Tamara Fielding: Menjembatani Barat dan Timur

[ merdekanews.com Minggu, 31 Mei 2009 18:14]   PENGALAMAN pertama menonton wayang kulit di perkebunan karet pada umur 8 tahun rupa-rupanya begitu membekas dalam ingatan Tamara Fielding. Cerita-cerita wayang dan kekuatan ‘magis’-nya telah mengunci kecintaan dan minat perempuan berdarah campuran Jawa-Belanda itu pada seni pedalangan.

Lahir sebagai gadis berdarah campuran Jawa-Belanda dan menapaki masa kecilnya di perkebunan karet di Cimahi, Jawa Barat.  Setelah mendekam dalam tahanan Jepang selama tiga setengah tahun pada masa Perang Dunia II, Tamara kecil dan orangtuanya harus pergi dari Indonesia, mengungsi ke negeri asal ayahnya, Belanda. Kecintaannya pada seni teater mengantarnya untuk belajar di Paris, dan ikut bermain dalam film ‘Lust for Life’ (dibintangi Kirk Douglas dan Anthony Quinn) serta ‘Trapeze’ (dibintangi Burt Lancaster). Setelah itu ia hijrah ke Amerika Serikat dan menetap di New York, menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Di Amerika, cinta Tamara pada warisan leluhur tanah kelahirannya bangkit kembali. Dia keluarkan beberapa boneka wayang kulit lusuh hadiah dari kerabatnya, dan mulai memainkannya dibimbing oleh ingatan-ingatan bagaimana sang dalang dulu bertutur dan menggerakkan boneka-boneka kulit itu. Peristiwa kecil duapuluhan tahun silam itu telah menandai lahirnya sebuah produksi teater yang dia beri nama ‘TAMARA and The Shadow Theatre of Java’.

Sejak itu pula Tamara sering tampil dalam konser-konser, gedung-gedung teater, universitas, perguruan tinggi, dan festival-festival di seluruh Amerika Serikat, Eropa dan Asia. Bahkan dia juga tampil di atas kapal pelayarannya dari Australia ke Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura.

Tak tanggung-tanggung, Tamara juga membuka workshop dan pengajaran mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga SMU di Amerika tentang kebudayaan, sejarah dan agama-agama di Asia Tenggara, serta teater wayang Indonesia. Anak-anak diajari memegang boneka wayang, cara memainkannya layaknya seorang dalang. Istilah ‘wayang kulit’ tetap dia pakai, dengan cara mengejanya ‘why-young-coo-lit’. Tamara memperkenalkan wayang kulit, teater bayang-bayang yang mengagumkan dari Indonesia, sebagai sebuah produksi multimedia yang menggabungkan elemen-elemen kreatif dari teater boneka, musik, mitologi dan seni bertutur (storytelling) orang Jawa. Wayang menjadi kurikulum pendidikan sekolah di Amerika Serikat.

Bulan Agustus 1999 tak mungkin terlupakan bagi Tamara. Saat itu ia berkesempatan ‘pulang ke rumah’ untuk berceramah sekaligus tampil mendalang selama 1 jam dengan gayanya, pada acara Pekan Wayang Indonesia VII. Tampil bersama dalang-dalang ternama negeri kelahirannya merupakan hal yang sangat menggetarkan hatinya. “Kesempatan itu telah mengubah saya dari perasaan seperti seekor kupu-kupu kecil di antara kupu-kupu yang sangat besar, tumbuh menjadi seperti seekor kupu-kupu ‘atlas vlinder’ yang begitu besar dengan sayap bergambar seperti peta tua!” kesannya.

Entahlah, mengapa perempuan berumur yang punya hobi berlayar serta ngebut dengan mobil corvet antik-nya itu serius menjejakkan kakinya di dunia wayang. Namun yang jelas Tamara benar-benar menyadari panggilannya, “Sebagai seorang wanita saya tidak sedang membuktikan kalau bisa melakukan apa yang dikerjakan kaum lelaki. Sama sekali tidak. Namun sebagai seorang Indo, sebagian Belanda sebagian Indonesia, adalah sesuatu yang istimewa, saya bisa menjadi jembatan antara Timur dan Barat. Dan itu penting bagi saya.” Tak heran bila namanya lebih berkibar di luar negeri daripada di Indonesia, sebagai dalang wanita pertama yang berjuang untuk seni tradisional Jawa di dunia Barat modern.

Decak kagum dan angkat topi pantas diterima oleh Tamara Fielding. Namun bagi kita yang berada di Tanah Air tercinta dan menghirup atmosfer kebudayaan tradisional di tempat kita masing-masing, figur seperti Tamara mesti menjadi pelecut untuk upaya-upaya pelestarian warisan seni budaya sendiri. Di tanah rantau, saudara-saudara kita mampu melihat warisan budaya leluhur sebagai kemilau mutiara yang begitu indah, mempesona dan menggugah untuk dirawat bahkan diperkenalkan kepada bangsa lain. Bagaimana dengan kita sendiri? [skd/dari berbagai sumber]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s