Kampung Perajin Suntiang yang Terlupakan

Syofiardi Bachyul Jb [ PadangKini.com | Minggu, 05/04/2009, 11:28 WIB ] BANYAK orang mengenal ‘suntiang’, tetapi hampir tidak ada orang yang tahu siapa yang membuat, dimana, dan bagaimana suntiang tersebut dibuat.

Suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia.

Tak hanya perbedaan bentuk dan ornamen, memakai suntiang kerapkali juga salah satu yang ditakutkan calon pengantin perempuan Minang.

Suntiang yang beratnya bisa mencapai 3,5 kg dan mesti dikenakan di kepala selama pesta berlangsung umumnya sehari-semalam, membuat si calon pengantin perempuan yang disebut ‘anak daro’ was-was dan cemas akan tidak sanggup menjalankannya.

Apalagi pada zaman dulu. Suntiang yang besar itu, bahkan beratnya sampai 5 kg dan ada juga yang terbuat dari emas, dibuat tidak seperti sekara [Amzon (Jon) sedang merangkai suntiang dari mansi di rumahnya di Kampung Pisang, Matur.] ng yang bisa dibongkar-pasang bagaikan topi. Tapi betul-betul dipasang setangkai demi setangkai dengan menancapkannya di gulungan rambut.

Pesta pernikahan yang terkadang lebih dua hari, membuat ‘anak daro’ terpaksa tidur dengan suntiang di kepalanya.

Pesta pernikahan orang Minang yang terkadang juga dilakukan perantau di daerah lain di Indonesia, membuat suntiang dikenal banyak orang.

Meski begitu, tak ada yang tahu di mana tempat membuat suntiang, termasuk umumnya orang di Sumatera Barat. Jika ditanya, mereka pasti menunjukkan suntiang dibeli di Kota Bukittinggi.

Memang, Bukittinggi terkenal sebagai tempat penjual suntiang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya biro tata rias anak daro di seluruh Sumatera Barat, bahkan di luar provinsi itu, termasuk Jakarta membeli suntiang ke toko-toko di Bukittinggi.

Tapi, suntiang sendiri sebenarnya dibuat sekelompok perajin di Kampung Pisang, Kecamatan Empat Koto, Kabupaten Agam. Sayang, hal ini tak banyak diketahui orang.

“Pemesan hanya tahu dari Bukittinggi, hampir tidak ada pembeli yang ke sini selain pemilik toko di Bukittinggi, mungkin karena tempat ini jauh dan tidak terletak di jalan raya,” kata Amzon yang biasa dipanggil Jon, 49 tahun, salah seorang perajin suntiang di Kampung Pisang ketika dikunjungi PadangKini.com beberapa waktu lalu.

Membuat Sunting Berbagai Budaya

Kampung Pisang terletak sekitar 8 km dari Bukittinggi menuju Matur, Kabupaten Agam melewati lembah Ngarai Sianok. Letaknya sekitar 3 km dari Kenagarian Koto Gadang, kampung tempat kelahiran sejumlah tokoh nasional seperti Haji Agussalim, Rohana Kudus, dan ayah dari Sutan Sjahrir.

Padahal, kata Jon, pemesan suntiang tak hanya dari daerah-daerah di Sumatera Barat, tapi juga dari Jakarta, Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Bahkan ada pula yang memesan bukan suntiang minang, melainkan sunting batak, adat pelembang, dan sunting adat Malaysia.

“Tapi mereka tidak langsung ke sini, kami dapat pesanan dari pemilik toko,” kata Jon.

Ada tiga keluarga perajin suntiang di Kampung Pisang yang masih aktif sampai sekarang. Selain Jon yang bekerja dibantu dua putra dan seorang adik perempuannya, juga ada keluarga Edi dan Asril.

Jon sendiri yang tamatan MTsN, sekolah agama Islam setingkat SMP di kampungnya, mulai jadi perajin dengan belajar kepada ayahnya, Mansyurdin pada 1979. Ia memulai dengan membuat kerajinan asesoris pengantin seperti anting, gelang, kalung, dan mahkota dari loyang. Beberapa tahun kemudian ia menjadi perangkai suntiang hingga kini.

“Saya tak tahu sejak kapan di sini ada perajin suntiang, yang saya ingat ayah dan nenek saya membuat kerajinan ini dan beberapa tetangga juga, sepengatahuan saya di tempat lain tidak ada yang membuatnya,” ujarnya.

Suntiang sendiri dirangkai menggunakan kawat ukuran satu perempat yang dipasang pada kerangka seng aluminium seukuran kepala. Pada kawat itu dipasang sedikitnya lima jenis hiasan. Kelima hiasan itu dinamakan suntiang pilin, suntiang gadang, mansi-mansi, bungo, dan jurai-jurai.

Sebagian dari hiasan ini diupahkan membuatnya kepada tetangga yang khusus membuat itu. Sedangkan sebagian lagi dibuat dari bahan tembaga. Jon hanya butuh 12 jam paling lama untuk mengerjakan sebuah suntiang yang paling besar.

Besarnya sebuah suntiang diukur dengan jumlah mansi atau kawat. Suntiang paling besar ukurannya 25 mansi, kemudian 23 mansi, dan 21 mansi yang paling umum dipakai saat ini.

Ada juga suntiang yang lebih kecil yang biasa dipakai pelajar untuk ikut karnaval peringatan 17 Agustusan dan acara lainnya. Itu ukuran 19 mansi untuk siswi SLTA, 15 mansi untuk SLTP, dan 13 mansi untuk SD, dan 9 mansi untuk Taman Kanak-kanak.

Suntiang yang dibuat juga dibagi tiga jenis berdasarkan bahan. Yang lebih berat dan mahal yang masih dibuat saat ini terbuat dari mansi padang (sejenis seng aluminium kuningan). Kemudian mansi kantau atau biasa, dan yang sekarang mulai banyak dipakai, terutama untuk pelajar, suntiang dari plastik yang jauh lebih ringan.

Selain itu ada juga asesoris suntiang yang sebagian berbahan kuningan dan tembaga. Asesoris ini biasanya dibuatkan oleh perajin khusus yang juga di Kampung Pisang.

“Biasanya yang dari mansi padang dijual Rp3,75 juta per kodi, mansi biasa Rp 3 juta, dan plastik Rp2 juta per kodi kepada pemilik toko, di toko dijual Rp25 ribu hingga Rp75 ribu lebih mahal per buah,” katanya.

Order Musiman, Tanpa Bantuan Pemda

Suntiang juga ada beberapa bentuk. Selain yang standar berbentuk setengah lingkaran yang umum dipakai, juga ada suntiang khas masing-masing daerah di Sumatera Barat. Di antaranya suntiang Sungayang, Tanah Datar yang memiliki mahkota, suntiang kurai (Bukittinggi), suntiang Pariaman, dan Solok Selatan, dan suntiang Solok yang dirangkai tanpa kawat.

Tak hanya itu, menurut Jon, sekarang juga mulai banyak kreasi baru jenis suntiang minang. Selain mulai ada yang berwarna silver, juga ada yang berbentuk gonjong rumah adat.

“Kami membuat semuanya, bahkan ada sunting adat Batak, Jambi, dan Palembang yang juga kami buat, juga pernah tahun 1990 kami mendapat order membuat 150 buah sunting adat melayu Malaysia,” katanya.

Mengerjakan suntiang bagi Amzon, murni kerajinan. Tak ada ritual yang berkaitan dengan adat, apalagi mistik. Misalnya, doa agar suntiang lebih ringan di kepala atau yang memakainya terlihat lebih menawan.

“Saya juga tidak pernah mendengar orang yang merias pengantin juga memiliki ritual khusus seperti itu, sebab suntiang hanya sekadar asesoris, kalau bahannya berat pasti berat di kepala,” katanya.

Meski perajin suntiang Kampung Pisang memasok suntiang seluruh Sumatra Barat dan daerah lain, namun kondisinya tak begitu menggembirakan. Menurut Jon, ordernya juga musiman.

Order suntiang untuk pelajar banyak menjelang 17 Agustus, sedangkan order suntiang ‘anak daro’ banyak pada musim perkawinan. Order paling sepi pada bulan Ramadan. Rata-rata per bulan penghasilannya hanya Rp1 juta.

“Harga bahan-bahan terus naik, tapi hanya komponen kenaikan bahan yang dihitung untuk menaikkan harga jual ke toko, komponen upah pekerja tidak dinaikkan, karena itu sudah banyak pencetak asesoris suntiang dari tembaga yang memilih ke ladang,” katanya.

Karena itu Jon yang mengaku tak ada pekerjaan lain, bercita-cita ingin memiliki toko sendiri agar tak tergantung kepada harga yang ditetapkan toko. “Kalau punya toko sendiri konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih murah dan keuntungan bisa lebih banyak, tapi kesulitannya modal,” katanya.

Meski Kampung Pisang turun-temurun menjadi sentra kerajinan suntiang, Jon mengaku selama ini belum ada uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Agam maupun Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, atau pihak lain untuk mengembangkan usahanya.

“Mungkin karena kampun ini yang jauh atau karena selama ini orang tidak tahu di sini suntiang dibuat,” katanya.

Ini memang sangat ironis. Pencipta kerajinan pendukung budaya Minangkabau ternyata diabaikan oleh pemerintah daerah. Padahal seringkali acara ‘baralek’ (pesta perkawinan) keluarga para pejabatnya, gemerlap karena suntiang di kepala anak daronya.

4 pemikiran pada “Kampung Perajin Suntiang yang Terlupakan

  1. Halo Mas, terima kasih telah memakai tulisan kami dari PadangKini.com. Bagaimana kalau dibantu juga link-kan ke padangkini.com, atau terima kasih sekali jika bersedia memasukkan padangkini.com ke list link ‘media online daerah’ di situs Mas yang bagus ini? Terima kasih, ya….

  2. suryokoco berkata:

    ok mas… untuk sumatera – padang di media online daerah sudah untuk anda……… semoga menyenagkan ……. salam sukses untuk kawan kawan di padangkini.com

  3. SB berkata:

    wah pak, tidak ada cara untung menghubungi bapak itu ya? saya mau beli nih. susah banget carinya… kalau ada kontaknya monggo di share ya pake emailku iki, thank you pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s