Dari Dongeng Menuju Bali

[ kompas.com Rabu, 27 Mei 2009 | 03:08 WIB ]   Apa bedanya penjual obat dan guru? Perbedaannya hanya terletak pada niat dan tujuan akhirnya. Namun kedua profesi ini sama-sama membutuhkan kemahiran bertutur.

Kemampuan bertutur atau mendongeng, tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat namun membutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang. Hal itulah yang membawa seorang guru TK Al-Hanief Creative School, Bekasi Aidha Zalidar Mirza berhasil meraih juara satu ’Toyota Bercerita 2009’.

Menurut perempuan kelahiran Malang 9 November 1969 ini, sejak kecil ia sering meniru kebiasaan neneknya bercerita.  Dari cerita tentang Sang Kuriang hingga Timun Mas yang diperoleh dari neneknya, ia ceritakan kembali ke teman-teman sebayanya.

Dengan dasar kemampuan bercerita itu, Aidha yang juga senang berpura-pura sebagai guru pada saat ’main sekolah-sekolahan’ dengan teman-temannya waktu kecil dulu, bercita-cita menjadi guru atau dosen.

“Alhamdulillah, dua profesi itu sudah saya jalani setelah lulus dari IKIP Negeri Malang tahun 1994 lalu,” katanya.

Menjadi dosen honor, guru SMA, guru SD sudah dijalani, namun akhirnya anak kedua dari lima bersaudara ini menjatuhkan pilihan terakhirnya sebagai guru TK yang selalu berhadapan dengan anak-anak usia bawah lima tahun (balita).

Menghadapi anak-anak yang memiliki seribu macam pola laku, menjadi tantangan tersendiri bagi Aidha. Selain itu, ia merasa terhibur dan memiliki kepuasan yang tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata jika berada di tengah-tengah anak didiknya.

“Saya pernah dikaruniai delapan orang anak, namun Allah SWT memanggilnya kembali,” katanya dengan suara lirih.

Karena itu, dengan mencurahkan perhatian dan waktunya bagi anak-anak di TK Al-Hanief, anak dari pasangan H Moh Ichwan dan Esti Mahbubah ini, separuh hidupnya yang hilang bersama ’kepergian’ anak-anaknya dapat terobati.

Ketika mengetahui ada kompetisi mendongeng (story telling) yang diadakan PT Toyota-Astra Motor, Aidha memberanikan diri masuk dalam 660 orang pendaftar pada awal Mei 2009.

“Saya tidak menduga kalau bisa lolos seleksi dan masuk sebagai salah satu dari 250 orang peserta yang mendapat pelatihan mendongeng,” ujarnya.

Tidak mudah menjalani pelatihan tersebut yang salah satu trainernya adalah Raja Dongeng Kak Kusumo. Kreativitas menggunakan alat peraga dan kemampuan bertutur menjadi parameter utama untuk lolos menjadi 10 orang finalis.

Saat namanya tercantum sebagai salah satu dari 10 finalis Toyota Bercerita 2009 yang mengusung tema “Nyaman karena Sopan di Jalan”, Aidha hampir tak percaya, apalagi ketika juri mengumumkan ia sebagai juara satu dan berhak atas hadiah berwisata ke Bali bersama keluarga.

Air matanya tak terbendung lagi ketika menerima ucapan selamat dan hadiah langsung dari Presdir PT Toyota-Astra Motor Johnny Darmawan 25 Mei 2009.  Momen tersebut merupakan kebanggaan tersendiri, apalagi ketika itu ayahnya yang purnawirawan TNI diminta mendampinginya di atas panggung di salah  satu gedung di Taman Ismail Marzuki (TIM).

“Prestasi ini menjadi salah satu wujud rasa terima kasih dan pengabdian saya kepada orang tua, khususnya ibu yang menjadi penyemangat hidup saya,” ujarnya.

Ibunya yang penuh keterbatasan karena menderita tuna rungu dan tuna wicara, menjadi motivator hidup Aidha. Dia ingin membuktikan bahwa sebagai anak seorang yang penuh keterbatasan, juga mampu berprestasi melalui kemampuan bertutur.

Budaya bertutur atau mendongeng kepada anak-anak harus dilestarikan,  karena saat ini peran itu sudah diambil oleh media televisi. Sementara media televisi hanya membuat anak pasif dan menerima informasi yang belum tentu baik untuk perkembangan jiwa anak.

“Ini juga yang mendorong saya untuk melestarikan budaya mendongeng ini, karena melalui media ini anak-anak diajak lebih aktif dan ekspresif,” kata perempuan yang menyenangi warna biru.

Karena itu, ketika mengikuti lomba bercerita yang diadakan Toyota, Aidha hanya memindahkan apa yang dilakoninya sehari-hari ke dalam kontes bertutur yang intinya mengajak anak-anak untuk tertib berlalu-lintas di jalan raya.

Buah dari usahanya itu ternyata tidak sia-sia, karena akhirnya terpilih sebagai pendongeng terbaik mengalahkan 659 orang guru TK se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagai imbalannya, berwisata ke Pulau Dewata, Bali bersama keluarga yang sejak kecil diidam-idamkan pun terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s