Keindahan di Puncak Borobudur

GEDE PRAMA [ koran kompas, Sabtu tgl 2 Juni 2007 ]  Borobudur adalah sebuah “buku tua” yang terbuka. Banyak yang mencoba membacanya, Namun, seperti buku lain, kebenarannya jadi probabilistik ketika diolah oleh pikiran manusia. Dalam terang pemahaman seperti ini, tidak ada niat sepercik pun untuk menempatkan keping keping keindahan dalam tulisan ini sebagai satu satunya keindahan. Untuk itu, izinkan tulisan ini melaksanakan tugas probabilistiknya.

Seperti mau diolah arsiteknya, dalam kawasan Borobudur terbentang garis lurus yang menghubungkan tiga candi: Mendut, Pawon, Borobudur. Hampir semua pengunjung biasa maupun peziarah spiritual memulai kunjungan atau setidaknya melewati Candi Mendut lebih dulu.

Kendati tidak besar, Mendut menyimpan banyak pesan. Di bagian luar, ada relief kura kura menggigit kayu yang diterbangkan dua burung. Melihat keindahan ini sejumlah anak berteriak gembira:” duh burung betapa indahnya ide kalian!” Kontan saja kura kura menjawab:” Bukan ide burung, ideku!””. Dan setelah jatuh, matilah kura kura dengan badan berantakan berkeping keping.

Setiap orang boleh punya penafsiran, namun perjalanan suci menuju Borobudur seperti diingatkan di pintu awal, hati hati dengan ego. Membuka mulut atas nama ego, berisiko begitu besar.

Kelembutan VS ketekunan

Di dalam Candi Mendut, tersimpan tiga patung megah: Buddha diapit kelembutan Avalokiteshvara dan ketekunan Vajrapani. Seperti mau berpesan, setelah sadar akan bahayanya ego, temukan kebuddhaan di Borobudur dengan dua spirit: lembut pada orang lain, penuh ketekunan pada diri sendiri.

Dapur (pawon) adalah tempat memasak. Bahannya jelas, hati hati membuka mulut atas nama ego, untuk orang lain hanya ada kelembutan, untuk diri tersedia ketekunan. Ini yang dimasak matang di Candi Pawon.

Beda dengan Makanan sebenarnya yang diolah sekali waktu di tempat tertentu, makanan batin diolah setiap saat di tiap tempat. Itu sebabnya orang orang Zen menyebut meditasi sebagai makan ketika lapar, tidur saat mengantuk. Atau keseharian itulah meditasi. Keseharianlah tempat kita memasak makanan makanan batin.

Meminjam pesan sejumlah guru, dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, jadilah saksi penuh kasih (compassionate witness) terhadap apa saja yang muncul saat meditasi. Baik buruk, suci kotor, sukses gagal semuanya disaksikan dengan penuh kasih.

Siapapun yang lama berlatih penuh ketekunan menjadi saksi kasih, mengisi keseharian dengan kelembutan, akan merasakan kalau Borobudur menyimpan jauh lebih dari sekadar tumpukan batu batu yang diukir.

Sebagai rangkaian makna, Borobudur kerap diceritakan sebagai gunung kehidupan, berisi alam nafsu di bawah, alam bentuk di tengah, alam tanpa bentuk di atas. Namun setelah membaca tanda tanda awal di Mendut, mengolahnya dalam keseharian berisi ketekunan dan kelembutan tersedia penafsiran lain. Borobudur adalah perjalanan pembersihan batin dari segala kekotoran ( serakah, benci, bodoh, dan lainnya).

Di bagian bawah terpampang kekotoran batin yang kasar ala nafsu badaniah. Di atasnya, terpampang kisah kisah indah Sidharta Gautama. Dari kelahiran, pencerahan sampai menjadi guru manusia sekaligus dewa. Namun tanpa kewaspadaan cukup, kisah kisah para suci bisa menjadi sumber kekotoran batin. Terutama jika kisah para suci digunakan untuk menghakimi kehidupan. Guru ini salah, aliran itu salah dan jadilah kisah para suci sumber amarah, permusuhan. Mempelajari kisah para suci tentu baik, membadankannya dalam keseharian lebih baik lagi, namun waspada jika kesucian juga bisa menjadi awal kekotoran batin adalah praktik meditasi yang membuat keseharian jadi bersih.

Kesucian yang dijaga kewaspadaan inilah lalu membukakan pintu pemahaman tanpa kata. Persis seperti bagian atas Borobudur yang tidak lagi beriisi relief. Hanya lingkaran sempurna, diisi stupa, ditengahnya berisi Buddha dengan mudra memutar roda Dharma. Tanpa kata, tanpa penghakiman, hanya gerak keseharian yang melaksanakan kesempurnaan ajaran.

Mudah dipahami jika Dr. Rabindranath Tagore (pemenang Nobel pertama dari luar Eropa), yang datang ke Borobudur 23 September 1927, lalu menulis rangkaian kesempurnaan ala Borobudur di Visva Bharati News.

Tiap rangkaian kalimat indah Tagore tentang Borobudur selalu diakhiri dengan , “let Buddha be my refuge”. Biarlah kuberlindung pada sifat sifat bajik di dalam diri,. Artinya setiap batin yang bersih akan mengambil perlindungan hanya pada sifat sifat bajik di dalam diri.

Perhatikan puncak perjalanan Tagore saat menulis Borobudur. Bila waktunya tiba, digapainya keheningan suci itu, yang berdiri diam di tengah gelora abad abad keriuhan, sampai dia dipenuhi keyakinan, dalam ketidakterbatasan, ada makna kebebasan tertinggi, yang bergumam sekaligus bergetar:”biarlah kuberlindung pada sifat sifat bajik di dalam diri”

Soal ego, ketekunan, kelembutan Tagore, prestasi hidupnya sudah memberikan jawaban. Dan perjalanan Tagore ke Borobudur memberi inspirasi, siapa yang egonya terkendali, tekun berlatih, lembut sikapnya maka tersedia sebuah tempat berlindung yang mengagumkan: sifat sifat bajik di dalam diri.

Seperti pesan Dalai Lama: compassion is the best protection. Atau pesan tetua Jawa, orang bodoh kalah sama orang pintar. Yang pintar kalah dengan yang licik. Namun, ada yang tidak terkalahkan, yakni orang yang beruntung! Dan keberuntungan tertinggi tercapai ketika kebajikan membuat semuanya terlihat baik. Orang baik terlihat baik, orang jahat terlihat baik karena kita cukup bajik.

Mungkin itu sebabnya stupa terbesar, teratas di Borobudur di dalamnya kosong (tanpa pesan) karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Selamat hari Waisak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s