Roib, Membangun Desa Wisata

[ kompas.com Jumat, 24 April 2009 | 03:27 WIB ]  Panorama indah dan hasil alam melimpah sering kali tak berbanding lurus dengan kesejahteraan warga sekitarnya. Kenyataan pahit itu menggerakkan Roib Sobari memperbaiki nasib warga desanya. Berbekal jabatan sebagai kepala desa, Roib membangun Desa Pasanggrahan menjadi desa wisata. Mukhamad Kurniawan

Hasilnya, desa di kaki Gunung Burangrang, wilayah Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, itu rutin dikunjungi orang. Siswa dan guru dari sedikitnya 80 sekolah dan yayasan di Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Bandung menginap di Pasanggrahan. Sebagian di antaranya rutin mendatangi desa ini untuk mengikuti kegiatan latihan dasar kepemimpinan.

Pendapatan desa pun meningkat pesat. Kalau semula nyaris tak ada pemasukan ke kas desa, belakangan ada pemasukan Rp 10 juta-Rp 20 juta per tahun. Pada musim liburan, seperti bulan Juni-Agustus atau Desember-Januari, banyak orang berlibur di Pasanggrahan.

Menurut Roib, Pasanggrahan sebenarnya sejak lama dikunjungi banyak tamu. Berdasarkan cerita para leluhur, desa yang terletak sekitar 35 kilometer dari pusat Purwakarta itu telah didiami penduduk sejak tahun 1800-an. Pasanggrahan berarti tempat menerima tamu.

Suasana desa yang dimiliki Pasanggrahan, seperti sawah, kebun, sungai, ladang, kolam ikan, udara sejuk, dan panorama khas desa di pegunungan, menarik minat wisatawan. Selain itu, di Pasanggrahan ada makam “keramat” yang rutin dikunjungi peziarah dan ramai pada saat-saat tertentu.

Namun, banyaknya pengunjung itu tak berpengaruh positif pada peningkatan kesejahteraan warga desa. Melimpahnya hasil kebun, seperti cengkeh, teh, melinjo, dan manggis, juga tak bisa meningkatkan kemampuan ekonomi mereka.

Tahun 2000 sebagian rumah belum memiliki fasilitas untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK), serta tak menghadap ke jalan. Jalan desa di sebagian dusun masih jalan tanah dan sulit dilalui saat hujan.

Kepala desa

“Potensi pariwisata itu ada, tetapi tak menghasilkan pendapatan karena belum ‘digosok’, belum dibangun dan dikelola dengan baik,” kata Roib tentang keinginannya menjadikan Desa Pasanggarahan sebagai daerah wisata.

Untuk mewujudkan keinginannya membangun desa, Roib lalu meniatkan diri mengikuti pemilihan kepala desa tahun 2002. Berbekal pengalaman sebagai staf bidang ekonomi di kantor desa, dia terpilih sebagai Kepala Desa Pasanggrahan periode 2002-2007.

Pada saat menjadi kepala desa, Roib menghapus kewajiban warga membayar “upeti” kepada desa untuk meringankan beban warga yang mayoritas petani. Sebelumnya, setiap petani diharuskan membayar Rp 25.000-Rp 200.000 per tahun, tergantung luas lahan dan jumlah panen, sebagai “pajak” hasil bumi.

Beberapa komoditas pertanian tumbuh subur di Desa Pasanggrahan. Manggis, cengkeh, melinjo, padi, cabai, tomat, kol, dan berbagai sayuran dibudidayakan di pekarangan, ladang, dan sawah warga. Namun, sebagian warga tak menikmati keuntungan optimal karena terjerat sistem ijon dan permainan tengkulak.

Upaya lain yang ditempuh Roib adalah memperbaiki sektor pariwisata. Infrastruktur pariwisata dia prioritaskan diperbaiki lebih awal. Sebagian jalan penghubung antar-dusun sulit dilalui karena becek dan sempit. Selain itu, sebagian rumah warga yang dijadikan tempat menginap tamu belum memiliki fasilitas MCK, bahkan ada yang tak layak huni.

Butuh dana besar untuk memperbaiki semua itu. Roib memulainya dengan meningkatkan kesadaran wisata warga. Ia mengampanyekan manfaat pariwisata bagi kehidupan desa melalui rapat rutin desa, kunjungan langsung ke rumah warga, dan pengajian mingguan. Warga yang terbukti menikmati keuntungan dari pariwisata ia jadikan contoh untuk membangkitkan motivasi warga lain.

“Saya tekankan bahwa keramahan, kebersihan, dan keindahan perlu terus dipupuk agar pengunjung betah tinggal di desa dan kembali lagi untuk berlibur,” ujarnya.

Awalnya, sebagian warga tak peduli dengan ajakan Roib. Mereka berpendapat, tanpa usaha apa pun wisatawan akan datang. Namun, Roib terus mencoba, sampai warga memahami pentingnya memberi pelayanan yang baik bagi tamu. Mereka juga mau bergotong royong memperbaiki jalan desa, mengeraskan jalan tanah dengan menyusun batu kali yang berlimpah di sungai.

Tahun 2005 Roib minta bantuan Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk menata ulang dan memperbaiki rumah warga. Maka, Pasanggrahan mendapat bantuan Rp 200 juta dan tahun berikutnya Rp 310 juta. Semua dana itu dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah warga.

Bantuan itu berbuah manis. Jumlah pengunjung ke desa ini meningkat dari 1.000-2.000 orang menjadi 5.000 orang per tahun. Keuntungan dari usaha yang dikelola desa lalu digunakan untuk memperbaiki sarana desa, rumah warga, serta sarana wisata.

Sedikitnya 114 rumah warga yang tersebar di empat dusun, yaitu Pasanggrahan, Tajur, Borondong, dan Depok, siap menerima pengunjung. Sebagian besar di antara rumah warga itu telah memiliki MCK dan satu sampai tiga kamar tidur tamu. Rumah-rumah itu umumnya berbentuk panggung, dinding dan lantai kayu, dengan arsitektur tradisional khas rumah Sunda.

Keuntungan juga dia gunakan untuk membeli lahan. Hasilnya, Desa Pasanggrahan punya 4.000 meter persegi lahan yang telah dibangun menjadi areal perkemahan. Roib melengkapi areal itu dengan tempat ibadah, MCK, dan lintasan untuk tracking.

Kembali ke desa

Selama ini mayoritas pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa. Mereka biasanya datang untuk menggelar latihan dasar kepemimpinan (LDK). Warga setempat menyebut LDK dengan istilah “BP” alias bimbingan pendidikan. Pasanggrahan pun lebih dikenal sebagai desa wisata “BP”.

Konsep wisata yang ditawarkan Roib adalah kembali ke desa. Para pemilik rumah yang diinapi tamu pun menyediakan menu makanan dan minuman khas desa, seperti bajigur, bandrek, dan nasi liwet dengan lalap.

Anggota karang taruna pun dikerahkan untuk memandu pengunjung menjelajah alam di sekitar desa atau mengikuti kegiatan warga, seperti membajak sawah dengan kerbau, menanam padi, memancing dan menangkap ikan di kolam, serta memanen hasil bumi seperti teh, cengkeh, manggis, kol, cabai, dan jagung.

Meski pengelola tak mematok tarif untuk beragam layanan itu, tetapi pengunjung secara sukarela memberi uang dari Rp 75.000 hingga Rp 300.000 per hari kepada pemilik rumah. Bahkan, sebagian tamu juga menyumbang untuk kas desa sebagai bantuan pembangunan desa.

Sejak tahun 2007 Roib tak lagi menjadi kepala desa. Namun, usaha membangun Pasanggrahan dilanjutkan Nenden Asyani (32), kepala desa periode 2007-2012, anak keempat Roib.

“Pasanggrahan belum sempurna sebagai desa wisata dan masih banyak hal yang perlu kami benahi. Namun, setidaknya warga telah memiliki modal sebagai pelaku pariwisata yang tahu bagaimana harus melayani tamu dengan baik,” kata Roib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s