” Apa Beda Ponari, Dokter, dan Dukun Lain? “

[koran-jakarta.com Sabtu, 14 Februari 2009 00:50 WIB ] Mohammad Ponari, 10 tahun, siswa kelas tiga SDN Balongsari, Jombang, Jawa Timur, dikenal sebagai dukun cilik. Pasiennya mencapai 40 ribu orang. Mereka antre sepanjang satu kilometer. Ada sekitar 900 petugas yang mengamankan, terdiri dari polisi, tentara, satuan polisi pamong praja, serta warga sekitar.

Mohammad Ponari, 10 tahun, siswa kelas tiga SDN Balongsari, Jombang, Jawa Timur, dikenal sebagai dukun cilik. Pasiennya mencapai 40 ribu orang. Mereka antre sepanjang satu kilometer. Ada sekitar 900 petugas yang mengamankan, terdiri dari polisi, tentara, satuan polisi pamong praja, serta warga sekitar.

Ada desak-mendesak. Meskipun sudah memakai sistem kupon, ada tembok tetangga yang rubuh karenanya. Pasien datang dari berbagai asal, mulai dari Jakarta, Malang, Sidoarjo, seantero Jawa, bahkan luar pulau. Ada empat orang meninggal karena desak-desakan, karena sudah uzur, bukan karena salah pengobatan. Dan serta-merta, dukun cilik menghentikan praktik, atas kemauannya sendiri—setidaknya melalui juru bicara, yang tak lain adalah keluarga.

Tidak berarti tetamu pergi begitu saja. Masih banyak yang menunggu, masih banyak yang berharap kesembuhan terjadi. Biasanya Ponari menyembuhkan melalui air yang dibawa pasien yang kemudian dicelupi batu ajaib, dan tentu dengan pengantar doa. Agar cepat, dalam melakukan praktik, Ponari digendong berkeliling. Kini, Ponari yang kelelahan berhenti.

Menurut wawancara radio dengan pihak keluarga dan pejabat di Jombang, Ponari ingin kembali ke sekolah. Itulah dunianya seebelum mendadak menjadi penyembuh– berawal dari penyembuhan pada anggota keluarga. Boleh dikatakan, selalu begitu proses seorang dukun.

Berita kesembuhan menyebar dengan cepat, menggerakkan mereka yang sedang sakit. Menuju desa kecil—bukan daerah kecamatan, untuk menemukan “keajaiban”. Pastilah sebagian besar, atau sebagian kecil, menemukan jawaban yang dicari. Kalau tidak begitu, tak nanti akan sebanyak itu berkumpul bersama.

Kadang saya berpikir bahwa kegiatan yang terjadi pastilah heboh, menjadi peristiwa yang menyenangkan. Si sakit menjadi sembuh. Para pedagang makanan menjadi supersibuk. Bahkan tukang parkir amatir—karena desa itu sebelumnya tak memerlukan—bisa menjadi mahir. Kegiatan ekonomi bergerak dengan tinggi—sesuatu yang sebelumnya tak terjadi.

Kadang saya juga bertanya-tanya, kenapa Ponari menjadi magnet yang menyedot perhatian begitu luar biasa—juga di zaman serbamodern. Banyak jawaban yang masuk akal, banyak juga yang tak masuk akal.

Satu hal bisa sependapat: anak kecil yang bisa demam dan masih menginginkan tas sekolah baru itu memberi jawaban atas sejumlah kebutuhan. Bahwa untuk sebagian masyarakat, berobat masih sesuatu yang mewah, mahal, dan membuat makin miskin.

Sementara Ponari menghilangkan batas-batas hambatan itu. Menurut cerita, hanya dengan seribu rupiah pun bisa “mendaftar”. Atau berdasarkan suka rela. Ini yang tak bisa dilakukan oleh dokter, oleh rumah sakit, atau bahkan Puskesmas sekalipun.

Pasien tak dibedakan dengan kartu asuransi kesehatan atau tidak. Semua diterima. Artinya, ini sebenarnya jawaban, kalau saja pemerintah, atau pemerintah daerah, atau dermawan ada yang melakukan pengobatan gratis terus-menerus—atau seribu rupiahan, pasti juga akan diserbu pasien. Pasien yang adalah masyarakat kecil yang menjadi lebih miskin ketika menderita sakit.

Hal kedua, terbedakan Ponari dengan beberapa “dukun tiban” yang sekarang hadir di mana-mana. Dukun tiban adalah sebutan untuk dukun yang datang ke suatu tempat dengan tiba-tiba, diwartakan bisa menyembuhkan apa saja, sekaligus menjual ramuan atau obat penangkal.

Rombongan dukun tiban ini mendadak muncul, juga mendadak pergi. Tanpa rekam jejak yang jelas, siapa yang disembuhkan—orang-orangnya sendiri yang menyamar dan menyebar berita. Ponari dikenali identitasnya oleh masyarakat setempat, diketahui sekolah di mana, dikenali kakeknya yang bernama Mat Kasim, dan berpraktik di kediamannya selama tiga pekan.

Tidak kemudian menghilang, tidak juga menjual “obat ajaib” yang mahal, yang saking ajaibnya tak bisa dibeli di tempat lain. Dalam kenyataannya, Ponari menyembuhkan melalui air yang disediakan sendiri oleh pasien atau pengunjung.

Dari proses awal, Ponari tidak hadir—atau dihadirkan dengan kesengajaan untuk memerdaya orang lain. Juga bukan bertabrakan dengan logika—misalnya uang diberi bunga nanti akan bertambah banyak, atau menyimpan rupiah berubah menjadi dollar. Saya tidak mengatakan kalau dukun cilik ini tokcer sebagai sang penyembuh—kalau terkena sugesti dan tersembuhkan, apa salahnya—melainkan meletakkan posisi yang berbeda dengan dukun tiban atau dadakan yang lain.

Maka, ketika praktik pengobatan dihentikan—atas kemauan sendiri atau tekanan—yang tetap menganga adalah pertanyaan: akankah ada dokter yang biasa-biasa, atau tenaga medis yang menggantikan? Minimal memberi pengobatan bagi yang sangat membutuhkan namun tidak mampu?

Kalau tidak, Ponari sebagai jawaban masih akan terus bermunculan. Kalau tak ada Ponari, jawaban itu berupa dukun tiban dan atau reg spasi sembuh-kaya-jodoh-nasib, dan sejenisnya. Dan si sakit akan semakin menderita karenanya.  ( Arswendo Atmowiloto )

2 pemikiran pada “” Apa Beda Ponari, Dokter, dan Dukun Lain? “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s