Sikerei, ‘Dokter’ Penghubung Alam Gaib dari Mentawai

Rus Akbar  [news.okezone.com Selasa, 14 April 2009 – 09:40 wib ]  Bunyi giring-giring (lonceng kecil) terdengar di sebuah rumah warga di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Bunyinya makin lama makin keras karena tidak ada kebisingan lain saat malam tiba. Bunyi giring-giring tersebut dibunyikan oleh seorang sikerei (dukun) yang sedang melakukan pengobatan di rumah warga bernama Manise (45).

Pengobatan dilakukan pada anak ke empatnya bernama Meliarni (10) yang sedang menderita demam yang sudah 1 minggu anaknya menggigil dan terbujur di tempat tidur.

Ritual upacara lansung dipimpin oleh sikerei yang memakai pakaian adat Mentawai, seluruh tubuhnya di lengkapi oleh aksesoris bunga-bunga, gelang manik-manik, kalung manik-manik dan ikat kepala juga terbuat dari manik-manik yang disusun dengan bagus sementara celananya dari cawat yang berasal dari kulit kayu.. Tak ketinggalan sekujur tubuhnya sudah dirajai tato.

Lantunan mantra-mantra yang di dendang oleh sikerei terasa begitu magis di rumah Manise tersebut, beberapa kerabat keluarga juga berkumpul di rumahnya untuk mengikuti ritual pengobatan. Ritual adat tersebut kerap dilakukan di kampung tersebut biasanya akan dilanjutkan dengan makan bersama dengan memotong seekor babi serta beberapa ekor ayam yang dibawa oleh sanak keluarganya.

Ritual adat tersebut bagi masyarakat Mentawai dinamakan dengan pabetei artinya mengobati orang yang sakit serta mengeluarkan roh-roh jahat dari diri yang sakit dan roh jahat yang tinggal di rumah itu, agar penyakit yang diderita bisa sembuh. Mereka menilai bahwa roh jahat itulah yang memberikan penyakit, umumnya penyakit demam sakit perut dan penyakit lainnya.

Sikerei yang mengobati Meliarni tersebut bernama Teu Rima (60) warga setempat percaya dengan Sikerei itu karena setiap penyakit yang diobatinnya selalu mujarab dan sembuh. Obat yang diberikan bukanlah obat yang memakai bahan kimia yang dibuat oleh pabrik-pabrik tetapi dari hanya beberapa tumbuhan yang ada dikasawan itu dikumpulkan kemudian diramu menjadi sebuah obat.

Tumbuh-tumbuhan tersebut biasanya diramu dan dimasukkan dalam beberapa bambu yang berukuran tangan bayi dicampurkan dengan air kemudian dipanaskan dalam api setelah itu baru diminum dan selebihnya dipoleskan dalam di sekujur tubuh.

“Kami percaya dengan berobat ke sikerei biasanya sembuh, karena seluruh roh-roh yang jahat keluar dari rumah ini, kalau berobat ke puskesmas tidak akan keluar roh-roh jahat di sini yang memberikan penyakit, dan kami percaya soal ini,” tutur Manise.

Ia menambahkan kalau masyarakat Mentawai pada umumnya percaya seluruh yang ada di lingkungan mereka memiliki roh, baik itu tumbuhan, dan benda-benda mati. Maka roh-roh itu perlu dijaga agar tidak menggangu, temasuk hutan, roh-roh ini dinamkan kina.

“Alam gaib akan baik kalau kita tidak menyakiti mereka, mereka akan murka kalau kita merusak mereka serta mengganggu ketenangan mereka, seperti musibah-musibah yang terjadi. Penyakit anak saya, karena mungkin ada yang tidak suka akhirnya mereka kasih penyakit. Jenis penyakitnya yang tahu itu sikerei, nanti setelah selesai mengobati sikerei menjelaskan apa jenis penyakitnya, kita tidak bisa melihat alam gaib, tapi mereka bisa,” katanya.

Untuk obat-obat ramuan yang diberikan sama pasien biasanya sikerei mendapatkan ‘wahyu’ dari alam gaib, baik itu bisikan maupun dengan melalui mimpi itu kerap terjadi. Sikerei selalu ditunjukkan ramuan apa yang bisa digunakan untuk menyebuhkan penyakit seseorang.

“Sikerei bisa menghubungi antara alam gaib dengan alam nyata seperti sekarang, mereka bisa bertemu dengan leluhur kami dan para leluhurnya juga, ia akan berbicara dengan roh leluhur serta meminta izin mengobati, kadang ia meminta bantuan mereka untuk menunjukkan obat yang cocok pada pasiennya,” tambah Manise.

Yang menjadi pertanyaan kenapa mereka memilih berobat pada sikerei? Kenapa tidak berobat saja ke puskesmas yang ada di daerah itu, padahal selain puskemas ada juga Polindes yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah mereka.

“Kami lebih percaya jika diobati dengan sikerei selain penyakit sembuh roh-roh juga bisa diusir dari rumah ini dan kami masih percaya hal itu, meski kami sudah memiliki agama. Selain itu kami tidak punya uang untuk berobat, kami yang ada hanya babi dan ayam dan itu jumlahnya banyak pada kami,” ulasnya.

Ia juga mengatakan jika sikerei selesai mengobati ia hanya meminta seekor ayam serta beberap potong daging babi yang telah dimasak dalam bambu, kemudia ia akan meninggalkan obat-obat yang ia sudah ramu setelah itu selasailah acar ritual pengobatan itu.

Waktu yang dipakai untuk mengobati orang sakit selama dua hari, semua sanak saudara dari kerabat laki-laki mereka berkumpul.

Untuk di Desa Maileppet, Sikerei tinggal tiga orang yaitu Teu Beu Mata, Teu Asak dan Telu Kelak. Sementara Teu Rima yang mengobati anaknya Manise didatangkan dari Desa tetangga di Desa Muntei.

“Dulu ada sekitar 10 orang Sikerei di desa kita, saat ini Sikerei sudah banyak yang meninggalkan dan generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi,” katanya. (fit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s