Tanpa Tangan, Prayit Hidupi Keluarga dengan Menjahit

[news.okezone.com Senin, 4 Mei 2009 – 09:19 wib ] MOJOKERTO – Memiliki kekurangan fisik tak membuat Prayit lantas kehilangan obsesinya. Sepuluh jari yang tak dimilikinya, tak membuatnya berhenti untuk memilih profesi yang biasa dipilih manusia normal.

Usianya menginjak 40 tahun. Sepanjang itu pulalah Prayit tak pernah menikmati betapa indah dan nikmatnya memiliki sepuluh jari tangan. Sejak lahir, Tuhan tak memberinya satupun jari tangan. Tak hanya itu, ukuran dua lengannya pun tak sama.

Dengan panjang lengan yang lebih panjang di bagian kiri dan ujungnya yang tumpul, Prayit harus dipaksa bisa melakukan segala aktivitas yang menunjang profesinya sebagai penjahit. Bisa dibayangkan, menjahit yang begitu rumit, dikerjakan Prayit hanya dengan dua ujung lengannya itu.

Tentu saja, Prayit harus memiliki berpuluh-puluh jurus untuk menyiasati kekurangannya itu. Mulai dari menggambar pola pakaian, menggunting kain, menjahitnya atau bahkan memasukkan benang kecil ke dalam jarum. Semua bisa dilakukannya dengan cepat, ibarat penjahit yang normal.

Untuk memulai membuat baju dan celana, Prayit mengawalinya dengan menggambar pola. Dengan lengan pendeknya itu, dia menjepitkan kapur pipih berwarna biru. Mulailah dia menggambar pola baju sesuai dengan ukuran pemesan. Dengan sigap, bapak dua anak ini menggoreskan kapur hingga pola utuh mampu diselesaikannnya.

Selanjutnya dia harus menggunting kain-kain yang sudah berpola ini. Sekali lagi, jangan berpikiran jika Prayit menggunakan jari-jarinya untuk menggunting. Dua lengannya ia masukkan ke dalam dua lobang besar gunting. Sepertinya susah memang. Tapi bagi Prayit, ini adalah satu-satunya cara yang bisa dia pilih. Dan itupun, Prayit melakukannya dengan cekatan.

Kini, Prayit bisa memulai menjahit, setelah sebelumnya memasukkan benang sesuai dengan warna yang dibutuhkan. Pekerjaan inilah yang dirasakan Prayit paling sulit. “Orang normal saja susah memasukkan benang ke dalam jarum dengan menggunakan jari. Apalagi saya,” kata Prayit, sembari terus mencoba memasukkan benang warna coklat ke dalam jarum mesin jahitnya.

Berhasil memasukkan benang, Prayit mulai menggeser kain-kain yang sudah diguntingnya. Sedikit demi sedikit, pola dan lipatan kain yang sudah dibuatnya itu berubah menjadi jahitan. Lagi-lagi dengan cekatan, Prayit bisa menyelesaikan pekerjaannya itu dengan cepat.

Profesi sebagai penjahit, telah ia lakoni sejak 11 tahun yang lalu. Sebelumnya, Prayit pernah menikmati pekerjaan sebagai tukang las. Namun pekerjaan itu dinilainya penuh dengan risiko mengingat keterbatasan anggota tubuh yang dia miliki.

“Kemudian saya mengikuti pelatihan menjahit. Dan ternyata saya cocok dengan pekerjaan ini meskipun sulit untuk mengawalinya,” tukas bapak lulusan SMPN Trowulan ini.

Beberapa bulan setelah lulus pelatihan menjahit, pelan-pelan warga Desa Katemasdungus, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto itu mulai tersohor sebagai penjahit yang rapi dalam menyelesaikan tugasnya. Sejak itu pula Prayit mulai kebanjiran order. Apalagi hingga saat ini, Prayit memberlakukan tarif yang melegakan kantong.

“Untuk sepotong baju, saya hanya memasang tarif Rp15 ribu. Sementara untuk celana, hanya Rp20 ribu. Terutama untuk baju dan celana seragam,” terangnya.

Kontan, profesi unik bagi penyandang cacat tanpa tangan itu membuat Prayit bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sembari dia membuka toko kecil-kecilan di rumahnya yang di kelola sang istri. Dia bertekad, profesi ini akan dilakoninya hingga akhir hayat.

“Ini mungkin takdir saya. Saya menjalaninya dengan ikhlas,” ucap Prayit dengan terus bersyukur atas kelebihan yang dianugerahkan.

Kondisi seperti ini, Prayit berharap agar para penyandang cacat sepertinya tak lantas putus asa dalam menjalani hidup. Menurutnya, profesi apapun bisa dilakukan asal dengan niat dan tekad yang bulat. Menurutnya, jika penyandang cacat memiliki kemauan, dia yakin kemauan itu akan bisa didapat.

“Seperti saya. Tak punya tangan, tetap bisa menjahit seperti orang normal,” pesannya memberi motivasi kepada penyandang cacat lainnya.(Tritus Julan/Koran SI/hri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s