Denni, Menciptakan Makanan Khas Batam

[ kompas.com Selasa, 2 Juni 2009 | 04:05 WIB ]   Dalam dua setengah tahun, bisnis Denni Delyandri (28) berkembang pesat. Saat ini, ia sudah memiliki empat gerai untuk menjual kue pisang atau kek (cake) pisang. Kini, ia dan istrinya, Selvi Nurlia (28), bersama para pekerja mampu memproduksi 600 loyang kue pisang dengan omzet penjualan rata-rata Rp 20 juta per hari. Beberapa penghargaan diraihnya. Salah satunya adalah juara III tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri. Ferry Santoso

Denni sebenarnya bukan seorang koki atau pembuat kue. Latar belakang pendidikannya sarjana teknik elektro. Sejak tahun 2003, ia bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan elektronik di Batam dengan gaji pokok sekitar Rp 1,2 juta per bulan.

Akan tetapi, kerisauan dan ketidakpuasan menjadi seorang karyawan membuat dirinya mampu mengubah pola pikir. ”Setelah lulus kuliah, saya bekerja di pabrik dengan sistem shift. Saya berpikir, kok cuma begini-begini saja,” katanya.

Bekerja shift dengan penghasilan yang tidak terlalu besar sering kali membuat pekerja bosan. Ia pun mulai berpikir untuk bisa berusaha untuk menambah penghasilan. Di tengah kesibukan sebagai karyawan, akhir 2004, Denni menjual kerupuk udang yang diambil dari orang lain.

”Waktu berangkat kerja, saya titip saja di warung-warung di sekitar pabrik di Mukakuning. Setelah pulang kerja, saya ambil uangnya,” kata Denni. Penghasilan penjualan kerupuk udang pun lumayan, yaitu sekitar Rp 800.000 per bulan atau lebih dari separuh dari gaji pokok.

Namun, pekerjaan sambilan itu hanya dilakukan sekitar empat bulan. Kesibukan di pabrik dengan kerja shift tidak lagi dapat memberi peluang untuk bisnis sambilan. Sementara itu, istrinya pun sedang mengandung.

Denni kemudian mencoba berjualan kue onde-onde yang juga diambil dari orang lain. Pekerjaan sambilan itu pun hanya dilakukan beberapa bulan.

Akhir 2005, keinginan untuk berwiraswasta mulai dirintis lagi. Dengan uang pinjaman dari koperasi karyawan sebesar Rp 10 juta, ia memulai usaha rumah makan padang. Namun, bisnis rumah makan yang dibuka di depan rumah hanya berlangsung dua bulan.

”Strateginya salah. Di situ sudah ada dua rumah makan, tetapi saya buat di situ lagi,” kata Denny. Tambahan modal untuk menyuntik usaha pun tidak ada lagi. Akhirnya, aset rumah makan dijual senilai Rp 5 juta kepada rekannya.

Baca buku

Jatuh bangun untuk memulai usaha tidak membuat dirinya patah arang. Apa yang mendorong Denni untuk terus-menerus berusaha dan memulai sesuatu yang baru?

Menurut Denni, dia membaca buku Rich Dad and Poor Dad karangan Robert T Kiyosaki. Buku yang spektakuler itu memberikan inspirasi bagi dia.

Pesan yang diambil dalam buku itu adalah bahwa seseorang harus berpikiran positif, berani menempuh suatu perjalanan yang baru, dan selalu berani menangkap peluang. Itulah yang memotivasi dan membuat Denni mampu bertahan dalam jatuh dan bangun lagi untuk memulai suatu usaha.

Setelah gagal berbisnis rumah makan padang, ia memulai lagi usaha event organizer (EO) pada April 2006. Pada mulanya, bisnis itu memang cukup menguntungkan. Pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan elektronik pun ditinggalkan pada Juli 2006.

Bisnis itu terus digeluti. ”Saya pernah mendapat keuntungan Rp 10 juta-Rp 15 juta dalam satu event,” katanya.

Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, mencari sponsor pun tidak semudah yang dibayangkan. Kelelahan untuk mencari sponsor membuat pekerjaan sebagai EO pun ditinggalkan pada September 2006.

Denni pulang ke kampung halaman di Padang saat Lebaran tahun 2006. Setelah pulang kampung, ia kembali ke Batam dan mencoba bisnis kue pisang. Kue pisang itu dibuat oleh istrinya, Selvi. Pada mulanya, kue-kue pisang yang dibuat hanya ditawarkan kepada tetangga.

Dengan berbagai buku manajemen dan marketing yang ”dilahapnya”, termasuk kemampuan menangkap peluang, Denni mulai menjalankan pemasaran kue pisang.

Kue pisang difoto dan ditawarkan kepada teman-teman untuk dijual dengan imbalan Rp 3.000 dari harga kue Rp 15.000 per potong. Dengan berbekal foto-foto itu, teman-temannya menawarkan kue ke pabrik-pabrik.

Suatu saat, ia pun mendapat pesanan kue pisang sebanyak 40 potong. Pesanan yang cukup mengagetkan itu membuat Denni dan istri kewalahan memenuhinya.

”Oven untuk membuat kue di rumah terlalu kecil. Jadi, saya dan istri harus bergadang sampai pagi untuk membuat kue dan memenuhi pesanan itu. Rumah pun sudah seperti kapal pecah,” kata Denni. Saat itu, dia tinggal di Perumahan Villa Mukakuning.

Setelah berjalan dua minggu sejak pesanan kue sebanyak 40 potong itu, ia pun membeli oven yang lebih besar seharga Rp 3,5 juta dengan cara pembayaran dicicil.

Usaha kue pisang yang dijalankannya terus berkembang. Pesanan juga terus bertambah. Awal 2007, pesanan kue pisang sudah mencapai 100-150 loyang per hari.

Untuk memperluas usaha, ia pun mencoba mencari kredit dari bank. Pinjaman sebesar Rp 40 juta diperoleh dari Bank Danamon yang digunakan untuk menyewa rumah toko (ruko) di Mukakuning.

Pada suatu waktu, ada pembeli yang ingin membeli kue pisang untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Saat itulah Denni mulai berpikir bahwa kue pisang yang dibuatnya dapat menjadi oleh-oleh dari Batam sebagai makanan khas. Apalagi, Batam belum memiliki makanan yang khas.

Dengan keberaniannya, ia pun memasang iklan billboard. Melalui iklan itu, ia berani mengklaim atau menjadikan kue pisang sebagai makanan khas Batam.

Slogan yang dibuat untuk produk yang dijual Denni adalah ”Batam, ya kek pisang Villa”. Istilah ”Villa” berasal dari nama tempat ia membuat kek pisang, yaitu Perumahan Villa Mukakuning, Batam.

Dengan slogan dan strategi pemasaran, Denny pun telah menciptakan produk dan merek tersendiri. Hak paten merek itu juga sudah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual.

38 karyawan

Masyarakat pun, baik penduduk Batam, pendatang, maupun para turis, semakin ingin mengetahui kue pisang buatan Denni. Untuk menarik turis ke gerai-gerai kek pisang, Denni pun bekerja sama dengan perusahaan atau agen perjalanan wisata. Dengan cara itu, bisnis kue pisang pun semakin berkembang. Kini di Batam Center sudah ada dua ruko yang menjual kue pisang buatan Denni.

Pertengahan 2008, Denni mendapat kredit lagi sebesar Rp 500 juta dari Bank Bukopin untuk memperluas usaha. Uang itu digunakan untuk menyewa ruko, outlet, dan membeli peralatan produksi. Kini, dia sudah memiliki empat gerai. ”Saya mau tambah satu outlet lagi di bandara sehingga nanti menjadi lima outlet,” katanya.

Perkembangan gerai-gerai itu tentu disambut positif oleh Pemerintah Kota Batam. Apalagi, Pemkot Batam sedang gencar-gencarnya mencanangkan ”Visit Batam 2010”.

Dengan outlet-outlet ”makanan khas” Batam diharapkan para turis atau pendatang yang datang ke Batam dapat menemukan oleh-oleh untuk dibawa pulang, yaitu ”Kek Pisang Villa”.

Usaha mandiri kek pisang itu juga mendapat respons positif dan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kepulauan Riau.

Terakhir, ia mendapat penghargaan sebagai juara III tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri yang diberikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Denni yang dulu menjadi karyawan perusahaan elektronik itu kini tumbuh sebagai usahawan muda yang mempekerjakan 38 orang.

2 pemikiran pada “Denni, Menciptakan Makanan Khas Batam

  1. Artikel yang sangat menginspirasi saya….saya Salut atas ketekunan dan keluletan Pak Deni, Sangat perlu dicontoh karena pak deni pasti punya jejak-jejak sukses, pasti pak Deni punya pola-pola dan kebiasaan sukses…sekarang tinggal kitanya saja…mau apa tidak?mau saja tidak cukup..tapi perlu take action….ayo take action sekarang juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s