Sabut untuk Kabin Pesawat

[ korantempo.com Edisi 31 Mei 2009  ]Lima mahasiswa ITB yang berpotensi mengembangkan industri dirgantara nasional. Kecelakaan Hercules TNI Angkatan Udara di Madiun, Jawa Timur, 20 Mei lalu, juga membuat lima mahasiswa Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Tim Rajawali berduka. Apalagi karena satu dari mereka adalah prajurit yang sedang disekolahkan TNI AU.

Tim Rajawali adalah satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang Fly Your Ideas, kompetisi inovasi di bidang kedirgantaraan, yang diselenggarakan Airbus. Mereka masuk dalam 86 tim yang lolos tahap kedua dari 225 tim tahap pertama dari 82 negara di dunia.

Ide ikut kompetisi ini berawal dari Stepen, 21 tahun, mahasiswa Sub-Jurusan Aerodinamika. Dia mengompori teman-temannya–Maralus Simbolon, 21 tahun, Helvina Corazon Aquino (22), Elingselasri (21)–serta Devi Hughes Ardiansyah (25), prajurit TNI AU.

“Pemilihan anggota tim ini berdasarkan keakraban saja,” kata Stepen, yang keraguannya berkuliah pada tahun pertama pupus setelah tahu bahwa dosennya adalah anggota tim perancang pesawat F-16 yang melegenda itu. Maralus Simbolon, yang disapa Alus, didaulat jadi ketua tim dadakan itu.

Seminggu menjelang kompetisi ditutup, proposal baru dikirim. “Kami mengerjakannya terhitung tidak serius,” ujar Alus. “Waktu itu nothing to lose saja,” kata Icha, panggilan akrab Helvines. Tapi, ketika lolos tahap pertama, mereka jadi bersemangat.

Proposal mereka adalah tentang sabut kelapa untuk menggantikan material peredam suara glass wool (sejenis serat kaca), yang umumnya digunakan pada kabin pesawat. Keun

Kompetisi ini memang mencari ide kreatif untuk mengurangi kerusakan lingkungan di industri dirgantara. Selama ini bahan peredam suara tidak ramah lingkungan. Padahal porsinya cukup besar. Ketika pesawat tak dipakai lagi, bahan ini tak bisa diolah, dibiarkan begitu saja.

Mengapa sabut kelapa? “Ide kami adalah menggunakan sesuatu yang kita surplus,” kata Alus. Sebulan lamanya mereka berkutat dengan sabut yang dibeli dari pasar. Mengguntingnya kecil-kecil dan mencampurnya dengan perekat sebelum masuk pada pelat cetak untuk dibakar.

Pelat itu lalu diuji di laboratorium untuk melihat daya reduksi suaranya. Hasilnya memuaskan. Spesimen material berbahan sabut mempunyai karakteristik peredam suara hampir menyamai glass wool.

“Sementara glass wool tingkat reduksinya mencapai angka 0,95, bahkan nyaris satu, bahan yang kami buat bisa mencapai 0,9,” ujar Alus. Agar tahan api, Alus melanjutkan, sabut dilapisi phenolic, yang biasa untuk melapis glass wool.

Sayang, obsesi kelimanya menyaksikan Paris Le Bourget Air Show sembari mempresentasikan inovasi mereka di babak final lima besar buyar. Apalagi, kata Eling, ide salah satu finalis (tim Universitas Queensland, Australia) mirip kepunyaan mereka.

Namun, mereka tak putus harapan. Mereka yakin dunia penerbangan bisa menjadi satu solusi transportasi bagi negara kepulauan ini. Eling mengatakan Indonesia, yang memiliki banyak anak muda berpotensi, bisa mengembangkan industri penerbangan.

Icha pun membenarkannya. Ia berharap suatu saat Indonesia bisa membuat sendiri seluruh komponen pesawat. “Harus ada dukungan pemerintah. Kalau bisa bikin pesawat sendiri, kita jadi lebih bergengsi karena industri besar pesawat sipil hanya sedikit di dunia,” katanya. AHMAD FIKRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s