Tippu’ Sasa, Memanggil Roh Jahat Jadi Pengadil

Rus Akbar [ okezone.com Selasa, 12 Mei 2009 – 11:39 wib ]   MENTAWAI – Satu hari di Januari 2007, sekira pukul 10.00 pagi, ratusan warga Desa Maileppet berbondong-bondong mendatangi kuburan (ratei) yang terletak di perbatasan Dusun Siritenga dengan Pasakian, Desa Maileppet Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Sebagian warga tampak berjalan namun sebagian lagi terlihat berlari – lari kecil. Raut wajah orang yang berdatangan tampak memancarkan ketegangan.

Mereka datang di pekuburan itu bukan untuk menghadiri acara pemakaman salah satu warga setempat, melainkan menyaksikan ritual ‘hukuman mati’ (tippu’ sasa). Ritual tippu’ sasa ini dilakukan dua kelompok yang berseteru dari dua suku (clan) yang berbeda.

Pihak pertama yaitu dua bersaudara Thitus Satolaiebbeb (59), dan Viktor Satolaiebbeb (57) dari suku Satolaiebbeb. Sementara seterunya dua orang dari suku Seppungan, yaitu Markus Seppungan alias Raku (48) tahun, dan Ely Seppungan alias Liggai (62) berperan sebagai kepala suku (sikebbukat uma). Kedua belah pihak ini saling tuding telah melakukan santet (taek) terhadap beberapa anggota masyarakat yang tinggal di kawasan Desa Maileppet.

Titus dengan baju warna hijau tua memakai topi sebuah partai dan celana jins pendek bersama dengan Viktor pakaian kuning dengan celana pendek datang ke kuburan dari rumahnya di Dusun Siritenga. Mereka datang dari selatan Desa Maileppet ke kuburan tanpa menggunakan alas kaki.

Sementara Markus dan Ely datang dari arah berlawanan dengan tujuan yang sama. Ely tampaknya lebih tenang ketimbang Markus.

Kedua kubu yang saling bertikai tersebut datang dikawal oleh kepala Dusun masing-masing. Untuk Titus dan Viktor di dampingi oleh kepala Dusun Siritenga, Jeremias Satairarak. Sementara kelompok Markus dan Ely Saeppungan di kawal oleh Manuel Saleleu. Tak hanya itu, kepala Desa Maileppet bersama dengan Linmas desa ikut menjaga keamanan guna menghindari adu fisik antara kedua belah pihak.

Belum ritual dilakukan, suara isak tangis pecah di pekuburan. Suara itu keluar dari ibu-ibu dari dua kelompok yang berseteru. Ada sedikitnya enam orang perempuan yang menangis, mereka memohon agar para lelaki itu membatalkan ritual tippu’sasa.

“Siapa lagi yang akan mencari makan kami, siapa lagi yang akan menghidupi kami jika kalian ini tetap melakukan tippu’ sasa, anak-anak kita akan terlantar mereka tak ada lagi yang bisa memberikan nafkah,” suara seorang ibu yang menangis dengan nada memohon. Namun suara itu tak digubris.

Jeremias kepala Dusun Siritenga memecahkan keheningan. Ia menyampaikan bahwa kedua pihak yang bertikai telah berusaha untuk didamaikan baik oleh aparat desa ataupun pemuka adat, namun kedua belah pihak tidak mau menyelesaikan perkara tuding taek ini dengan cara dialog.

Mendengar itu, Thitus Satolaiebbeb (59), dan Viktor Satolaiebbeb (57) hanya terdiam. Sementara seterunya dua orang suku Seppungan yaitu Markus Seppungan alias Raku (48) tahun, dan Ely Seppungan alias Liggai (62) yang berperan sebagai kepala suku (sikebbukat uma) juga tampak tegang.

Kedua pihak yang berseteru ini memang sepakat persoalan saling tuding telah melakukan santet (taek) terhadap beberapa anggota masyarakat yang tinggal di kawasan Desa Maileppet, harus dilakukan dengan tippu’sasa.

“Kedua belah pihak yang bersengketa lebih memilih untuk menyelesaikan masalah ini secara adat dengan cara tippu’ sasa, maka kami aparat pemerintah dusun menyerahkan sepenuhnya pada tokoh masyarakat di sini yang kami tuakan, kami menunjuk bapak Benyamin Sakeru sebagai pengarahnya dan bapak Ely Saleleubaja sebagai penjaga tombak, kain laka dan parang,” ujar Jeremias disaksikan oleh masyarakat setempat.

Warga yang datang di lokasi kuburan itu hanya menatap ke arah yang berbicara. Tak lama berselang, Kepala Desa Maileppet Besman Saleleubaja juga memberikan sekapur sirih kepada kedua belah pihak yang bertikai.

“Saudara-saudara telah memilih ini diselesaikan secara adat, dan kita di sini di atas kuburan bapak kita, nenek kita dan leluhur kita ikut menyaksikan acara ini, tidak ada lagi kata bersedih kalau ini kebulatan tekad saudara-saudara sekalian untuk menempuh jalur terakhir dengan tippu’ sasa. Kami aparat pemerintah desa sudah tidak bisa lagi menjadi penengah saudara, tapi saya meminta jika akhir ada di antara saudara-saudara yang mengalami musibah yaitu kematian, jangan ada lagi yang menyalahkan dan dendam karena ini adalah kebulatan tekad dari saudara-saudara,” kata Besman Saleleubaja, dibalas anggukan warga.

Benyamin Sakeru (70) tokoh masyarakat juga memberikan pengarahan kepada kedua belah pihak yang bertikai.

“Ini tombak sebagai alat untuk membunuh kalian, ini parang sebagai alat untuk memenggal leher kalian, ini laka (kain warna merah hati), kami tidak akan membunuh kalian biarlah para roh yang mati akibat taek dan roh yang menyantet yang membunuh kalian, biarlah roh leluhur kalian yang memutuskan siapa yang bersalah dan siapa yang melakukan taek dan siapa orang yang benar-benar tukang santet yang akan dieksekusi, karena roh leluhur kalian yang tahu itu,” katanya.

Ely Saleleubaja sebagai penjaga tombak (sipatalaga) dengan sigap meraih tombak dari tangan Benyamin kemudian ia langsung menancapkan ke tanah samping kiri kuburan seorang warga yang diduga korban taek, bernama Baldus Saurei, yang meninggal pada 2 April 2006.

Tombak (sosoat) sepanjang 1,75 meter ini ditancapkan ke tanah dengan mata tombak mengarah ke langit, di bagian atas diikat dengan kain warna merah dengan ukuran panjang 1 meter dan lebar 50 sentimeter, sementara parang (teile) dihujamkan ketanah di bawah tombak.

“Acara ini sudah siap, untuk itu kami mintak kepada bapak Titus saudara kami untuk menyatakan sumpahnya setelah itu diteruskan oleh oleh bapak Viktor,” kata Besman.

Ely Saleleubaja yang berdiri sambil memegang tombak yang telah tertancap tersebut menyerahkan kepada Titus, tapi tombak itu tidak boleh ditarik.

Ely Saeleubaja berdiri di samping titus yang membacakan sumpahnya. Hanya sekitar 5 menit kemudian dilanjutkan oleh Viktor. Lalu diteruskan oleh Markus Seppungan dan Ely Seppungan.

Tak ada yang berbicara. Jika pun ada suara itu hanyalah dari mulut orang yang tak mampu menahan batuk dan bunyi derikan jangkrik.

Ikrar yang disampaikan keempat orang yang membacakan sumpah tersebut adalah. “Kam tai ka goat sikuddu kamanua, sibara kaleleu, sibara katei polak, sibara kaoinan kam siagainia, simateiakenen kalulut taek, simateaiakek sipananaek konan kam, sanitu sikatai konan kam saukkuimai sainamai sapanuteteu mai konan kam, kek anai taek ku mateaiakean kap aku kineneiget aikoik sosoat tombak kap aku, aikoi teile tippu kap aku aikoi laka punutubut logauku tapi ke tak panaek aku bujai kam aku.”

(Penguasa langit yang berada di langit, penguasa dari gunung, dari bawah tanah dari laut hanya kalian yang tahu, yang mati karena santet, yang membunuh orang penyantet ke sinilah, roh penasaran ke sinilah, roh bapak kami dan ibu kami serta para leluhur kami ke sinilah, jika ada ilmu santet kami ini tombak, tombaklah saya, ini parang, bunuhlah saya ini kain merah sebagai simbol darahku, tapi jika tidak ada santet dalam diri saya jagalah saya).

Setelah acara pembacaan sumpah itu disampaikan akhirnya kepala Desa Maileppet Besman Saleleubaja mengatakan bahwa tombak ini berasal dari suku Saurei dan ia meminta kepada Saurei agar menjaga tombak itu.

“Acara ini telah selesai, tombak milik Suku Saurei beserta parang serta kain ini saudara kembalikan, jika ada yang meminta jangan diberikan melainkan disimpan dengan baik. Jika benar ada yang melakukan taek maka kita akan melihat dalam jangka 3 bulan maka akan ada meninggal, tapi jika tidak ada yang mati maka artinya tidak ada yang bersalah, untuk itu saudara-saudara yang berikai diharapkan untuk melakukan upacara kembali untuk membersihkan roh-roh jahat yang dikampung kita,” katanya.

Akhirnya kedua belah pihak yang bersengketa tersebut pulang kerumahnya bersama dengan ratusa warga yang ikut menyaksikan sumpah tersebut

Pihak yang saling tuding itu Ely Saeppungan dan Markus Seppungan dengan Titus Satolaiebbeb dan Viktor Satolaiebbeb, akhirnya ngotot untuk menyelesaikan masalah tersebut secara adat dengan cara tippu’ sasa.

Besman Saleleubaja usai acara ritual itu mengatakan bahwa sumpah tippu’ sasa tersebut berbagai cara dilakukan tapi namanya tetap tippu’ sasa. Kalau secara harfiah bahwa tippu’ sasa berarti potong rotan.

Rotan dengan ukuran lebih kurang sepanjang dua meter diambil kemudian rotan tersebut disumpahkan. Kemudian orang yang dituduh telah melakukan kejahatan itu memotong rotan tersebut.

Jika benar-benar ia melakukan kejahatan itu maka dalam tempo satu minggu sampai tiga bulan ke depan akan sakit kemudian meninggal dunia. “Karena saat pembacaan sumpah mereka memanggil roh-roh jahat untuk membunuhnya,” katanya.

Namun untuk versi ini lain karena ada usur taek (santet) maka ritual ini dilakukan dengan cara menombak. Baginya cara tippu’ sasa dengan tombak dan parang ini yang sangat sadis ketimbang potong rotan biasa.

“Bagi orang-orang bisa ‘melihat’ alam gaib saat acara ritual itu para roh-roh gaib itu berdatangan ke kuburan tersebut untuk menyaksikan ekesekusi tersebut. Ada satu roh yang melakukan eksekusi yaitu roh yang mati akibat santet salah satu kedua belah pihak yang bersangkutan dengan cara menombak serta memenggal batang, itu makanya para sikerei (dukun) tidak mau menyaksikan acara ini karena seluruh roh jahat berbagai bentuk akan datang, karena sikerei bisa melihat mereka dan bahkan berdialog,” katanya.

Tippu’ sasa ini merupakan pengadilan terakhir dalam masyarakat Mentawai, jika sebuah masalah tidak selesai-selesai juga maka penyelesaiannya menempuh tippu’ sasa. Ini eksekusi terakhir bagi pihak yang bersengketa bila keduanya terus saling membantah.

“Ini pegadilan terakhir bagi mereka yang bermasalah dan pengadilan ini merupakan solusi atas pilihan mereka, kalau tak tuntas dengan berdialog maka pilihan terakhir adalah tippu’ sasa,” katanya.

Upacara ritual tippu’ sasa ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat Mentawai khususnya di Desa Maileppet, selama ia menjabat kepala desa baru kali ini dilakukan.

“Dulu ada tapi sekitar 15 tahun silam masalahnya adala masalah sengketa tapal batas tanah karena tidak ada solusi karena kedua belah pihak bertikai terus maka penyelesaiaannya dilakukan dengan cara tippu’ sasa dan ini kesepakatan kedua kubu yang bertikai,” katanya.

Dipilihnya Ely Saleleubaja sebagai penengah karena dia dianggap netral dan tidak berpihak. Sebab itu, dia dijuluki sipatalaga (penengah), yang juga bertugas menjaga parang dan tombak agar kedua belah pihak tidak menggunakan parang dan tombak untuk menyerang lawannya.

Sebelumnya ini juga dipertimbangkan dari suku-suku lain akan memberikan saran untuk tidak melakukan, tapi kalau bersikeras juga terpaksa dilakukan. “Nah taek adalah salah satu masalah yang sangat rumit diselesaikan karena tidak ada saksi dan pembuktian jika saling menuding tentu itu tidak ada kenyamanan bagi mereka akhirnya agar tidak masalah ini berlarut-larut maka solusinya adalah melakukan sumpah seperti yang dilakukan tadi,” terang Besman.

Kasus penyelesaian dengan cara tippu’ sasa ini sebenarnya tidak hanya masalah santet, pencurian serta perebutan tapal batas tanah yang tidak ada saksi.

“Mereka akan mati kalau benar-benar mereka lakukan musibah yang mendatangi mereka itu bisa tenggelam, bisa sakit-sakitan dan bisa juga sakit mendadak karena roh gaib yang melakukan eksekusi itu,” tambah Besman.

Namun setelah 3 bulan berlalu  ritual tippu’ sasa berlalu, tidak ada yang meninggal bahkan sakit. Warga menilai bahwa isu santet ternyata tidak terbukti. Mereka akhirnya berdamai dan mengadakan pesta besar-besaran selama dua hari, serta melakukan perbaikan kampung (paeruk). Mereka percaya, usai tippu’ sasa dilakukan, roh-roh jahat masih bergentayangan guna menyelidiki siapa sebenarnya yang salah.

Hingga sekarang warga Mentawai masih percaya dengan ritual tippu’ sasa. 15 tahun silam cara tippu’ sasa juga pernah ditempuh untuk menyelesaikan sengketa antara warga yang memperebutan tapal batas tanah. Usai ritual itu, salah seorang pelaku ritual bernama Taget (59) menjadi korban yang mati.

Hingga saat ini ritual tippu’ sasa sangat sakral bagi masyarakat Mentawai. Sebab itu dalam menyelesaikan masalah, tippu’ sasa tabu untuk diucapkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s