Tarian Kesuburan dari Lereng Merapi

[ kompas.com Kamis, 23 April 2009 | 02:36 WIB ]   Puluhan pasang mata seakan tak berkedip menyaksikan gerakan para seniman petani lereng Gunung Merapi berbalut properti lumpur di sekujur tubuhnya, saat mereka menyuguhkan “Tarian Kesuburan”, bertepatan dengan Hari Bumi tahun 2009.

Entah apa yang ada di benak setiap siswa SMA Negeri 5 Semarang dan SMA Nasima Semarang, saat menyimak setiap gerak tarian kontemporer itu di halaman Padepokan “Tjipto Boedojo Tutup Ngisor” Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di lereng barat Gunung Merapi.

Gerak tarian oleh belasan seniman petani padepokan yang kini dipimpin generasi kedua mereka, Sitras Anjilin, terkesan ingin menggambarkan perubahan tanah pertanian yang subur menjadi meradang karena penggunaan pupuk kimia secara berlebihan selama ini.

“Tarian kontemporer ini sesungguhnya sindiran atas olah pertanian yang menggunakan pestisida berlebihan, tanah menjadi bantat, hilang kesuburannya,” kata Sitras.

Meskipun sinar matahari terasa terik, halaman pendopo megah padepokan yang didirikan tahun 1937 itu tetap terlihat hening. Para siswa dengan fasilitasi program kerja sama antara Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jawa Tengah dengan komunitas Gubug Selo Merapi (GSPi) Magelang itu, duduk membisu, mengelilingi properti lumpur berhiaskan bajak atau garu dibalut kain putih.

Mereka adalah para siswa yang sedang mengikuti Program “Live In Edukasi Pertanian Berbasis Alam dan Budaya” GSPi selama tiga hari (21-23 April 2009). Gerakan tarian refleksi bertajuk “Tarian Kesuburan” disuguhkan kepada kaum muda itu bertepatan dengan Hari Bumi, tanggal 22 April 2009.

Program “Live In” itu telah diselenggarakan GSPi sejak beberapa tahun terakhir dengan peserta terutama kalangan siswa dari berbagai kota besar di Pulau Jawa. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jateng pertama kali, pada tahun 2009, melibatkan diri dalam program pelestarian lingkungan yang dikelola petani Merapi itu.

Peserta program itu menginap di rumah-rumah petani, mengikuti berbagai kegiatan petani dalam mengolah lahan pertanian, melakukan jelajah alam, menyusuri sungai, dan mengapresiasi kekayaan kesenian serta budaya petani Merapi.

“Tarian Kesuburan” antara lain ditandai dengan tiga perempuan padepokan berkebaya ala petani dan bertutup kepala, caping, memeragakan menumbuk padi dengan lumpang, suara kayu penumbuk yang beradu dengan batu lumpang seakan mengiringi gerak tarian seniman lainnya. Mereka juga memeragakan menampi gabah dengan tampah sehingga menghasilkan suara alami sehari-hari kehidupan rumah tangga orang pedesaan.

Belasan penari lainnya melakukan gerakan halus, berjalan mengelilingi properti lumpur yang menandai petani sedang menanam bibit padi di areal sawahnya.

Kesuburan tanah seakan digambarkan dengan gerakan seorang seniman petani, Sumarno Bagong. Dia berada dalam kubangan lumpur dengan taburan pupuk kandang oleh seniman lainnya, Bambang Santoso, sedangkan Sitras memeragakan petani yang sedang mencangkul sawahnya dari tepi properti kubangan lumpur itu.

“Modernisasi dengan alasan untuk peningkatan produksi pertanian ternyata menimpakan akibat buruk terhadap kesuburan tanah,” kata Sitras.

Seniman lainnya, Marmujo, yang mengenakan baju lengan panjang dan berdasi namun bercelana pendek warna hitam, dengan gerakan tariannya terlihat masuk dalam kubangan lumpur, mengusir Sumarno dari tempat itu.

Berbagai properti kardus berlabel pupuk kimia ditebarkan oleh Marmujo di tengah kubangan lumpur itu sambil dirinya bergegas meninggalkan tempat itu.

Kesuburan tanah pun seakan mati dan sirna, ditandai dengan  masuknya lagi Sumarno ke dalam kubangan lumpur itu dan ditaburi kembang mawar oleh sejumlah seniman.

Tepuk tangan terdengar riuh, seakan memecah keheningan, dilakukan para siswa begitu seniman petani itu menutup pementasannya. Kelihatannya mereka segera menangkap maksud pementasan “Tarian Kesuburan” berdurasi 45 menit itu.

Pendamping komunitas GSPi, Romo Vincensius Kirjito, Pr., yang memimpin dialog budaya usai pementasan mencoba membaca arti keheningan para siswa dengan sorot semua pasang mata yang tertuju kepada “Tarian Kesuburan”.

“Semua melihat, semua terdiam, menyimak, setiap dari kita menerjemahkan sendiri-sendiri pementasan tadi. Yang masuk dan ditangkap adalah keprihatinan,” katanya.

Kirjito yang juga budayawan Merapi itu menyebut sikap diam dan terkesima seluruh siswa saat pementasan itu sebagai suatu ungkapan doa takzim untuk kelangsungan kehidupan dan pelestarian lingkungan alam.

Manusia, katanya, ibarat tanah yang hidup dan kelak mati menjadi tanah. “Kalau kita menginjak tanah, berarti menginjak diri, kalau kita benci kepada tanah karena mengotori tubuh, berarti benci kepada diri sendiri. Manusia adalah tanah,” katanya.

Suguhan “Tarian Kesuburan” dari seniman petani Merapi itu adalah bekal moral bagi generasi penerus saat menjadi pemimpin bangsa, kelak.

“Kelak kalau kalian menjadi menteri, menjadi dosen, pengusaha, harus lebih baik dari generasi pemimpin sekarang. Ingat tarian tadi,” katanya.

Seorang siswa kelas II SMA Nasima Semarang, Aldi Nurian Arian Dita mengaku terkesima dengan sajian tarian itu.

Dirinya mengaku terkesan dengan kerja keras setiap hari para petani dalam mengolah tanaman pertanian dengan penghasilan yang relatif kecil, namun hidup damai.

“Kami yang dari kota, kini punya pengalaman hidup bersama petani. Mereka sungguh susah payah menanam, kerja keras yang hasilnya setiap hari kami makan. Mereka penghasilannya kecil, tetapi hidupnya tenang dan damai,” katanya.

Setelah selesai “Live In” dan pulang ke kota ia menyatakan keinginannya untuk membudidayakan berbagai tanaman di pekarangan rumahnya sebagai lanjutan proses pembelajaran tentang lingkungan dari para petani lereng Merapi itu.

Kepala Bidang Usaha Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dan Holtikultura Jateng, Agus Yuwono, mengatakan, melalui program itu para siswa mendapatkan referensi tentang lingkungan.

Mereka berkenalan dengan seluk-beluk pertanian dan kehidupan petani dengan kekayaan nilai budaya pertaniannya.

Kelak, katanya, mereka tidak salah menjadi pemimpin. Mereka menjadi pemimpin yang selalu berpihak kepada rakyat kecil dan kepentingan pelestarian lingkungan alam.

“Tanaman itu jujur, indikasi kejujuran ada di tanaman. Kalau diberi pupuk akan hijau, tumbuh subur. Kalau berlebihan, tidak mau, tanah menjadi tidak subur, tanaman tidak mau hidup. Mereka harus bisa omong dengan tanaman,” katanya.

Ia mengaku bahwa upaya percepatan produksi pertanian untuk menuju swasembada pangan pada masa lalu memiliki efek negatif terhadap lingkungan, yakni hilangnya kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Program “Live In” itu, katanya, membuat para siswa belajar dan berkontemplasi tentang air, tanah, dan lingkungan.

Kelak, mereka akan mengunduh makna yang ditanam seniman petani Merapi melalui “Tarian Kesuburan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s