Memulung Ikan Jatuh

WISNU WIDIANTORO [ kompas.com Minggu, 21 Juni 2009 | 06:30 WIB ]   Setengah berlari, Aniroh (34) dan Darsi (40) mendekati salah satu pengeringan ikan layang di Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke, Jakarta, Jumat (12/6). Jaring penangkap ikan mereka genggam di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang ember kecil.

Dimulainya aktivitas sejumlah pekerja di tempat pengeringan ikan milik Nandar itu membuat Aniroh dan Darsi bergegas. Dia tidak mau kehilangan kesempatan mendapatkan ikan layang yang terjatuh dari atas alas bambu saat pekerja membolak-balikkan ikan sebagai proses pengeringan ikan.

Aniroh dan Darsi mengikuti gerakan para pekerja. Jaring yang dibawa ditempelkan di bawah alas bambu. Ikan yang terjatuh boleh dimilikinya tanpa harus membeli ke Nandar sebagai pemilik ikan. Namun, pagi itu tidak satu pun ikan layang terjatuh. Dia kemudian mencari ikan yang sudah terjatuh di antara tempat-tempat pengeringan.

Sudah dua tahun lamanya Aniroh dan Darsi melakoni pekerjaan ini. Memulung ikan di Muara Angke, dari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 setiap hari. Dalam sehari, mereka bisa memperoleh setengah kilogram sampai satu kilogram ikan layang.

Ikan itu lalu dijual dengan harga Rp 5.000-Rp 10.000. ”Jika jumlahnya tidak sampai setengah kilogram, ikan saya makan sendiri dengan anak-anak,” ucap Aniroh.

Sebelum di Muara Angke, Aniroh adalah buruh tani di Brebes, Jawa Tengah. Aniroh merantau ke Muara Angke karena upah sebagai buruh tani tidak lagi mencukupi untuk menghidupi diri dan kedua anaknya, sepeninggal suaminya.

”Butuh biaya banyak untuk kedua anak saya. Anak pertama saya masih kelas VI SD, sedangkan anak kedua saya masih berusia lima tahun,” tuturnya.

Cerita yang hampir serupa diungkapkan Darsi. Dia juga buruh tani di Tangerang sebelum bekerja sebagai ”pemulung ikan”. Bermimpi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mendorongnya merantau ke Muara Angke.

”Kalau hanya bergantung pada pendapatan buruh tani Rp 5.000 per hari dan penghasilan suami yang bekerja sebagai tukang becak, tidak mungkin bisa menutup kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Dengan bekerja sebagai ”pemulung” ikan, mereka bisa menyisihkan uang Rp 50.000-Rp 100.000 setiap bulan untuk dikirimkan ke keluarga di kampung halaman.

Marsinah (60), salah seorang pekerja di tempat pengeringan ikan, juga pernah bekerja sebagai ”pemulung” ikan. Namun, nasibnya bisa dibilang lebih baik. Baru satu tahun melakoni pekerjaan memulung, ia sudah diterima bekerja di tempat pengeringan ikan.

Penghasilannya kini Rp 20.000 per hari. Separuh dari itu untuk membayar kontrakan setiap bulan dan dikirim ke keluarga di kampung. Panjang setiap kamar di kontrakan itu hanya tiga meter dan lebarnya 1,5 meter dengan dinding kontrakan terbuat dari kayu tripleks.

Di dalamnya, terdapat dua lemari kecil yang tampak tua dan satu kasur berukuran besar yang kotor. Meskipun kamar kotor dan bau, mereka tetap menyewanya dengan harga Rp 90.000 sampai Rp 100.000 per bulan. (A Ponco Anggoro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s