelayan. Dalam benak saya, kata itu terkait dengan militer,” kata Witanto.

Rasa penasaran itu muncul sejak ia berada di Sabang setelah ditetapkan sebagai hakim Kota Sabang sejak turunnya Keputusan Presiden Nomor 25/Tahun 2005. Waktunya yang banyak luang karena minimnya kasus yang masuk ke Pengadilan Negeri Sabang (dalam sebulan hanya satu kasus) memberi Witanto peluang untuk mempelajari berbagai hal tentang kota itu.

Pelan-pelan, penelusurannya menemukan kenyataan kata “panglima” jauh dari pengertian militer. Setelah mengikuti kehidupan nelayan dan para panglima laut, ia akhirnya mendapatkan “panglima” yang dimaksud adalah ketua adat yang harus mengelola wilayah laut.

Kata “panglima” memang sudah sejak lama digunakan. Kata itu setidaknya telah digunakan pada masa Kerajaan Aceh pimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Waktu itu panglima laut adalah penguasa laut, tetapi sekarang bergeser menjadi pengelola wilayah laut.

Belajar dari nelayan

Tidak berhenti setelah memahami kata “panglima”, pertemuan-pertemuan dengan para nelayan, panglima laut, dan juga pawang laut makin mendorong semangat Witanto untuk menimba ilmu kelautan dari mereka. Bukan hanya soal hukum adat laut yang dia dalami, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan serta keandalan nelayan ketika bertemu dengan fenomena alam.

“Saya akhirnya secara serius meneliti soal hukum adat laut dan juga kehidupan nelayan Sabang,” kata Witanto.

Dengan modal uang Rp 30 juta yang dipinjam dari salah satu bank, ia mengumpulkan hukum adat yang tak tertulis itu. Ia bertemu dengan nelayan dan mencatat semua perbincangan mereka.

Ia juga mengikuti nelayan ke laut untuk membuktikan semua yang diucapkan para nelayan dan panglima laut. Jumlah panglima laut di Sabang ada 10 orang, ditambah satu panglima laut Kota Sabang.

“Saya pernah ke laut pada malam hari karena pawang laut mengajak saya untuk membuktikan tentang tanda-tanda alam jika akan ada badai. Kami bersama-sama ke laut dan melihat binatang yang oleh penduduk setempat dinamai kelului, yang berlari ke arah selatan. Nelayan akan mengikuti arah binatang tersebut karena di belakang mereka akan ada badai,” kata Witanto menuturkan fenomena alam yang masih dipegang nelayan setempat.

Hukum adat laut mencakup banyak hal, antara lain ketentuan soal kapal, ketentuan tentang pemasangan tuasan, ketentuan tentang penangkapan benur, tentang sanksi bagi pelanggar, tentang pengaturan keuangan, struktur pemangku adat dan kewenangannya, serta aturan lainnya.

“Hingga saat ini hukum adat laut masih efektif untuk menyelesaikan sengketa di masyarakat pesisir. Untuk itulah saya kira pemerintah perlu memberdayakan hukum adat laut dalam pengelolaan wilayah pesisir,” kata suami dari M Sa’diyah (30) dan ayah dari Revanda Rahmadany Syaical Witanto (5) itu.

Ia juga menemukan kenyataan hukum adat laut sangat efektif dalam konservasi kawasan laut. Aturan-aturan yang ada sangat melarang perusakan laut. Cara penangkapan ikan pun diatur sehingga tidak akan merusak lingkungan serta tak akan memusnahkan biota laut.

Berbagai informasi soal hukum adat laut, fenomena alam, kearifan lokal yang telah dikumpulkan kemudian dilengkapi dengan sejarah Kota Sabang. Dia kemudian menuliskannya dalam buku berjudul Hukum Adat Laut Sabang, Kearifan-kearifan yang Terlupakan, Juli 2007.

Witanto mengakui, buku itu jauh dari metodologi ilmiah seperti yang biasa dipakai di dunia akademik. Ia hanya ingin kearifan lokal tidak hilang begitu saja karena banyak yang tidak tertulis. Meski demikian, sejumlah rahasia nelayan dalam menangkap ikan tak ada di buku itu.

“Biarlah ini menjadi perjanjian seumur hidup antara saya dan nelayan Sabang karena, kalau dibuka, mereka bisa kehilangan mata pencarian,” kata Witanto.

Paradoks dalam kehidupan

Penelusuran dan keterlibatan dalam kehidupan nelayan memunculkan paradoks dalam kehidupannya. Katanya, pada satu sisi profesinya sebagai hakim mengharuskan dia menegakkan hukum formal. Namun, di sisi lain, dari pencariannya dia melihat hukum adat laut ternyata masih efektif untuk menyelesaikan sengketa di lapangan. Sejauh hukum adat laut itu masih bisa menyelesaikan sengketa, menurut hemat Witanto,

hukumformal tidak perlu masuk terlalu jauh.

“Bahkan pernah ada kasus pembunuhan yang diselesaikan dengan hukum adat. Jika hukum formal yang diterapkan, mungkin akan terjadi dendam yang tidak ada ujung. Tetapi, dengan hukum adat, mereka kemudian malah rukun seperti saudara,” katanya.

Pemahamannya soal sejarah Kota Sabang dan hukum adat laut itu menjadi rujukan banyak orang. Wali Kota Sabang pun kadang meminta pendapatnya jika ada sengketa antarnelayan. Kini Witanto bukan hanya sebagai seorang hakim di PN Sabang, tetapi ia juga boleh dikata menjadi sejarawan amatir, pemerhati hukum adat laut, dan juga kawan bagi nelayan dan panglima laut di Sabang.

Ia sebenarnya tak enak dengan sebutan yang muncul itu. Tetapi, di antara panglima laut yang ada di Sabang, bolehlah kita menyebut Witanto juga seorang “panglima” soal hukum adat laut. Sebutan ini setidaknya untuk menempatkan dirinya di antara orang-orang yang dengan tekun mendalami hukum adat laut yang tergolong langka itu.

BIODATA

  • Nama: Darmoko Yuti Witanto
  • Lahir: Bandung, 13 Januari 1978
  • Pendidikan:

–          SD di Sumedang, 1990

–          SMP di Sumedang, 1993

–          SMA Negeri 2 Sumedang, 1996

–          Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma, Purwokerto, 2001

  • Pekerjaan:

–          Pengacara pada LBH Intania Arta Kencana dan Kantor Hukum H Yovie

–          Megananda Santosa, SH, MSi dan Rekan, 2001-2003

–          Hakim pada Pengadilan Negeri Kota Sabang, 2005-sekarang

  • Publikasi:

–          Hukum Adat Laut Subang, Kearifan-kearifan yang Terlupakan, 2007

–          Sedang menulis sejarah Kota Sabang

2 pemikiran pada “Panglima” Hukum Adat Laut Sabang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s