Delman Monas Sejarahmu Kini

WISNU WIDIANTORO [ kompas.com Jumat, 15 Mei 2009 | 01:37 WIB ]  Sore itu matahari mulai condong ke ufuk barat Kota Jakarta, dan terlihat seorang dari dua pria penarik bendi bertampang kusut berlindung di bawah pohon yang bunganya mirip sakura tapi berwarna kuning.

Pemuda itu menatap kosong kuda penarik kereta yang sedang lahap menghabiskan sisa-sisa potongan rumput basah bercampur dedak dari wadah ember plastik di taman pintu masuk selatan Monumen Nasional (Monas).

Entah apa yang ada dalam benaknya, yang jelas riuh dan kegaduhan koalisi parta-partai politik jelang pemilu presiden tidak terpikir olehnya.

Apalagi kasus cinta segitiga yang berunjung pada pembunuhan dan menyeret orang yang paling ditakuti para koruptor di negeri ini tidak tergambar dari raut wajah pria berkulit hitam manis itu.

Mungkin yang ada di benak pemuda yang memiliki nama lengkap Iwan Syahputra, (35) itu, enaknya jika menjadi seekor kuda. Karena tidak perlu bersusah payah berusaha namun pasti mendapat makan dari tuannya.

Sebab, kata dia, dalam dua tahun terakhir dunia seakan tak bersahabat lagi, karena ia dan puluhan rekan-rekan penarik bendi dilarang masuk mencari sewa di kawasan Monas oleh satuan polisi pamong praja di pintu masuk.

Walhasil hari demi hari pendapatan dari bendi yang telah ditekuni sejak usia 11 tahun tak menjanjikan lagi, terutama setelah dilarang mengais rezeki di dalam Monas. “Sebelum dilarang masuk kita bisa dapet Rp300 ribu per hari, tapi sekarang seperti jam tiga sore begini belum ada satupun sewa,” ujar dia.

Konon kabarnya kotoran hewan yang sanggup berlari dengan kecepatan 60 km per jam itu menganggu penciuman para pengunjung dan warga yang berolahraga di objek wisata yang dibangun pada tahun 1961 itu.

Pengelola monumen yang memiliki puncak ketinggian 115 meter ditambah 14 meter tugu perunggu berlapis emas 50 kg dan merupakan objek wisata paling diminati pengunjung itu, melarang bendi masuk dan mencari rezeki di dalam kawasan Monas.

Posisi bendi pun digantikan oleh kereta wisata gratis atau mobil gandeng berkapasitas 36 orang yang disediakan Pemerintah DKI Jakarta mengitari taman tugu  yang memiliki total luas 80 hektare, dan 12 hektare diantaranya diokupasi menjadi Stasiun Kereta Api Gambir.

“Sampai hari ini nasib kami tidak jelas, padahal larangan beroperasi delman juga tidak ada dari pemerintah DKI Jakarta,” kata Iwan yang telah berkeluarga dengan dua orang anak dan seorang isteri serta tinggal di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Secara tidak langsung pemerintah DKI Jakarta sengaja menggusur keberadaan bendi yang sejak tahun 1992 telah beroperasi dan menjadi salah satu pilihan pengunjung Monas yang pada akhir pekan mencapai 6.000 orang per hari.

Berbagai upaya telah dilakukan para penarik bendi termasuk berdemonstrasi ke Kantor Walikota Jakarta Pusat menuntut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengizinkan bendi kembali beroperasi di kawasan objek wisata itu.

Tuntutan itu sekaligus menagih janji sang gubernur ibukota ketika berkampanye yang menyatakan berpihak pada rakyat kecil. Tapi, upaya itu sia-sia.

Kini mereka hanya beroperasi dengan mengitari luar pagar kawasan Monas dengan tarif Rp50 ribu untuk sekali jalan dengan daya angkut empat orang dewasa.

Bendi pun mati perlahan, karena jumlah penarik kereta kuda yang hanya beroperasi pada Sabtu-Minggu terus berkurang menjadi sekitar 30 bendi dari sebelumnya 50 bendi.

“Dulu jumlah bendi mertua saya aja ada empat, tetapi sejak dilarang masuk Monas berkurang jadi tinggal dua,” ujar Armasyah, (24) yang telah dua tahun menekuni profesi itu untuk menghidupi isteri dan seorang anaknya.

Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya yang semakin hari semakin mencekik leher karena perlahan harga kebutuhan pokok meroket, dia pun terpaksa “ngamen” di sekitar kawasan Stasiun Kereta Juanda.

Ngamen istilah untuk penarik bendi yang dikhususkan bagi anak-anak yang ingin keliling naik kereta kuda dengan bayaran Rp1.000 per orang. “Hasil dari ’ngamen’ Rp50 ribu per hari dan untuk saat ini sangat terbatas menafkahi keluarga dan perawatan kuda. Tapi mau bagaimana lagi, cari kerjaan lain susah,” kata pemuda yang hanya tamat SMA itu.

Penarik bendi merupakan salah satu komunitas kecil dari sekian banyak cerita ibukota Jakarta yang kini keberadaannya mulai terancam punah.

Jika suatu saat nanti bendi hilang, maka jangan salahkan penarik dan pemiliknya karena telah berusaha melestarikan kereta kuda sebagai salah satu warisan budaya di Jakarta namun dipandang sebelah mata oleh “penguasa” yang bersifat sementara. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s