Kisah Klenteng Tiban yang Turun dari Langit

Thomas Joko [ news.okezone.com Sabtu, 18 April 2009 – 11:37 wib]  “Kira di permoela’an boelan Juli 1923 tatkala Gemeente bikin loeas kampoeng kampoeng di Sompok, di bagian sabelah Wetan, di tengahnja groemboelan jang lebet telah diketemoeken satoe klenteng koeno, jang soedah tida terawat lagi.”

SEMARANG – Cuplikan tulisan dari buku “Riwajat Semarang” di atas merupakan bagian dari cerita ditemukannya kembali klenteng yang sempat menghilang. Karena tidak terawat dan terlantar, klenteng tersebut tertutup alang-alang dan pepohonan. Lama sekali klenteng ini tersembunyi di balik pohon-pohon beringin raksasa.

Sontak, tatkala klenteng ini ditemukan, penduduk Tionghoa di Semarang kala itu langsung ramai membicarakan dan menamakannya sebagai Klenteng Tiban (artinya klenteng yang mendadak ada sendiri, atau jatuh dari Sebuah klenteng di Semarang yang sempat menghilang karena tidak terawat dan terlantar hingga tertutup alang-alang dan pepohonan, akhirnya ditemukan. Klenteng itu diberi nama Klenteng Tiban yang berarti jatuh dari langit. langit).

Tak lama kemudian mereka pun berbondong mendatanginya dan sembahyang di tempat itu. “Lantaran didapetkennja ini klenteng koeno, di kampoeng Tionghoa laloe tersiar kabar, di Sompok ada satoe klenteng tiban.”

Selanjutnya, Liem Thian Joe mengungkapkan dalam bukunya bahwa klenteng tersebut merupakan peninggalan orang-orang Lam-oa dan Hoei-oa (Hokkian). Pada tahun 1907 mereka mendirikan klenteng itu sebagai sarana

upacara sembahyangan leluhur.

Sekarang Klenteng Tiban masih terawat dengan baik. Berdiri di tengah perkampungan di ruas Jalan Lampersari. Tepat berseberangan dengan Gereja Mater Dei.

Ketika memasuki kompleks klenteng, pengunjung langsung disambut oleh pintu gerbang antik. Di kedua sudut atas gerbang terlihat ornamen berbentuk malaikat terbang. Sebuah papan berwarna gelap bertuliskan 1907 Hwie Tek Sie 2456 terpampang di bagian atas gerbang, menunjukkan angka tahun pembangunan klenteng tua ini.

Di bagian sisi kiri agak depan ada sebuah bangunan yang memiliki beranda. “Ini merupakan Rumah Abu Hwie Tek Sie,” ungkap Bambang Jos, Hu Lo Cu klenteng Hwie Tek Bio.

Dengan ramah, pria yang hampir tiga tahun menjadi Lo Cu itu menjelaskan bagian-bagian dari klenteng. Hwie Tek Bio merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi. Tak ada patung dewa lain di klenteng ini selain Hiauw Ciang Kong. Umat yang ke sini biasanya berdoa bagi orangtua yang telah meninggal dunia, untuk kesehatan, atau masalah pekerjaan.

“Bisa juga jika ada yang menginginkan tolak bala,” kata Bambang.

Bagian lain, di belakang Rumah Abu terdapat sebuah batu seukuran kerbau. Di dekatnya ada altar yang terlindungi sebuah rumah-rumahan kecil. Tertulis di altar, TeeThauw Tjoe.

Mengenai batu tersebut ternyata ada kisah misteri yang menyelimutinya. “Sekitar awal tahun 80-an batunya tidak sebesar itu. Dulu hanya seukuran tong kecil. Entah kenapa, lama kelamaan kok bisa membesar,” cerita Agus, seorang warga yang semenjak kecil tinggal di belakang klenteng.

Tak jauh dari tempat itu berdiri pula dua buah prasasti dari lempengan batu. Menurut Bambang, dua prasasti tersebut bertuliskan nama-nama orang yang telah menyumbang bagi pembangunan Klenteng Hwie Tek Bio tempo dulu.

Bambang menuturkan banguan-bangunan di kompleks klenteng belum ada yang diubah. Semuanya masih dipertahankan bentuk aslinya, sama seperti ketika dulu diketemukan di antara rumput ilalang.

“Yang terhilang hanya pohon-pohon beringin yang telah tumbang secara alami. Dulu kami tak ada yang berani menebangnya. Pernah ada seorang pemuda yang berani memotong ranting kecil untuk taruhan dengan temannya. Akibatnya dia terjatuh dan langsung meninggal dunia,” kisah Bambang.

Hwie Tek Bio baru empat tahun terakhir ini terbuka bagi umat Tri Dharma dari tempat lain. Sebelumnya hanyalah anggota yayasan yang boleh beribadah di tempat ini.

Hwie Tek Bio memang semakin tua. Umurnya telah menapak tahun ke-100. Namun di balik kerentaannnya, bangunan kuno ini tetap menyimpan keindahan dan keunikan. Siapa menyangka, klenteng ini sempat terlupakan selama puluhan tahun.(lsi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s