Batik Khas Purbalingga Kian Tergerus

IGN SAWABI [ kompas.com Senin, 11 Mei 2009 | 19:31 WIB ] PURBALINGGA, -Meskipun memiliki sekitar 240 perajin batik, pengembangan batik khas Purbalingga seakan jalan di tempat. Selain keterbatasan peralatan produksi, umumnya perajin batik khas Purbalingga hanya menjadikan pembuatan batik sebagai usaha sambilan.

Pembuatan batik Purbalingga tersebar di tiga kecamatan, yakni Bojongsari, Bobotsari, dan Karangmoncol. Namun, kondisi kerajinan batik di sentra-sentra tersebut seakan mati segan hidup tak mau. Semuanya mengandalkan pasar lokal yang kian lama kian tergerus modernitas dan persaingan pasar bebas.

Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Senin (11/5), mengungkapkan, para perajin batik khas Purbalingga selama ini hanya menjadikan usaha pembuatan batik sebagai usaha sambilan. Belum ad a upaya menjadikan kerajinan tradisional ini sebagai lahan mata pencaharian yang profesional dan maju.

Akibatnya, tak ada upaya pengembangan pasar dan peningkatan kemampuan produksi. Pasarnya pun hanya pasar lokal, kata dia.

Masalah berikutnya adalah minimnya ketersediaan peralatan penunjang bagi pembuatan batik. Hampir semua perajin batik khas Purbalingga tak memiliki peralatan pembabaran (proses pelunturan lilin pada corak batik) dan pewarnaan. Untuk mewarnai, mereka harus pergi ke pusat industri b atik di Sokaraja, Banyumas.

Produksi batik pun tak efisien. Ini semua karena para perajin hanya menganggap usaha batik hanya sebagai sambilan sehingga mereka kurang serius dalam peningkatan kemampuan teknologi peralatan, kata dia.

Agus (49), perajin b atik dari Desa Limbangan, Kecamatan Bobotsari, mengakui hal tersebut. Rata-rata, perajin batik di sana mempunyai pekerjaan utama di luar batik seperti berdagang, bertani, atau, pegawai negeri sipil. Usaha batik khas Purbalingga sekadar melanjutkan usaha d ari nenek moyang mereka.

Untuk menggantungkan pada usaha batik sangat sulit. Pasarnya terbatas, ungkap Agus.

Motif-motif batik khas Purbalingga yang masih sering diproduksi di antaranya lumbon, petean, jahe srimpang, kukel, dan parantritis. Umumnya, motif-motif tersbeut didominasi warna cokelat dan hitam. Untuk corak, kebanyakan berupa tumbuh-tumbuhan.

Mukodam menambahkan, terkait dengan keterpurukan batik Khas Purbalingga itu, Pemkab Purbalingga akan merevitalisasi kerajinan batik khas Purbalingga. Selain akan memberikan bantuan pengadaan perala tan membatik, terutama pewarnaan dan pembabaran, Pemkab Purbalingga juga akan mencarikan pangsa pasar di luar seperti Cirebon, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. (HAN)

Satu pemikiran pada “Batik Khas Purbalingga Kian Tergerus

  1. Suprapto berkata:

    kanggone wong sing asale Bobotsari Purbalingga kaya inyong mung bisa berharap lan berdoa moga-moga batik Purbalingga bisa tampil maning seora-orane neng kotane dewek PURBALINGGA inyong mendukung banget. Kagem Pemda Purbalingga mongga sesarengan nguri-uri budaya asal Purbalingga kawulo sanget mendukung. Mangke titi wancine dateng kito sareng-sareng berjuang untuk kemajuan kota Purbalingga lan sekitare. Maju teruus Pemda PBG kami dibelakang Pemda Purbalingga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s