Wayang Golek Betawi Kurang Diperhatikan

Jodhi Yudono [ kompas.com Kamis, 14 Mei 2009 | 01:37 WIB ]  JAKARTA, –Wayang golek Betawi, yang menjadi aset budaya, kini kurang memperoleh perhatian dari Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta.  “Gabungan lenong Betawi dan wayang golek ini tidak pernah memperoleh dukungan dana dari Pemprov DKI untuk pengembangan,” kata Tizar Purbaya, seniman dan pencipta wayang golek Betawi itu, di Jakarta, Selasa.

Tizar yang lebih dari 30 tahun menggeluti seni pewayangan itu menginginkan agar dukungan tidak berupa dana saja namun lebih kepada pelestarian wayang golek Betawi.

“Pemerintah seharusnya ikut melestarikan kebudayaan asli Indonesia,” kata dalang wayang golek Betawi itu. “Jangan kalau sudah mau punah baru pada ribut,” tambahnya.

Menurut pria berdarah Betawi itu, hanya kesenian tertentu seperti tari kreasi baru saja yang diberi kesempatan untuk berkembang, terutama untuk pentas ke luar negeri.

Pementasan wayang golek Betawi, kata dia, selalu menggunakan biaya sendiri, kecuali diundang oleh pihak penyelenggara.

“Itu pun kelompok kami masih “kerja bakti” untuk menutup kekurangan biaya transportasi dan akomodasi,” kata Tizar yang menjadi ketua kelompok wayang golek Betawi itu.

“Seharusnya Pemprov DKI peka terhadap usaha kami untuk  mengenalkan budaya Betawi kepada masyarakat luas melalui wayang,” kata Tizar yang pernah pentas di Jepang, Belanda dan beberapa negara di Eropa lainnya.

Ia berharap pemerintah melalui Dinas Pariwisata tidak berpaling dari putra-putra Betawi yang kreatif dan selalu membawa citra baik budaya Betawi.

Menurut Tizar yang mempunyai 7000 lebih koleksi wayang golek itu, wayang Betawi yang dia ciptakan lebih berkarakter bila dibandingkan dengan golek sejenis.

Dia pun menambahkan berbagai trik agar wayang Betawi terkesan lebih hidup. Misalnya karakter Haji Manong yang bisa merokok dan mengeluarkan asap, lalu karakter orang Kompeni yang mengeluarkan darah saat kena senjata tajam, dan masih banyak lagi. “Pokoknya berbeda dengan golek lainnya,” kata Tizar.

Cerita yang ia bawakan, kata Tizar, tidak berasal dari kisah Ramayana atau Mahabharata namun berasal dari legenda-legenda asli Betawi, seperti Si Jampang, Si Pitung, Si Manis Jembatan Ancol yang lebih dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Satu pemikiran pada “Wayang Golek Betawi Kurang Diperhatikan

  1. wah bahaya nih kl topeng betawi ilang dan lenong jg ilang ntar kalo ada hut jakarta alias pekan raya jakarta banyak yg nanya ~ mane nih topeng ame lenong kok kaga ade jd ga seru deh~ anak cucu kite ama orang asing jg kaga tau lg deh ame topeng n lenong… jangan2 ntar ondel ondel jg punah. wahai para pejabat yang megang pemerintahan di betawi alias jakarta ibu kota negara republik indonesia tolong dong pratiin kebudayaan ini kasih dana buat pelestariannye.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s