Menjadi TKI, Alternatif Terakhir Penari Indramayu

[ kompas.com Rabu, 1 Juli 2009 | 04:23 WIB ]   Supriyanto (27) masih ingat masa kecilnya di Desa Sliyeg, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Kabupaten Indramayu. Tinggal di desa kecil membuat pilihan menghabiskan waktu nya terbatas. Kala itu, hiburan utamanya adalah musik mendengarkan alunan tari topeng dari tape tua orang tuanya.

Saat itu, umur saya baru 10 tahun.  Alunan musik didengarkan sambil menunggu ayah pulang dari sawah dan ibu dari jualan di pasar, kata ketika ditemui sedang memulas bibirnya dengan lipstik warna merah marun sebelum tampil dalam Pertunjukan Tari Topeng di Desa Sangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, beberapa waktu yang lalu.

Akan tetapi, kesenangannya pada tari dan musik topeng sendiri baru ia wujudkan ketika ia berumur 18 tahun. Kala itu, kakak perempuannya mengajak Supriyanto belajar tari topeng di Sanggar Mulya Bhakti pimpinan Wangi Indriya.

Hal yang sama dikatakan Suratno (28). Dari sekedar melihat orang menari, ia pun tertarik berlatih di Sanggar Mulya Bhakti.

“Saya mulai menari sejak berumur 11 tahun. Hingga saat ini saya masih menari ikut dengan Ibu Wangi ke berbagai daerah. Saya tidak bosan karena saya suka menari topeng,” katanya.

Tertarik Jadi TKI

Akan tetapi, semangat dan minat menarikan topeng sebenarnya sempat pupus. Terdesak kebutuhan hidup, tawaran menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) pun ia sambar.

“Kala itu saya berpikir, sulit hidup dari sekedar menari. Saya butuh pekerjaan lain yang lebih baik,” katanya.

Tahun 2001, Suratno pun nekat pergi ke Malaysia. Di Malaysia, ia bekerja sebagai buruh bangunan. Ia dijanjikan mendapat gaji Rp 1,7 per bulan.

“Karena sibuk bekerja, praktis saya melupakan tari topeng. Lebih dari satu tahun, saya tidak menari sampa ada beberapa gerakan yang mulai lupa,” katanya.

Satu tahun bekerja, jenuh bekerja mulai menghantui nya. Jiwa seninya kembali bergolak. Ia pun teringat kostum tari topeng yang senagaja dibawa dari Indonesia. Dari sekedar iseng, menari diantara teman sesama TKI, ia lantas tampil di Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia.

Semakin sering menari, ternyata memupuskan semangat bekerja di Malaysia. Ketika kontraknya habis, ia tidak ingin meneruskan bekerja di negeri orang. Suratno pulang ke Indonesia.

“Rasa cinta dan ingin terus belajar tari topeng mengalahkan godaan penghasilan besar. Meski penghasilannya sangat timpang saya tetap melakoninya karena saya cinta topeng. Saat ini, sebulan di Indonesia paling banyak hanya dapat Rp 100.000-150.000,” katanya.

Hal serupa juga dilami Supriyanto. Ia pun mendaftar nmenjadi TKI dan bekerja di Malaysia selama lima tahun, antara tahun 2001-2006.

Selama bekerja di Malaysia, Supriyanto bekerja sebagai buruh pabrik di negara bagian Selangor. Sebulan ia mendapatkan penghasilan sekit ar Rp 2,5 juta. Akan tetapi, keinginan menari ternyata belum sepenuhnya mati. Empat tahun, ia mulai kembali menari topeng di Malaysia .

“Pertama kali pentas dalam acara kementerian kebudayaan Malaysia. Waktu itu, topeng masih dianggap sebagai tarian dari Thailand,” katanya.

Puncaknya, ketika kontraknya habis, ia memilih pulang dan bertekad terus menari. Ia berpikir, kalau bukan putra daerah Indramayu, siapa yang akan menari topeng. Ia khawatir, kalau tidak ada pewarisnya, topeng beran-benar dikenal masyarakat Malaysia sebagai tari dari Thailand.

“Jauh kalau dari sisi penghasilannya. Setengah dari sebulan kerja di Malaysia saja tidak ada kalau menari di Indonesia,” katanya.

Kantong TKI

Indramayu adalah kantong terbesar pengirim tenaga kerja di luar negeri. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Indramayu mencatat total TKI mencapai 90.000 orang dan mereka rata-rata bekerja di Arab Saudi dan Malaysia.

Hal itu berpengaruh pada sumbangan devisa bagi negara. Tahun 2008, contohnya. Dari total 52.032 transaksi dengan total uang Rp 129,552 miliar pada triwulan pertama ini, sebanyak 33.638 transaksi adalah kiriman TKI ke Indramayu. Jumlahnya yang mencapai Rp 100 miliar melebihi sumbangan sektor minyak dan gas di kabupaten itu.

Pimpinan Sanggar Mulya Bhkati, Wangi Indriya, mengatakan mayoritas kaum muda di sekitar tempat tinggalnya memang bekerja sebagai TKI. Wangi mengatakan, keinginan itu bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, hal itu berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, hal itu mematikan perkembangan seni dan budaya khas indramayu, khususnya tari topeng.

Penari yang mulai mahir memilih pergi dan melupakan pelajaran yang telah didapat sebelumnya. Benih muda topeng yang dipupuk sejak usia dini, harus musnah di tengah kebutuhan lepas dari jeratan ekonomi.

Pengamat Tari Topeng Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Toto Amshar, mengatakan keinginan menjadi TKI sangat memengaruhi regenerasi tari topeng. Keinginan memperbaiki kualitas hidup mematikan minat anak muda mempelajari topeng.

“Lebih parah ketika pulang dari tanah rantau, mereka melupakan tari topeng dan memilih organ tunggal sebagai ajang reuni dengan temannya di kampung. Kalaupun ada pementasan topeng, kesakralan topeng mulai hilang. Bau kemenyan digantikan alkohol,” katanya.

Pendidikan Sejak Dini

Untuk mengatasi keadaan ini, Wangi mengatakan, percuma bila mengandalkan pemerintah memerhatikan tari topeng. Ia lantas melirik anak-anak untuk belajar topeng sejak dini.

Biaya pembayarannya, disesuaikan dengan kemampuan orang tua. Bahkan, bagi orang tua yang tidak mampu, Wangi sengaja mengratiskannya.

“Harapannya agar mereka bisa hidup dari menari ketimbang harus pergi ke luar negeri. Saya masih yakin seseorang bisa menopang hidupnya sejahtara seseorang,” kata Wangi.

Menurut Tini, ibu dari Novi Oktaviani (11) yang sudah belajar dalam dua tahun terakhir, bila disuruh memilih, warga Desa Mekargading, Sliyeg, Indramayu ini, sebenarnya enggan anaknya menjadi TKI suatu saat nanti. Ia berharap anaknya mampu menopang hidupnya dari menari.

“Akan tetapi, bila memang kesempatan itu tidak ada di Indonesia, apa boleh buat, bekerja sebagai TKI mungkin menjadi pilihan terakhir,” katanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s