Rianto, Menari di Depan Obama

[ kompas.com Selasa, 30 Desember 2008 | 07:24 WIB ] TIDAK ada yang tidak mungkin jika serius dan yakin dalam menjalaninya suatu hal. Setidaknya terlihat dari sosok Rianto, yang sejak SD sudah jatuh cinta dan mempelajari dunia tari. Lelaki kelahiran Banyumas 7 September 1981 telah berkeliling dunia dan menciptakan berbagai karya tari untuk ditampilkan.

Puncaknya, pada malam inagurasi pengukuhan Presiden Amerika Barack Obama di Capital Hill 20 Januari 2009, dirinya akan menjadi salah seorang warga Indonesia yang akan mempertunjukkan kebolehannya dalam menari.

Acara tersebut tidak hanya dihadiri Presiden AS terpilih Barack Obama, tetapi para duta besar dan pejabat penting Amerika. Rianto yang juga merangkap sebagai koreografer tarian yang melibatkan delapan hingga sepuluh penari.

“Saat ini tarian sedang dalam proses penggarapan. Komposisi delapan perempuan dan dua laki akan mengkombinasikan tradisi dan kontemporer,” kata Rianto ketika ditemui di kawasan Utan Kayu Jakarta, Senin (29/12).

Rencananya, Selasa(30/12) ini, Rianto akan bertolak ke Negeri Paman Sam itu. Sambil melakukan proses penggarapan, sejumlah kegitan menari juga akan diikuti di antaranya DC Award yang merupakan festival tari di Washington DC, pementasan tari di Kedutaan Besar Indonesia, dan di salah satu group tari di Amerika.

Perjalanannya untuk menjadi sekarang memang tidak berjalan mulus. Banyak hal yang harus dikorbankan termasuk perasaan akibat sering dianggap banci oleh orang-orang awam di sekitarnya dan kejelasan masa depan dari profesi menari. Padahal, orang luar negeri sangat tertarik terhadap tarian yang sudah menjadi bagian tradisi kesenian di Indonesia.

“Bagi mereka kesenian Indonesia itu unik dan klasik. Hal tersebut terlihat dari gerak, musik, tubuh Indonesia yang dianggapnya seksi,” ucapnya

Rianto mengakui, kecintaan pada dunia tari muncul sejak sekolah dasar. Setiap ada perayaan di kampungnya, sekolah dan lainnya tidak jarang dirinya ambil bagian untuk memperlihatkan kemampuannya menari. Hingga akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia memutuskan melanjutkan ke sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) di Banyumas. Keputusan ini ternyata tidak berjalan mulus, anggota keluarga dan beberapa temannya ternyata menyambut pesimis.

“Banyak teman yang mengecam khususnya mengenai masa depan mau jadi apa, bahkan ada yang bilang banci,” ucapnya.

Pelan tapi pasti, SMKI mulai memberi masa depan yang cerah. Berbagai acara kesenian rutin dia ikuti, apalagi dalam kelas tari Rianto merupakan satu-satunya lelaki. Namun, putus asa sempat menghampiri dirinya ketika kekurangan biaya sekolah dan teman-teman di lingkungan rumahnya semakin mencemoohnya.

Beruntung, gurunya segera merayunya untuk tetap bertahan, mengingat kebutuhan penari laki-laki memang masih memprihatinkan. Terlebih setelah dijanjikan akan pentas di Bali.

“Saya semakin yakin untuk membuktikan kepada teman-teman dan orang tua, saya akan sukses dengan menjalani profesi sebagai penari,” katanya sambil bersemangat.

Sepeda motor Honda C75, menjadi bukti keberhasilannya dari penghasilan yang dikumpulkan dari setiap pentas selama menjalani pendidikan di SMKI. Sayangnya, motor tersebut harus direlakan untuk dijual agar dapat melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo. Berbekal ilmu yang didapat di SMKI, Rianto mulai memperlihatkan kemampuan tari yang ada dalam dirinya.

Pertemuannya dengan para seniman tari dari berbagai daerah, menemukan karakter dalam dirinya. Tiga karakter dikolaborasikan yakni, dasar Banyumas dan Surakarta dikombinasikan dengan gaya Kontemporer. Lewat keahlian dalam menari, karakter perempuan (alusan) dan lelaki (gagahan) mampu dilakoni.

Ketika mementaskan sebuah tarian semasa kuliahnya, seorang gadis Jepang Miray Kawashima jatuh hati terhadapnya. Lelaki yang melepas masa lajangnya tahun 2003 ini, saat ini juga telah memiliki kursus tari di Jepang bernama “Dewandaru Dance Company”. Bersama istrinya, tempat kursusnya memperkenalkan seni tari Jepang dan Indonesia khususnya Jawa.

Perjalanan keliling dunia lewat menari, tidak pernah membuatnya lupa akan Indonesia. Berbagai negara seperti Inggris, Amerika, Jepang, Belgia, Jerman, atau Belanda pernah dikunjungi. Kebanggaan untuk memperkenal budaya Indonesia menjadi hal terpenting bagi Lelaki bernama lengkap Rianto Rusliman ini. Tekadnya telah bulat bahwa hidupnya akan dihabiskan dengan menari dan memperkenalkan pada banyak orang.

“Jiwa saya adalah menari, sampai kapanpun saya akan terus menari,” ucapnya sambil tersenyum.  Briko Alwiyanto

Satu pemikiran pada “Rianto, Menari di Depan Obama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s